Konsumsi dan Investasi Jadi Motor Utama, Ekonomi Jatim Tumbuh 5,96 Persen di Awal 2026

Reporter : Arlana Chandra Wijaya

SurabayaPagi, Surabaya - Ekonomi Jawa Timur menunjukkan kinerja yang semakin kuat pada awal 2026.

Bank Indonesia (BI) mencatat perekonomian Jawa Timur pada triwulan I 2026 tumbuh 5,96 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional maupun Pulau Jawa.

Baca juga: BI Atur Bantuan Modal UMKM, Diberikan Setelah Lulus Pelatihan Usaha

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan, capaian tersebut ditopang oleh menguatnya konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah yang meningkat pada awal tahun.

"Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026 tetap kuat dan berada di atas pertumbuhan nasional maupun Pulau Jawa," kata Ibrahim, Selasa (23/6/2026).

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,15 persen, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 5,13 persen, konsumsi pemerintah 2,13 persen, dan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencapai 6,66 persen. Sementara itu, ekspor tumbuh 6,65 persen dan impor meningkat 6,23 persen.

Meningkatnya konsumsi masyarakat tidak lepas dari tingginya aktivitas ekonomi selama perayaan Tahun Baru Imlek, Hari Raya Nyepi, Ramadan, hingga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026.

Di sisi lain, akselerasi investasi didorong oleh pembangunan Sekolah Rakyat, revitalisasi fasilitas pendidikan, pembangunan infrastruktur jalan, serta meningkatnya impor barang modal. 

Adapun konsumsi pemerintah tumbuh seiring peningkatan belanja pegawai dan perbaikan realisasi belanja barang dan jasa, termasuk untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Meski demikian, laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur masih tertahan oleh perlambatan ekspor sejumlah komoditas utama. Ekspor luar negeri komoditas emas perhiasan tercatat terkontraksi 44,27 persen, sedangkan ekspor tembaga turun 5,57 persen. Perlambatan juga terjadi pada komoditas kayu dan produk kimia.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur terutama ditopang sektor perdagangan, akomodasi dan makan minum, pertanian, serta konstruksi.

Dengan capaian tersebut, Jawa Timur tetap menjadi kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian nasional dengan kontribusi 14,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan 25,16 persen terhadap ekonomi Pulau Jawa.

Pertumbuhan 5,96 persen juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa yang sebesar 5,79 persen maupun nasional yang mencapai 5,61 persen. 

Sejumlah indikator turut menunjukkan kuatnya aktivitas ekonomi daerah. Penjualan eceran barang sandang tumbuh 16,03 persen, makanan dan minuman 12,58 persen, serta barang budaya dan rekreasi 5,22 persen.

Baca juga: Suku Bunga Acuan (BI Rate), Diperkirakan Tetap

Di sektor pembayaran digital, transaksi BI-FAST meningkat 70,59 persen dan transaksi uang elektronik tumbuh 41,24 persen. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga berada pada level optimistis sebesar 118,13.

Sementara itu, realisasi belanja pemerintah melalui APBN menunjukkan peningkatan signifikan. Belanja modal kementerian/lembaga tumbuh 290,47 persen, belanja kementerian/lembaga naik 42,02 persen, dan belanja pegawai meningkat 15,29 persen.

Kenaikan aktivitas investasi juga tercermin dari impor barang modal yang tumbuh 20,60 persen dan bahan konstruksi sebesar 66,07 persen.

Memasuki triwulan II 2026, Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Jawa Timur tetap tumbuh kuat. Optimisme tersebut didukung oleh terjaganya keyakinan konsumen, pertumbuhan transaksi kartu kredit sebesar 10,40 persen, kartu debit 8,71 persen, serta membaiknya kinerja ekspor nonmigas.

Pada April 2026, ekspor nonmigas komoditas lemak dan minyak tumbuh 55,63 persen, sedangkan ekspor tembaga melonjak 80,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Aktivitas sistem pembayaran juga terus meningkat. Pada April 2026, transaksi transfer tumbuh 37,27 persen, transaksi nontunai meningkat 16,80 persen, dan transaksi QRIS melonjak 43,11 persen.

Baca juga: Ikuti LPI Bank Indonesia, Gus Qowim Ajak BI Perkuat Kolaborasi Dorong Ketangguhan dan Kemandirian Ekonomi Kota Kediri

Sementara itu, uang kartal yang beredar pada Mei 2026 mengalami net-outflow yang mencerminkan tetap terjaganya aktivitas konsumsi masyarakat.

Di tengah dinamika global, Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur pada 17-18 Juni 2026 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen guna menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

Suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75 persen dan Lending Facility menjadi 6,50 persen.

Selain itu, BI juga memperkuat stabilisasi pasar keuangan melalui peningkatan intervensi di pasar valuta asing serta menjaga instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang per 15 Juni 2026 tercatat mencapai Rp1.021,13 triliun.

Secara keseluruhan, perekonomian Jawa Timur sepanjang 2026 diperkirakan tetap tumbuh solid pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Di saat yang sama, inflasi diproyeksikan tetap terkendali dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.

Sebagai perbandingan, pada 2025 ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,33 persen dengan inflasi sebesar 1,51 persen. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan melalui pengendalian inflasi, digitalisasi sistem pembayaran, pengembangan UMKM, serta promosi investasi guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru