Rupiah sempat menyentuh rekor penutupan terendah hingga level Rp17.614 per dolar AS. Ini dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global dan defisit neraca transaksi berjalan.
Dengan situasi pelemahan rupiah,saat meresmikan Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Prabowo berseloroh bahwa masyarakat pedesaan tidak menggunakan mata uang dolar. Beliau berkelakar bahwa pihak yang paling pusing karena dolar naik adalah mereka yang sering bepergian ke luar negeri.
beliau juga sempat melempar candaan kepada Menteri Keuangan. Beliau menyebut selama Menkeu masih bisa tersenyum santai, maka masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.
Menurut Prabowo, pemerintah menjamin bahwa kondisi ekonomi Indonesia secara fundamental masih stabil, inflasi terkendali, dan cadangan devisa kuat
Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (mencapai sekitar Rp17.600) belakangan memang ramai dijadikan bahan candaan oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Purbaya bisa senyum, tenang aja enggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar," ujar Prabowo dikutip dari tayangan Youtube Sekretariat Presiden, Mingu (17/5/2026).
Prabowo berseloroh yang paling terdampak kenaikan dolar adalah kalangan yang sering bepergian ke luar negeri. Ia menggoda sejumlah pejabat dan pengusaha yang hadir dalam acara tersebut.
***
Baca juga: Pernyataan Prabowo yang 'Nyeleneh' Turut Perdalam Pelemahan Rupiah
Bayangkan saja saat ini,
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia atau JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) berada di kisaran Rp17.496 per USD, sedangkan Kurs Transaksi Bank Indonesia berada di angka Rp17.601 untuk kurs jual dan Rp17.426 untuk kurs beli.
Nah melihat hal tersebut, saat ini di media sosial tengah ramai candaan rupiah ‘diatas’ dollar. Salah satunya yaitu pada sebuah yang diluncurkan fotografer ternama, Arbein Rambey di akun twitternya.
Pada foto itu terlihat sebuah uang senilai Rp10.000 berada di atas 1 dollar Amerika. Namun ‘di atas’ yang dimaksud bukanlah nilai tukarnya, melainkan hanya posisinya saja.
Berbeda dari foto sebelumnya foto diatas juga merupakan sebuah foto tentang candaan rupiah ‘di atas’ dollar yang tengah ramai di media sosial path. Namun kali ini nilai dan jumlahnya berbeda, yaitu 4 buah uang senilai Rp2.000 yang berada diatas uang senilai 1 dollar Amerika Serikat.
Beberapa foto tersebut memang terlihat begitu lucu dan menarik, karena dibalik candaan tersebut, terdapat sebuah sindirian pedas lantaran melemahnya nilai rupiah.
Sindiran itu memotret dengan melemahnya nilai tukar rupiah membuat biaya impor membengkak, memicu lonjakan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan energi secara domestik. Mengapa melambungnya dolar dibuat candaan.
***
Baca juga: Penjualan Sapi Kurban di Madiun Lesu Imbas Nilai Rupiah Terjun Bebas ke Level Terendah
Awal pekan ini, Presidium Hubungan Luar Negeri PP PMKRI, Ferdinandus Wali Ate, mengkritik keras pernyataan Presiden Prabowo mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.602 per dolar AS.
PMKRI menilai narasi pemerintah yang menyebut masyarakat pedesaan aman dari dampak depresiasi kurs sebagai bentuk penyangkalan terhadap realitas ekonomi global.
Ferdy Ate mengatakan pemerintah tidak sepatutnya meremehkan kegelisahan masyarakat arus bawah dengan melemparkan retorika politik yang mengabaikan logika pasar.
"Pernyataan bahwa rakyat di desa tidak terdampak hanya karena mereka tidak bertransaksi pakai dolar adalah kekeliruan logika yang fatal. Jangan memberi 'angin surga' di tengah impitan ekonomi yang nyata," kata Ferdy Ate dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu, (17/5/2026).
Menurut Ferdy, meski masyarakat pedesaan menggunakan rupiah dalam keseharian mereka, rantai pasok pangan domestik saat ini sangat bergantung pada pasar internasional. Ia mencontohkan lebih dari 80 persen komoditas kedelai untuk bahan baku tahu dan tempe diperoleh melalui skema impor yang transaksinya menggunakan dolar AS.
Selain sektor pangan, Ferdy juga menyoroti kerentanan sektor energi nasional. Ia menyebutkan bahwa Indonesia telah lama menjadi negara importir minyak net (net oil importer). Sehingga pelemahan rupiah ke level Rp 17.602 otomatis akan membengkakkan beban subsidi energi pada APBN secara signifikan.
Ferdy berujar, pemerintah tidak bisa hanya mengklaim kondisi energi nasional aman tanpa memaparkan strategi mitigasi anggaran yang konkret.
Maka itu, Ferdy menyatakan kritik yang dilayangkan oleh para ekonom dan masyarakat sipil seharusnya dipandang sebagai sistem peringatan dini (early warning system), bukan malah dilabeli sebagai narasi pesimistis yang bertujuan membuat kekacauan.
Ia juga menilai cara pemerintah berkomunikasi dengan rakyatnya saat ini sedang mengalami krisis empati dan melanggar etika komunikasi publik.
***
Baca juga: Nadiem, Apa Mesti Lari dari Kenyataan
Sebelumnya Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, memperkenalkan istilah “inflasi pengamat”. Ini sindiran terhadap ruang publik yang dianggap terlalu bising oleh analisis.
