SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya Reni Astuti berharap agar pelaksanaan beasiswa Gemas dari tahun ke tahun makin baik. Tahun ini diharapkan ada skema dan sistem sehingga tujuan memutus mata rantai kemiskinan terwujud.
Meski dalam kondisi pandemi Reni menegaskan tidak ada refocusing anggaran pendidikan. "Meski pandemi, saya termasuk yang tidak setuju jika Anggaran pendidikan dilakukan refocusing. Jadi tahun ini beasiswa ini harus tetap jalan dengan sasaran PTN luar Surabaya lebih diperbanyak," kata Reni.
Baca juga: Ekonomi Surabaya Tumbuh 5,87 Persen pada 2025, Pemkot Fokus Kembangkan Ekraf dan Pariwisata Kota
Reni menerangkan, dari data 2020 ada 2000 anak Surabaya penerima beasiswa Gemas ini dengan anggran hampir 30 milyar rupiah.
Untuk kedepannya, menurut Reni setiap mahasiswa penerima Beasiswa Gemas tidak dilepas begitu saja namun terus terpantau dalam data base. Mereka membawa misi memutus mata rantai MBR untuk keluarganya. Apakah mereka mandek dan tidak produktif setelah kuliah. Atau makin berdaya.
Baca juga: Tindaklanjuti Instruksi Mendagri, Pemkot Surabaya Terapkan Sistem Piket dan WFA saat Lebaran
"Jangan sampai mahasiswa menjadi menggantungkan terus kebaikan hati pemkot. Harus mandiri dan produktif setelah lulus," kata Reni.
Dinas Pendidikan dan Pemkot Surabaya harus menguatkan sistem hingga menjangkaunya. Sampai pada posisi mana mereka yang telah dibantu meluluskan kuliah.Apakah bekerja atau berwirausaha, semua harus terpantau. Saat mereka mengikuti bursa kerja Sebaiknya Pemkot juga memfasilitasi melalui data base yang ada.
Baca juga: Viral Truk Bawa Sampah Berserakan, DLH Surabaya: Armada Pengangkut Wajib Tertutup dan Laik Jalan
“Mahasiswa harus produktif dan mandiri. Yang paling penting adalah mahasiswa itu punya kemandirian dan produktif. Punya semangat untuk maju dan tidak selalu menggantungkan,” katanya. Alq
Editor : Moch Ilham