SURABAYAPAGI.COM, Malang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mengaku akan menanggung semua biaya perawatan rumah sakit bagi para korban tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.
Hal tersebut dinyatakan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat melakukan pengecekan terhadap para korban tragedi kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022). Khofifah menuturkan bahwa tidak akan ada pungutan sepeser pun untuk para korban agar tidak memberatkan keluarga.
Baca juga: Temui Dubes Yaman, Khofifah Dorong Penguatan Kerja Sama Pendidikan dan Dagang
Mantan Menteri Sosial ini melakukan kunjungan ke rumah sakit yang menjadi tempat penanganan korban yakni Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menekankan untuk memaksimalkan penanganan terhadap para korban.
“Apa yang dilakukan perhatian kepada korban kami maksimalkan, ini bagian dari empati kami,” kata Khofifah, Minggu (2/10).
Baca juga: Harlah ke-80 Muslimat NU, Khofifah Serukan Perdamaian Dunia dari Surabaya
Khofifah menambahja korban yang dirawat di RSSA akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Pemprov Jatim, sedangkan di RSUD Kanjuruhan akan ditanggung Pemkab Malang.
"Jadi kita prioritaskan bagi korban yang dirawat di RSUD Syaiful Anwar karena rumah sakit ini milik Pemprov Jawa Timur. Semua gratis," ujar orang nomor satu di Jawa Timur ini.
Baca juga: Khofifah Resmikan Revitalisasi 45 Sekolah di Tiga Daerah, Anggaran Capai Rp46,9 Miliar
Selain menggratiskan biaya perawatan rumah sakit, Khofifah juga akan memberikan santunan berupa uang Rp 10 juta kepada keluarga korban yang meninggal, sedangkan yang luka-luka mendapatkan santunan Rp 5 juta.
Sebelumnya diketahui, telah terjadi kerusuhan suporter sepak bola saat pertandingan Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/10/2022). Tragedi ini memakan banyak korban. Ratusan korban mengalami luka – luka bahkan meninggal dunia. Saat tragedi tersebut terjadi, korban langsung dilarikan ke beberapa rumah sakit. Korban meninggal diduga karena panik, terinjak-injak, sesak napas dan kehabisan oksigen akibat gas air mata dari aparat keamanan. mlg
Editor : Redaksi