“BERAS DIINTERI”

surabayapagi.com
SEBAGAI WNI adalah anugerah dan menjadi pemimpin di negeri ini merupakan keberuntungan. Negara yang alamnya membuat ngiler bangsa-bangsa di dunia dan rakyatnya memiliki keramahan yang tidak dimiliki oleh “manusia manapun”. Para komprador, eksploitator, dan koruptor yang disemai sejak adanya kolonialisme 1511 terus silih berganti disambut sepenuh hati. Penduduknya berwatak ikhlas tanpa curiga. Penjarahan dan penjajahan tetap digendong sampai ratusan tahun sebelum akhirnya Pangeran Diponegoro memanggul senjata mengobarkan Perang Jawa, 1825-1830. Hukum dicipta untuk melindungi “maling bule” dan mengecap para pejuang sebagai sang pemberontak (radikal). Zaman terus berubah mematangkan sumber daya manusia yang disadari para ulama dengan pengajaran pendidikan politik di Surabaya oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Memang, semenjak kejatuhan Andalusia dalam kelindan tragedi perang “agama” yang menyelinap dalam benak peradaban di tahun 1511, penjajahan bangsa-bangsa Eropa silih berganti menjejakkan kaki rakusnya. Tumbangnya Turki Ustmaniyah, 1924 dibarengi saat kesadaran kebangsaan di nusantara merangkak meneriakkan Sumpah Pemuda, 1928. Penjajahan yang dilakukan Belanda tampak kian menjadi tetapi “kuku-kukunya” terkelupas akibat geliat pekik Allahuakbar yang bersahut Merdeka di sini, di tanah air yang tengah mengalami pengaplingan. Spanyol dan Portugis secara “imanen” mengiris-ngiris “peta bumi” ini seperti kue yang tengah dihidangkan. Tertegunnya adalah, rakyat negeri ini masih bisa berkelakar dalam derita. Luar biasa. Apalagi sekadar menghadapi impor beras yang “dihalalkan” meski waktu kampanye 2014 “diharamkan”. Bumi yang dijuluki zamrud khatulistiwa sudah terbiasa menyaksikan “pendustaan penguasanya” yang senantiasa “membuncahkan syahwat para penjajah” sejak dari Spanyol-Portugis-Perancis-Inggris dan Belanda berikut berbangsa-bangsa lainnya, sampai berebut “mahkota sumber daya alam” dengan berdarah-darah. Rempah-rempah, nila, kakao, kopi, dan tembakau diperebutkan bersama damar, rotan serta kayu cendana. Belum lagi kekayaan tambang dan lautan yang membentang dari Sabang-Merauke yang dibalut tiga waktu: Indonesia Timur, Indonesia Tengah dan Indonesia Barat. Inilah negeri yang iklimnya tidak cukup hanya dipilah dalam genggam “kemarau dan penghujan” seperti pembagian yang begitu sederhana di Barat, yang soal daun jatuh dan tanaman bersemi saja dijadikan nama musimnya. Indonesia adalah negara sejuta musim: kalau mau pakai ukuran buah-buahan saja kita sepakat adanya: musim mangga, durian, jambu, alpukat, nangka, jeruk, kecapi, manggis, serta berlaksa lagi aneka tanaman. Lantas, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Ini adalah negara yang dikarunia kekayaan, termasuk soal beras dengan padi yang setia ditanam para petani dalam bentang sawah ladang. Selama petani masih hilir-mudik ke tegalan setiap hari, berarti kebutuhan pangan janganlah diragukan lagi. Apalagi sekarang ini bukan saatnya Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, dan susutnya era “mantenen”, sehingga konsumsi nasi agak berkurang, tetapi diberitakan stok dianggap “sirna”. Mendatangkan beras dari petani tetangga pun “dinyanyikan” sebagai kebijakan untuk “menghormati petani sendiri”. Amboi … agar petani tidak capek-capek pergi ke sawah, silakan menyibukkan diri menonton televisi melihat petinggi negeri meresmikan infrastruktur setiap hari. Sepertinya ada obsesi bahwa kalau petani rutin menyaksi kelakuan para pengelola negeri yang suka menayangkan kesibukannya sambil “mengaduk partai”, para petani akan kenyang secara otomatis. Soal kebutuhan pangan