Teddy, saat itu tak berpikir, kini, publik justru melihat fenomena yang mirip, cuma bedanya adalah “inflasi pernyataan” dari Presiden Prabowo Subianto sendiri. Prabowo minta masyarakat tidak panik dengan naik-turunnya nilai dolar, karena warga di pedesaan tidak menggunakan mata uang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. “Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?” katanya (cnnindonesia, 16/5/2026).
Masalahnya, menurut akal sehat saya, bukan pada gaya bercanda Presiden, melainkan simplifikasi politik diucapkan pada isu yang sangat sensitif terhadap persepsi pasar. Risiko muncul ketika kepala negara royal memproduksi narasi populis tanpa kehati-hatian dan filter yang matang. Saat pernyataan simplistis dilempar dari podium resmi, nilai kata-kata itu sendiri rentan terdevaluasi.
Saya baca informasi dari negeri nun jauh di sana bernama Zimbabwe. Presiden Robert Mugabe berkali-kali meyakinkan petani desa bahwa kejatuhan nilai tukar hanyalah konspirasi Barat. Lalu hiperinflasi brutal terjadi pada tahun 2008, yang membuat uang kertas lebih murah ketimbang tisu toilet.
Di Venezuela, Hugo Chavez dan Nicolas Maduro juga minta rakyat kecil mengabaikan kurs dan fokus pada subsidi. Mereka mengklaim gejolak dolar adalah urusan kaum elitis yang gemar pelesiran ke luar negeri, sampai kemudian inflasi menembus angka satu juta persen pada 2018.
Tentu Indonesia jauh dari situasi Zimbabwe atau Venezuela. Hanya, sejarah menunjukkan satu pola yang sama: ketika elite politik mulai menormalisasi pelemahan mata uang dengan retorika simplistis, kepercayaan publik terhadap kemampuan negara mengelola ekonomi perlahan ikut terkikis.
Akal sehat saya melayang, petani di pelosok Bali atau Jawa mungkin tidak pernah menyentuh fisik mata uang dolar Amerika Serikat. Tetapi, pupuk yang mereka tebar, kedelai untuk tempe yang mereka santap, hingga bahan baku obat generik yang mereka minum, seluruh harganya dipatok oleh fluktuasi kurs global. Logikanya, dengan mengatakan orang desa bebas dari dampak depresiasi rupiah, adalah bentuk pengabaian terhadap rantai pasok ekonomi yang nyata.
Logika saya omong, selain kelas menengah dan bawah, beban terberat dari “inflasi pernyataan” ini adalah tim ekonomi di belakang layar. Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia dipaksa bekerja ekstra keras menjadi “pemadam kebakaran”. Ketika sentimen negatif berkepanjangan, mereka harus pontang-panting menggelar konferensi pers dan meramu kebijakan moneter darurat untuk menstabilkan sentimen pasar. Tekanan semacam ini pada akhirnya memaksa otoritas moneter bekerja lebih keras menjaga stabilitas kepercayaan pasar yang, sayangnya, dipicu pernyataan pemimpinnya sendiri.
Pernyataan yang meremehkan kurs ini seperti jebakan populisme yang kurang edukasi. Pemimpin seharusnya mencerdaskan rakyatnya dengan menjelaskan kompleksitas tantangan global secara jujur, bukan menyuapi massa dengan kenyamanan palsu. Ketika harga-harga kebutuhan pokok di pasar tradisional nanti benar-benar melambung, rakyat bawah berisiko mengalami deprivasi relatif. Pula akan merasa dikhianati sistem yang sebelumnya menjanjikan kehidupan mereka tidak akan terpengaruh badai ekonomi dunia.
Di era media sosial, ketika Istana memproduksi pernyataan tanpa dasar data, algoritma media sosial akan langsung menduplikasi, memotong, dan menyebarkannya ke berbagai lini masa. Sialnya, upaya pembelaan sepihak dari pendukung pemerintah justru makin memperpanjang siklus hidup konten tersebut di ruang virtual. Makin sering presiden melontarkan pernyataan yang tidak akurat, makin kuat pula persepsi negatif yang terbangun di benak publik secara organik. Celah komunikasi inilah yang kemudian ditangkap dan diamplifikasi secara cerdas oleh pihak kontra-penguasa; cukup putar ulang rekaman asli sang presiden, mesin algoritma akan mendelegitimasi kompetensi rezim.
Pola komunikasi model ini justru memperlihatkan kurang cakapnya dalam mengelola dialektika publik yang sehat.
Dalam ekonomi modern, pasar mungkin digerakkan angka, tetapi kepercayaan dibentuk oleh narasi. Karena itu, setiap ucapan Presiden bukan sekadar opini personal, melainkan sinyal negara. Ketika kata-kata kehilangan makna, yang ikut dipertaruhkan bukan hanya wibawa pemerintah, tetapi rasa aman jutaan rakyat yang hidup dari kestabilan harga.
Logika saya dengan tren tiga bulan ini, pelemahan lanjutan bisa membayangi mata uang domestik. Ada perkiraan nilai tukar berisiko bergerak ke rentang Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS dalam waktu dekat.
Situasi ini dapat meningkatkan biaya impor, membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta berpotensi menaikkan harga energi dan kebutuhan pokok di dalam negeri. Mari berdoa dolar tidak melemah lagi. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Raditya Mohammer Khadaffi