SURABAYAPAGI.COM,-Demam babi Afrika atau flu babi Afrika di Sumatera Utara, menyebabkan hampir 30.000 babi mati karena wabah tersebut, menurut penjelasan Menteri Pertanian. Virus ini diperkirakan akan memusnahkan lebih dari separuh babi ternak tahun ini.
Merasa khawatir dengan hal ini, Australia memperketat langkah-langkah pengamanan biologis untuk berjaga dari flu babi ini. Dinilai tidak berbahaya bagi manusia, tetapi penyakit ini bisa membunuh babi dalam beberapa hari, dan kemungkinan kematian mencapai 100 persen menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE).
Flu babi ini merupakan termasuk virus yang terkuat dan bisa hidup selama tujuh hari tanpa inang, dan bertahan berbulan-bulan dalam produk babi yang dibekukan. Selain negara Indonesia, ternyata flu babi ini juga menyerang China, tetapi penyebaran sedang terjadi di Asia Tenggara, dan yang terburuk di kawasan ini adalah Vietnam dan Filipina.
Perkiraan pengamat dari Rabobank produksi daging bagi Vietnam akan turun 21 persen tahun ini, bertambah 8 persen tahun depan. Pada tahun 2020 penurunan di Filipina bisa mencapai 13 persen. Rabobank juga mencatat penurunan di China hingga 55 persen tahun ini.
Menurut penjelasan dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan kepada wartawan, virus itu berhasil dibatasi di Sumatra Utara. "Penanganan yang sangat serius sedang dilakukan, termasuk mengisolasi area-area tersebut," jelasnya.
Harga daging babi di seluruh Asia meningkat. Angka inflasi China memperlihatkan harga konsumen meningkat hingga 4.5 persen, tertinggi dalam sembilan tahun terakhir, kemungkinan akan ada kenaikan tajam dalam beberapa bulan ke depan terutama karena meningkatnya permintaan seiring perayaan Imlek.
Editor : Redaksi