Harga BBM Bersubsidi Naik, PT DLU Terpaksa Naikkan Tarif Angkutan Laut

surabayapagi.com
Direktur Utama PT DLU Erwin H Poedjono saat jumpa pers di Kantor PT DLU Jalan Kanginan Surabaya, Selasa (6/9/2022). Sp/Arlana

SurabayaPagi, Surabaya - Perusahaan pelayaran PT Dharma Lautan Utama (DLU) bakal menaikkan tarif angkutan laut mulai 12 September 2022 mendatang.

Kebijakan ini menyusul kenaikan tarif BBM subsidi jenis solar pada tanggal 3 September 2022 lalu dari Rp5.150/liter menjadi Rp6.800 atau meningkat sebesar 32 persen dari harga sebelumnya.

Manajemen PT DLU memutuskan untuk menaikkan tarif angkutan rata-rata sebesar 12,5 persen sampai dengan 20 persen.

"Itu baru dampak dari bahan bakarnya saja," terang Direktur Utama PT DLU Erwin H Poedjono di Kantor PT DLU Jalan Kanginan Surabaya, Selasa (6/9/2022).

Jika dilihat dari struktur biaya yang ada, tambahnya, kenaikan tersebut dinilai masih kurang.

"Akan tetapi kita juga melihat daya beli masyarakat juga," tandas Erwin.

Mengantisipasi daya beli masyarakat, PT DLU juga melakukan sosialisasi kepada customer perihal kenaikan tarif tersebut mulai hari ini.

"Karena kita perlu memberikan informasi kepada masyarakat. Mereka sedang menyesuaikan berapa yang dibebankan oleh mereka kepada pelanggan masing-masing," jelas Erwin.

"Dan kenaikan ini mutlak harus kita lakukan agar kita masih dapat melayani masyarakat secara baik," tambahnya.

Dia menjelaskan, rencana pemberlakuan tarif baru tersebut memang baru terhitung satu minggu dari hari ini. Dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada pelanggan terutama pihak ekspedisi agar dapat menyesuaikan harga bagi konsumen pemilik barang.

"Tarif ini macam-macam dan sifatnya rata-rata. Jenis muatan kan banyak, ada penumpang, ada kendaraan pribadi, ada truk. Variasinya banyak, lintasan kita juga ada beberapa," ucapnya.

Seminggu ini PT DLU terpaksa melakukan subsidi karena perusahaan membeli BBM dengan tarif baru sejak pemerintah memutuskan kenaikan harga solar.

Erwin mengatakan, komponen BBM ini merupakan komponen biaya terbesar untuk angkutan laut yaitu sebesar 55 persen dari total biaya.

"Untuk PT Dharma Lautan Utama sendiri dalam sebulan biaya untuk BBM mencapai Rp37 miliar yang jika mengalami kenaikan sebesar 32 persen maka akan ada pertambahan biaya sebesar Rp11,84 miliar," katanya.

Kenaikan biaya tersebut hanya dari harga BBM saja belum memperhitungkan kenaikan-kenaikan biaya sebagai multiplayer effect dari kenaikan harga BBM. Termasuk mengantisipasi kenaikan biaya Sumber Daya Manusia (SDM).

Sedangkan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM, komponen biaya angkutan laut PT DLU sudah mengalami kenaikan terlebih dahulu seperti biaya PNBP, biaya perawatan dalam hal ini adalah kenaikan harga pelat yang mencapai 150 persen.

Beberapa komponen biaya lain yang terpengaruh kurs dollar karena mayoritas komponen kapal adalah impor, biaya klasifikasi yang mengacu standar internasional, dan lainnya.

"Kita mau tidak mau harus menyesuaikan dengan situasi ini agar kita semua bisa survive logistik tetap jalan masyarakat tidak dirugikan dan kita bisa melayani dengan baik," ujarnya.

PT DLU juga berharap agar pemerintah memberikan insentif kepada pengusaha pelayaran.

"Kita pengusaha jangan dilepas sendirilah, kita harap pemerintah juga ikut bersama-sama memperbaiki situasi ini dengan memberikan insentif," ucap dia.

Insentif tersebut antara lain dengan tidak adanya kenaikan biaya-biaya di pelabuhan. By

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru