SURABAYAPAGI.com, Banyuwangi - Pengolahan kuliner usaha ikan pari asap di di Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur nampaknya kebanjiran orderan dan untung cuan banyak hingga puluhan juta per bulannya.
Pasalnya, Kecamatan Muncar terkenal dengan potensi perikanan laut yang besar. Bahkan, pernah menempati urutan kedua penghasil ikan terbesar di negeri ini.
Baca juga: DPRD Sidoarjo: Pedagang Kecil Sebagai Urat Nadi Ekonomi Kerakyatan Wajib Dihidupkan
Selain menjadi tempat pelelangan ikan, Muncar juga memiliki berbagai industri pengolahan ikan baik modern hingga tradisional. Begitu juga banyak usaha rumahan pengolahan hasil ikan oleh masyarakat.
Menurut salah satu penjual ikan asap mengungkap jika rata-rata proses pengasapan ikan pari masih menggunakan metode tradisional, dengan memanfaatkan, serabut kelapa dan bonggol jagung kering untuk bahan bakarnya, lantaran dinilai memiliki aroma yang beda.
“Dengan itu, aromanya lebih terasa. Yang diasap mayoritas ikan pari. Tapi tergantung ketersediaan ikan juga,” kata Nuryanto (52), Rabu (31/07/2024).
Lebih lanjut, menurut Nuryanto butuh 100 kilogram (kg) ikan pari untuk diasap di rumah pengasapan setiap hari. Ikan-ikan itu kemudian dijual dengan harga antara Rp 3.500 hingga 4.500 per tusuk.
Ikan asap produksi Nuryanto dijual sebagian besar ke sejumlah pasar yang tersebar di Banyuwangi. Dalam sehari, ia mengaku mengantongi omzet hingga Rp 3 juta. Artinya, total jika dihitung Rp 90 juta perbulan.
“Kerjanya sama istri dibantu sama istri nelayan di sini. Ada yang bantu membersihkan ikan, mengasap ikan, menyiapkan bambu untuk menjepit ikan asap,” katanya.
Baca juga: Pejabat Bea Cukai Diduga Ikut Runtuhkan UMKM
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani juga turut mengapresiasi upaya masyarakat dalam mempertahankan pengolahan hasil perikanan yang telah mereka lakukan secara tradisional, sehingga menjadi ciri khas tersendiri.
"Justru pengolahan tradisional seperti ini harus tetap dipertahankan, karena saat ini banyak diminati. Aroma dan rasanya juga lebih lezat seperti ini daripada diolah dengan cara modern lainnya," ujar Ipuk. by-01/dsy
Editor : Desy Ayu