SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Sinyalemen seks bebas saat pesta tahun baru 2018, mendekati kenyataan. Hanya dengan modal Rp 1 juta – 2 juta, sudah bisa mendapatkan hiburan tarian striptis dan layanan plus-plus di room karaoke. Tempat hiburan malam di Surabaya, Malang dan Kediri disebut-sebut menyediakan layanan syahwat tersebut. Benarkah?
----------------
Laporan : Hendarwanto – Firman Rachman, Editor: Ali Mahfud
----------------
Makin dekat pesta tahun baru, tempat hiburan malam di Jawa Timur makin berani. Buktinya, Karaoke Doremi nekat menyediakan tarian striptis dan layanan plus-plus di room karaoke. Beruntung hiburan maksiat itu terendus. Dan Jumat (22/12/2017) dini hari, karaoke yang berlokasi di Lowokwaru, Kota Malang ini digerebek Unit III Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim.
Layanan plus-plus ini disinyalir tak hanya terjadi di Malang, tapi juga di kota lain di Jawa Timur. Apalagi, Karaoke Doremi ini juga buka di Surabaya. Bahkan, karaoke yang berlokasi di Kompleks Ruko RMI Ngagel Surabaya ini, juga pernah digerebek Polda Jatim, tahun 2015 silam. Pasalnya, rumah karaoke ini menyediakan perempuan pemandu karaoke (Purel) dengan tarif Rp 1,5 juta untuk dibawa kencan keluar atau booking out (BO).
Tak hanya Karaoke Doremi, penari telanjang di karaoke Inul Vizta, Kediri, juga digerebek Polda Jatim, Juli 2017 lalu. Kasus serupa juga pernah diungkap Polda Jatim di sebuah karaoke di Tulungagung. Seperti fenomena gunung es, kasus yang tak terungkap diduga masih banyak.
Informasi yang diperoleh Surabaya Pagi, penyidik menetapkan dua tersangka dalam kasus striptis dan layanan plus-plus di Karaoke Doremi, Kota Malang. Mereka adalah Aris (31) asal Cimahi, Jabar dan Nurhayati alias Ellis (40) asal Banyuwangi. Kedua orang ini bertindak sebagai mami dan papi dan memiliki belasan purel yang dipekerjakan di karaoke tersebut.
"Telah terjadi tindakan pidana mengadakan perbuatan cabul sebagaimana diatur dalam Pasal 296 KUHP dan mengamankan dua tersangka," kata Pjs Kabid Humas Polda Jatim, AKBP Eko Hengky P, di Polda Jumat (22/12) kemarin.
Ketika penggerebekan berlangsung, dipergoki dua purel yang tengah menari bugil di room langsung dihentikan. Situasi room yang saat itu lampunya temaram diiringi dentuman house music langsung dihentikan polisi. Lampu room dinyalakan petugas dan terlihat CD (celana dalam) pink, bra hitam dan baju yang dikenakan kedua purel ada di kursi.
Kedua purel itu masing-masing Siti Mariyana alias Merlyn (40), Gilang Permata Sari (27), keduanya asal Indramayu, Jabar, yang semula telanjang bulat disuruh berpakaian. Polisi saat masuk ke room yang dipakai ajang maksiat, dipergoki seorang pasangan tengah hubungan badan dan satu lagi tengah menari bugil.
Ketika penggeledahan berlangsung, petugas dipimpin langsung Kasubdit IV AKBP Rama Samtama P menemukan kondom sebanyak 4 buah dan satu sudah terpakai, dan uang Rp 2,250 juta. Disinyalir, kondom yang baru terpakai itu usai dipakai di dalam room oleh tamu dan purel. Barang bukti itu kini diamankan di Polda Jatim untuk kepentingan penyidikan.
"Saat digerebek ada pemandu lagu tengah berhubungan badan di dalam kamar karaoke dalam kondisi telanjang bulat. Makanya di lokasi kami amankan juga barang bukti BH dan celana dalam, juga ada kondomnya," ujar AKBP Rama di Mapolda Jatim, kemarin (22/12).
Menurutnya, praktik layanan asusila itu sudah berjalan sekitar satu tahun. Di rumah karaoke yang digerebek, tarif berkaraoke yaitu Rp100 ribu per jam. Jika ingin mendapatkan layanan tarian telanjang dan seksual, pelanggan diharuskan membayar Rp1,2 juta. "Itu di luar tarif karaoke," ujarnya.
Dari layanan itu, tersangka Aris menerima bagian Rp200 ribu sementara tersangka Nurhayati Rp300 ribu. Sedangkan si pemandu lagu mendapatkan Rp700 ribu. "Kami masih akan memanggil pihak manajemen karaoke untuk diperiksa dan mengetahui ada atau tidaknya keterlibatannya," terang dia.
Rekrut Purel hingga Jabar
Tarian syahwat yang disuguhkan pada pelanggan karaoke tersebut telah berlangsung sekitar setahun lalu. Hal itu terungkap, setelah penyidik Unit III Renakta memeriksa 17 purel yang bekerja di karaoke tersebut. Ke-17 purel itu semuanya pernah melakukan tarian heroik yang disuguhkan pada pelanggan yang ada.
Untuk menarik perhatian konsumen, Karaoke Doremi mendatangkan purel dari berbagai daerah. Seperti Malang, Surabaya, Jabar, dan Jateng. Untuk masuk ke karaoke tersebut, cewek harus memiliki wajah nilai 7 ke atas, karena untuk membuat betah tamu.
Bidikan terhadap Karaoke Doremi, menurut AKBP Rama Samtama sudah lama dilakukan. Informasi yang ada itu, sudah sekitar sebulan lalu masuk ke polisi dan akhirnya diselidiki untuk membuktikannya. Begitu digelar tarian striptis, polisi langsung bergerak menggerebek ajang seks tersebut.
Sayangnya, tersangka Aris dan Nurhayati saat ditanya terkait tarian telanjang dan layanan plus-plus di Karaoke Doremi, hanya menundukkan wajah. Ia enggan bicara, hanya berjalan merunduk sembari dipapah petugas untuk kembali ke ruang penyidikan.
Editor : Redaksi