disederhanakan menjadi angka-angka dan masalah beras tidak pernah langka asal negara mau hadir menemani petani. Selama ini transaksi perberasan yang terhelat di sawah tidak bersentuhan dengan pemegang otoritas negara, melainkan diborong tengkulak yang sudah bermental penjajah, dengan sistem “rentenir beras”. Rakyat dibuat muter mumet memikirkan ketahanan hidupnya, digiring memasuki “roda birokrasi” mulai dari pendaftaran nomor handphonenya sampai pada persiapan membayar PBB dan ragam pajak yang kian nglunjak. Khalayak menyimak dirinya sedang dienteri koyok gabah lan beras, karena rakyat itu diputar-putar seperti gabah, untuk selanjutnya dipinggirkan dari kerumun massa pemodal. Tetapi saya tetap optimis melihat mata petani. Bertahun-tahun saya merasakan kebungahan yang besar bersama ribuan Petani Ramah Lingkungan. Turut dalam agenda kerjanya untuk membuat kompos maupun pupuk cair bagi kepentingan pertanian mereka, sungguh suatu kenyataan yang membanggakan. Petani ini berupaya membuat sendiri pupuknya dengan bahan dasar enceng gondok, ayola, bonggol pisang, kotoran ternak serta sebelas jenis bahan lainnya untuk diaduk bak adonan. Hasilnya tidak hanya meningkatnya produktivitas panen tetapi sembuhnya tanah dari gempuran pupuk kimia yang puluhan tahun diterapkan. Petani sejak 1972 digelontor pupuk kimia dan pestisida tanpa henti dan kini sebagian petani telah berubah dengan pertanian organik. Pemerintah musti paham petani, bukan hanya soal furnitur rumah tangga. Tindakan petani yang berorientasi kelestarian fungsi lingkungan sudah menjadi titik balik, back to nature yang dibutuhkan alam. Totalitas gerakannya dalam bahasa Kawi maupun Sanksekerta disebut megilan. Megilan itu ungkapan syukur yang terlontar ekspresif nan membahana. Tentu ada banyak pandangan dan penafsiran yang beragam sesuai dengan situasi kebatinan yang melingkupi sebagaimana saat ini memasuki musim menjemput panen. Aura yang sumringah bungah (gembira dalam artian bersyukur) menjadi sangat semakna dengan kata megilan dalam kepustakaan kamus-kamus Jawa Kuno atau bahasa Sangsekerta yang terartikan: gilan itu gumilan-gilan atau gilan-gumilan yang akhirnya megilan, adalah bercahaya – berkilau-kilauan. Dalam lingkup inilah megilan sejatinya telah menggambarkan suasana berpendarnya cahaya yang mencahayai. Cahaya melambangkan sumber energi bagi siapa saja yang terterangi dan kemilau adalah pertanda keberadaan hidup yang lebih baik. Hal ini menandakan bahwa secara kodrati perjalanan petani dengan berpanduan niatan bijaknya ramah lingkungan, merupakan langkah yang harus mampu memberikan cahaya terang dan kemilau tatanan kehidupan warga. Inilah landasan dan garis pijakan kita semua untuk ngancani (menemani) petani agar melanjutkan pengabdian bagi lahirnya tatanan yang berkilauan bagi NKRI yang lebih makmur. Bertani ramah lingkungan itu megilan baik secara ekologis maupun yuridis sesuai dengan substansi regulasi di bidang pertanian berkelanjutan. Kata megilan dapat pula diberi tafsir dari paduan kata magic dan land, sehingga menjadi magic-land dalam artian tanah yang penuh keajaiban. Bukankah setiap jengkal tanah Ibu Pertiwi adalah keajaiban bagi para pemakan beras? Dari tanah itulah kehidupan itu bermula dan berakhir. Dari tanah itulah semua berkat Tuhan terukir dengan rekam jejaknya. Maka terdapat hubungan yang membumi dan melangit diantara para petani maupun siapa saja yang sadar atas keberadaan “beras kehidupan”. Tanah yang diolah dengan hati yang menggerakkan raga untuk bekerja sebagai tanda pengabdian diproyeksi akan menghasilkan beragam sumber makanan. Dari tanah dengan pancar airnya yang menyirami, tumbuh semua