SURABAYA PAGI.COM, Mojokerto - Pemerintah Kota Mojokerto membuka dialog dengan puluhan pedagang pasar sekitar Jalan Residen Pamuji, HOS Cokroaminoto dan Jalan KH Nawawi Kota Mojokerto, di Pendopo Kantor Pemkot Mojokerto, Jumat (21/10) sore.
Dialog terkait kegiatan relokasi pasar ini di moderatori Kepala Satpol PP Kota Mojokerto, Modjari dan diikuti Kepala Diskopukmperindag Ani Wijaya serta Kepala UPTD Pasar Tanjung Anyar.
Sutikno, pedagang ayam potong di Jalan KH Nawawi, Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto mengeluh relokasi ini bakal mematikan usahanya. Pasalnya, lokasi baru yang ditawarkan Pemkot Mojokerto jauh dari jangkauan pembeli.
"Kalau kami dipaksa masuk kedalam pasar, pasti akan mengurangi pendapatan. Karena yang didalam saja, kadang keluar untuk beli kebutuhannya," keluhnya.
Meski demikian, pria paruh baya ini tak menampik jika kegiatan berjualannya di luar sangat mengganggu kenyamanan pengunjung lantaran memakan badan jalan.
Namun ia tetap memohon agar Pemkot Mojokerto tetap memberi solusi terbaik agar ia bisa jual di luar.
"Mohon pertimbangannya, karena kami ini baru saja terdampak pandemi dan baru merangkak pulih. Jika kami dipindah, maka tidak ada harapan lagi," keluhnya.
Senada dikatakan Suwardi, pedagang buah di Jalan KH Nawawi, Pasar Tanjung Anyar yang mengatakan para pedagang masih mengeluhkan lokasi baru relokasi.
"Kalau kita dipindah, maka akan mulai dari nol lagi. Takutnya ditempat yang baru nantinya tidak laku," ujarnya.
Ia usul agar relokasi pasar ini di pecah menjadi dua, yakni untuk jualan basah di relokasi di satu tempat yakni pasar basah. Dan yang jualan produk kering dijadikan satu di pasar kering.
"Sehingga pembeli mudah mencari, karena semua dipusatkan jadi satu sesuai jenis dagangannya. Dan saya yakin paguyuban pedagang juga menerima hal ini," tegasnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Diskopukmperindag Kota Mojokerto, Ani Wijaya memahami keluhan dan kekhawatiran para pedagang. Namun pihaknya juga harus bersikap fair dengan menampung keluhan para pedagang yang berada dalam pasar tanjung.
"Kami sadar memang kita baru bangkit pulih dari pandemi, namun yang diluar yang dekat dengan pembeli saja masih sambatan, apalagi yang ada dalam pasar. Mereka juga mengeluh tidak laku, karena pembeli lebih memilih belanja diluar," ungkapnya.
Ia juga menandaskan, jika memang semuanya minta jualan diluar pasar, maka fungsi pasar tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Karena yang didalam pasti juga ingin berada di luar.
"Kalau seperti itu, tidak perlu pasar. Biar semuanya keluar dan jualan di pinggir jalan. Tapi yang kita tawarkan ini win win solution, yang bisa diterima semua. Kita coba fasilitasi dengan menyediakan lokasi yang representatif," tukasnya.
Kepala Satpol PP Kota Mojokerto, Modjari juga mengatakan Pemkot Mojokerto akan terus melakukan pendekatan persuasif dalam kegiatan relokasi pedagan tumpah pasar tanjung anyar ini.
Namun ia juga meminta, para pedagang bersikap kooperatif dan legowo dengan upaya penataan yang dilakukan Pemkot Mojokerto.
"Kami tidak akan menutup mata dan telinga untuk para pedagang, aegala usulan dan saran akan kita tampung. Namun untuk sementara mohon untuk nurut, karena kami tidak punya pilihan lain," tegasnya.
Untuk informasi, Pemkot Mojokerto terus kian menggencarkan sosialisasi kepada para pedagang jelang penertiban tanggal 26 Oktober nanti.
Sasaran sosialisasi tersebut adalah pedagang yang masih bertahan berjualan di sekitar Jalan KH Nawawi, Residen Pamuji dan HOS Cokroaminoto. Pasalnya, dari 165 pedagang yang bakal direlokasi, masih ada 59 pedagang yang masih keberatan dipindah. Dwi
Editor : Redaksi