SURABAYAPAGI, Surabaya - Pare (momordica charantia L) merupakan tanaman tropis yang hidup di dataran rendah dan tergolong ke dalam jenis tanaman liar yang dapat dibudidayakan di tanah kosong.
Anda juga bisa menemukan budidaya tanaman pare di ladang, halaman rumah, merambat pada anjang-anjang (rangka kayu) bambu, atau bahkan merambat pada pohon dan pagar.
Kandungan pare mampu mencegah penyakit pernapasan umum, seperti batuk, flu, atau pilek. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, jus dari buah pare digunakan untuk mengobati kondisi pernapasan tertentu, seperti batuk kering, bronkitis, dan asma selama ratusan tahun.
Pare memiliki sifat antihistamin, anti-inflamasi, dan antivirus yang membuat pare menjadi makanan tambahan yang ideal dalam menjaga kesehatan pernapasan.
Manfaat pare lainnya adalah sebagai pengobatan alternatif untuk berbagai masalah kulit, baik yang disebabkan oleh jamur maupun bakteri. Senyawa antijamur dan antibakteri yang terdapat dalam daun pare bisa membantu melawan infeksi kulit, termasuk kurap (ringworm) dan kudis (scabies).
Caranya, Anda cukup mengekstrak daun pare dan oleskan pada area kulit yang mengalami gangguan. Senyawa anti-inflamasi dalam buah pare dapat mengobati kondisi kulit, seperti eksim dan psoriasis.
Pare juga dapat membantu menghentikan aktivitas guanylate cyclase, yakni enzim yang dapat memperburuk kondisi psoriasis.
Selain itu, sebuah penelitian yang diterbitkan Biomedical and Pharmacology Journal, menunjukkan bahwa komposisi fitokimia pare, yakni MAP30 berupa senyawa antivirus, dapat menghambat aktivitas HIV atau human immunodeficiency virus.
HIV secara spesifik menyerang sel CD4 yang berperan dalam perlawanan infeksi. Protein MAP30 pada pare dapat menghambat infeksi HIV baru, caranya dengan merangsang sistem kekebalan dan menghasilkan lebih banyak sel CD4.
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa protein MAP30 pada pare dapat membantu mengobati pasien herpes simpleks virus-1 (HSV-1), dengan menghambat reproduksi virus dan mengurangi kemampuannya membentuk plak.hlt/pre
Editor : Mariana Setiawati