jenis hal yang dapat memenuhi kebutuhan hajat manusia. Tanah akan memberi keajaiban atas nama Tuhan. Impor beras jelang panen raya jelas tidak patut, “nirleka” megilan bagi petani. Adalah aneh apabila negeri ini kurang pangan. Apa yang tidak tumbuh di bumi Indonesia? Padi, jagung, kedelai, kacang hijau, dan semua ragam polopendem serta pisang maupun ikan, semua dapat hidup nyaman. Menurut Koes Plus, lautnya saja “kolam susu”. Dan kontur tanahnya adalah bongkahan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dengan pepohonan yang rindang sebagai pabrik oksigen yang menyegarkan. Syukurilah dengan cara memelihara “hati petani” tanpa menyakiti Bumi ini yang lazim diumumkan dengan bahasa Save Earth. Pada musim tanam tahun lalu komunitas saya melakukan penanaman dan panen beragam varietas padi dan jagung yang dikelola dengan menggunakan pupuk organik. Untuk varietas padi yang ditanam meliputi: mapan02, DG1, DG2, Inpari13, Ciherang, dan IR64. Demplot percontohan di sebagian desa dengan lahan yang digunakan semisal seluas 104.100 meter persegi (dari ketersediaan lahan 75 hektar) yang semula menghasilkan rata-rata 217.330 kg, telah meningkat pada musim panen pertama menjadi rata-rata 328.920 kg, naik 111.590 kg atau 47%. Hasil panen padi memang bergerak variatif, ada yang hasilnya meningkat 81%, 74%, 65%, 93%, 57%, dan 35%, bahkan ada yang meningkat 98%. Luas lahan 3000 meter persegi, semula menghasilkan 13.000 kg, di masa panen laku organik menjadi 25.000 kg, naik 12.000 kg. Hasil ini telah memberi harapan dan masa depan yang lebih baik dan maju bagi para petani untuk terus menggelorakan semangat bertani yang ramah lingkungan. Untuk pertanian jagung dengan membuat Demplot Percontohan seluas 40.500 meter persegi dari lahan yang disiapkan sekitar hampir 500 hektar. Biasanya pada musim panennya menghasilkan rata-rata 70.200 kg, pada masa panen organik hasilnya 109.650 kg, rata-rata naik 39.450 kg, atau 44%. Varites jagung yang ditanam meliputi NK33 maxPro dan Garuda. Petani yang menerapkan penanaman jagung ramah lingkungan dengan cara rawat dan pemupukan organik ternyata semakin baik hasilnya. Persentase kenaikan memang beragam dari 24%, 30%, 54%, 60%, 71%, meskipun ada yang naik 14%, tetapi juga ada yang meningkat 80%. Luas lahan 1.000 meter persegi yang semula hasilnya 1.000 kg, kini meningkat menjadi 1.800 kg, naik 800 kg, atau 80%. Pada lingkup itulah saya mengajak kita semua untuk selalu bertafakur dengan implementasi pengajaran sawah sebagai jodoh kehidupan. Pertanian ramah lingkungan yang kini dibahasakan bertani secara organik merupakan pilihan guna menjaga sawah ladang tetap dalam kondisinya yang subur tanpa mencederainya. Memilih bertani ramah lingkungan sangat tepat meski terkadang berat dalam menjalankannya. Saya kagum dengan sahabat-sahabat petani saya yang terus bertekat, seberat apapun dan sesulit apapun jalan yang harus dilalui untuk menjaga kesuburan tanah tanpa merusaknya, musti tak henti. Mencoba melakukan dan selanjutnya meneguhkan pendirian bahwa bertani ramah lingkungan itu menguntungkan, sejatinya adalah panggilan pengabdian. Dunia kampus harus turut mengawal dan mengomandani sebagai bagian Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kampus turun ke kampung-kampung menemani petani adalah opsi kebijakan yang harus terus didorong. Jangan biarkan petani berjalan sendirian dengan gempuran “beras impor”. Semangat go green itu dibutuhkan, bukan sekadar diinginkan. Impor beras, mikir dong. Bagaimana sikap cagub Jatim terhadap kebijakan “impor beras”? Jatim selama kepemimpinan Pakde Karwo, surplus beras!

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru