Trump, Ancam Pengusaha SPBU Turunkan BBM

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ultimatum tegas kepada para pengecer BBM atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk menurunkan harga

Trump menyebut harga bensin saat ini masih terlalu tinggi dan menuduh perusahaan mengambil keuntungan berlebih dari masyarakat, serta mengancam akan ada "masalah besar" jika harga tidak turun.

Baca juga: Trump Klaim AS Pegang Kendali Penuh Iran

"Para pengecer bensin harus menurunkan harga mereka, segera," tulis Trump di platform Truth Social miliknya pada Senin, dikutip dari Al Jazeera.

Trump memperingatkan tidak boleh ada kecurangan terkait harga BBM.

"Tidak akan ada manipulasi harga, yang sepenuhnya ilegal," tulis Trump.

"Jika pengecer tidak melakukan ini, masalah besar akan muncul! Mulailah menargetkan harga sekitar US$2,50 per galon," tulisnya.

Dia menyatakan akan ada masalah besar bila perusahaan tidak menurunkan harga.

Baca juga: Trump Ajak Sekutunya Amankan Selat Hormuz, Jepang dan Australia Tolak

"Pengecer bensin harus menurunkan harga mereka. SEGERA!" tulis Trump di media sosial Truth Social, dikutip dari Reuters, Selasa (30/6/2026).

Dia menekankan kenaikan harga BBM secara berlebihan adalah hal ilegal. Mengingat harga minyak dunia sudah turun ke level yang jauh lebih rendah dibandingkan saat perang AS dan Iran.

Harga Perliter Rp 11.800-an

Trump menargetkan harga US$ 2,5 atau sekitar Rp 44.500 per galon. Bila dikonversi ke liter, harganya menjadi sekitar Rp 11.800-an.

Baca juga: Desakan DK PBB tak Dihiraukan Iran

"Tidak akan ada praktik menaikkan harga secara berlebihan, yang sepenuhnya ilegal. Jika pengecer tidak melakukan ini, masalah besar akan muncul! Mulailah menargetkan harga sekitar $2,50 per galon," tulisnya melanjutkan.

Pekan lalu, Trump mengatakan telah menginstruksikan Departemen Kehakiman untuk menyelidiki perusahaan minyak karena tidak menurunkan harga bensin sesuai dengan penurunan biaya minyak mentah. Trump enuduh perusahaan-perusahaan tersebut menaikkan harga secara berlebihan kepada pelanggan.

Harga minyak sempat melonjak setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Iran membalas dengan serangannya sendiri terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang memiliki pangkalan AS. Belakangan diplomasi antara AS dan Iran untuk menyelesaikan konflik telah menghasilkan penurunan harga minyak dunia. n afp, int,wat

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru