Legislator Sensi Lihat Video Biduan Seksi di Acara Isra Mi'raj

surabayapagi.com
Video viral yang memperlihatkan biduan seksi yang bergoyang di acara Isra Mi’raj yang diselenggarakan di daerah Banyuwangi, memicu perdebatan.

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Waka Komisi VIII DPR Singgih Januratmoko menilai polemik seorang biduan seksi bergoyang di Acara Isra Mi’raj , bukan masalah sepele.

"Polemik penampilan biduan yang berjoget di panggung peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele atau sekadar kesalahpahaman teknis panitia," kata Singgih kepada wartawan, Senin (19/1/2025).

Baca juga: Legislator Anggap Transportasi Pesawat Domestik Prihatinkan

Beberapa hari ini, beredar video seorang biduan berjoget di atas panggung peringatan Isra Mikraj di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Dan ini bikin geger. Peristiwa itu memicu polemik dan dapat reaksi keras dari (MUI) Banyuwangi.

Biduan bergaun hitam itu berjoget di hadapan penonton di atas panggung yang masih menggunakan dekorasi peringatan Isra Mikraj. Aksi ini dinilai tidak etis karena dilakukan dalam konteks acara keagamaan.

"Ini kemaksiatan, seperti mempertontonkan aurat, tarian erotis, dan ikhtilat," tegas pengurus MUI Banyuwangi.

Tak hanya mengecam, MUI Banyuwangi juga menyebut aksi joget erotis di panggung keagamaan tersebut berpotensi masuk dalam kategori penistaan agama.

 

Kaburkan Batas Sakral

Ia mengatakan peristiwa ini menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yakni cara masyarakat menjaga kesakralan ajaran agama sekaligus merawat sensitivitas sosial dalam kehidupan berbangsa.

 Menurutnya, Isra Mikraj adalah peristiwa suci yang menegaskan kedudukan shalat, akhlak, dan ketaatan kepada Allah SWT. Peringatannya bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum edukasi spiritual bagi umat.

Oleh karena itu, setiap aktivitas yang melekat pada peringatan Isra Mikraj, kata Singgih, harus mencerminkan nilai adab, kepantasan, dan penghormatan terhadap simbol-simbol agama.

"Dalih bahwa hiburan tersebut dilakukan setelah acara inti selesai tidak serta-merta menghapus persoalan. Dalam perspektif keagamaan, ruang, simbol, dan konteks memiliki makna yang tidak terpisahkan," tuturnya.

Baginya, ketika hiburan yang tidak selaras dengan nilai kesopanan Islami dilakukan di atas panggung, dekorasi, dan ruang yang sama dengan acara keagamaan, maka batas sakral dan profan menjadi kabur. Hal ini lah, kata Singgih, yang menimbulkan kegelisahan umat.

"Peristiwa ini menunjukkan lemahnya sensitivitas sosial dalam membaca realitas masyarakat Indonesia yang religius dan majemuk," imbuhnya.

 

Tidak Lagi Bersifat Privat

Di era media sosial, terang legislator, setiap tindakan di ruang publik memiliki konsekuensi sosial yang luas.

Singgih Januratmoko, mengatakan 'hiburan internal' tidak lagi bersifat privat ketika direkam dan disebarluaskan.

"Saya memandang peristiwa ini sebagai peringatan serius. Panitia, tokoh agama, dan masyarakat perlu meningkatkan literasi keagamaan sekaligus kepekaan sosial. Acara keagamaan tidak boleh direduksi menjadi formalitas seremonial yang kehilangan ruh dan adabnya," lanjut Singgih Singgih Januratmoko.

ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi kolektif. Menyelenggarakan acara keagamaan berarti memikul tanggung jawab moral, bukan hanya administratif.

Baca juga: DPR RI Geram Ada Pengusaha Tolak Rupiah

"Kehati-hatian dalam memilih pengisi acara, bentuk hiburan, dan tata kelola kegiatan adalah bagian dari menjaga martabat agama sekaligus merawat harmoni sosial," jelasnya.

Agama, menurut Singgih, seharusnya menjadi sumber ketenangan dan persatuan, bukan kegaduhan. "Dan bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menempatkan nilai sakral pada tempat yang semestinya, dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan," pungkasnya.

 

Mohon Maaf Melalui Video

Ketua panitia Isra Mikraj Desa Parangharjo, Hadiyanto, mengakui adanya hiburan itu. Dia menegaskan bahwa aksi itu dilakukan setelah acara inti selesai.

"Hiburan yang menghadirkan biduan pada acara Isra Mikraj tersebut memang benar adanya. Akan tetapi, hiburan tersebut digelar setelah acara usai dan seluruh undangan serta kiai sudah tidak ada di tempat," ujar Hadiyanto, dilansir detikJatim, Sabtu (17/1/2026).

Hadiyanto juga menambahkan bahwa hiburan tersebut merupakan inisiatif spontan untuk internal panitia. Atas kegaduhan yang terjadi, pihak panitia telah menyampaikan permohonan maaf melalui video klarifikasi di Polsek Songgon pada Jumat (16/1) malam.

 

MUI Kecam Biduan Joget

Waketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengkritik keras Aksi biduan di panggung peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi, Jawa Timur.

Baca juga: Indonesia Punya 1.479 Orang Super Kaya dan 250 Ribu Kaya

"Kita sangat menyesalkan adanya acara menyanyi dan berjoget ria seusai acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Apalagi dalam berjoget tersebut posisi pihak laki-laki dan perempuan yang menyanyi sangat tidak pantas dilihat oleh mata," ujar Anwar kepada wartawan, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, bila spanduk peringatan Isra Mikraj dicopot ketika acara hiburan digelar, kemarahan masyarakat tak setinggi saat ini. "Tapi karena simbol-simbol dari peringatan maulid tersebut masih ada maka perbuatan mereka terkesan telah melecehkan ajaran agama Islam," tuturnya.

Ia berharap tak ada lagi kegiatan yang menyinggung perasaan pemeluk agama manapun. Ia meminta baik panitia, maupun masyarakat untuk menjaga keadaan kondusif.

"Kita memperingati maulid nabi artinya kita mengenang riwayat hidup dan perjuangan serta ajaran yang disampaikannya tapi sehabis acara masih di tempat yang sama dan masih ada simbol-simbol dari peringatan tersebut lalu kita melakukan hal-hal yang melanggar apa yang diajarkan oleh agama dan oleh nabi kita," jelas Anwar.

"Hal demikian jelas tidak etis dan tidak elok," katanya.

Pernyataannya ini terkait beredarnya video yang menampilkan biduan berbaju hitam dengan pakaian minim sedang berjoget dalam acara peringatan Isra Miraj. Acara ini menjadi perbincangan masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur.

Dengan gerakan yang cukup erotis, si penyanyi melantunkan lagu, kontras dengan latar tulisan peringatan Isra Miraj dengan iringan pemusik yang menggunakan pakaian cukup islami.

Sementara di sisi panggung bagian kiri, ada satu penyanyi lainnya yang duduk menunggu giliran untuk bernyanyi. Penyanyi ini pun berpakaian terbuka dan minim.

Setelah ditelusuri, peristiwa dalam video tersebut terjadi di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon dan dibagikan melalui pesan berantai whatsapp.

Ketua panitia Isra Mikraj Desa Parangharjo, Hadiyanto, mengakui adanya hiburan itu. Dia menegaskan bahwa aksi itu dilakukan setelah acara inti selesai. n, jk/p/bw/dc/rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru