Manuver Hukum Eks Jampidsus, Gagal Kelabuhi Publik

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Eks Jampidsus, Febrie Ardiansyah.
Eks Jampidsus, Febrie Ardiansyah.

i

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Ketua Dewan Nasional SETARA Institute Hendardi menilai berbagai manuver komunikasi tim kuasa hukum mantan Jampidsus tidak berhasil menggeser perhatian publik dari substansi perkara yang sedang dihadapi.

Komentar itu disampaikan Hendardi pada Minggu, 10 Agustus 2026 terkait proses hukum yang menjerat eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung.

Menurut Hendardi, menjadikan isu prosedural seperti praperadilan sebagai argumentasi utama, sementara substansi dugaan tindak pidana dikesampingkan, merupakan strategi yang tidak menjawab pertanyaan publik.

“Praperadilan adalah hak setiap tersangka dalam negara hukum. Namun jika hanya mempersoalkan aspek prosedural yang menguntungkan klien, maka itu kehilangan legitimasi,” ujarnya, Senin (10/8/2026) di Jakarta.

Ia menyoroti tim kuasa hukum yang diisi aktivis antikorupsi mantan pengurus ICW, eks KPK, dan Pengacara Senior. Hendardi menilai jika benar-benar konsisten memperjuangkan due process of law, maka yang pertama disorot justru proses pengalihan penyidikan dari Kepolisian ke Kejaksaan Agung.

Pengalihan penanganan perkara itu dinilai menimbulkan persoalan serius. “Perkara kemudian ditangani oleh institusi yang sebelumnya menjadi tempat tersangka menduduki jabatan strategis. Ini berpotensi melahirkan perlakuan istimewa, memperlambat proses, serta membuka ruang proteksi hukum,” kata Hendardi.

Ia menegaskan penegakan due process tidak boleh parsial. Seluruh rangkaian proses harus diuji objektif sejak awal, termasuk keputusan pengalihan penyidikan, bukan hanya mempersoalkan penggeledahan atau penyitaan.

Hendardi menyebut perkara ini bukan hanya menguji nasib hukum mantan pejabat tinggi Kejaksaan, tetapi juga kredibilitas sistem peradilan pidana Indonesia. “Publik membutuhkan proses hukum yang independen, transparan, bebas dari konflik kepentingan, dan berorientasi pada pengungkapan kebenaran materiil,” tegasnya.

Ia mengingatkan, jika hukum tidak ditegakkan jujur dan tanpa perlakuan istimewa, maka kepercayaan publik akan runtuh. Hal itu berpotensi mendorong warga mencari keadilan sendiri, baik lewat civil disobedience maupun mob justice atau street justice.

“Negara hukum hanya akan memperoleh kembali kepercayaan publik apabila hukum ditegakkan secara konsisten bagi siapa pun,” pungkas Hendardi.

Sementara itu, Febri Diansyah selaku kuasa hukum Febrie Adriansyah, eks Jampidsus tersangka dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU), mengaku menemukan fakta baru yang berkaitan dengan kasus kliennya.

Menurut Febri, pihaknya menemukan fakta baru terkait adanya kewajiban menyidik tindak pidana asal atau predicate crime terlebih dulu sebelum menyidik perkara TPPU.

“Kami menemukan fakta baru, fakta baru ini terkait dengan kewajiban untuk penyidikan predicate crimenya dulu,” ujarnya pada wartawan, seusai menjenguk Febrie di Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (10/8/2026).

“Sebelumnya saya sudah jelaskan, di penjelasan Pasal 74 itu ada kewajiban menyidik tindak pidana asalnya dulu. Kalau ketemu bukti ada pencucian uang, barulah disidik pencucian uangnya,” ucapnya.

Menurut Febri, berdasarkan penjelasan Pasal 74 UU TPPU tersebut, penyidikan kasus TPPU dan tindak pidana asalnya tidak bisa digabung sejak awal, karena itu dua hal berbeda.

“Kalau nanti setelah penyidikan tindak pidana asal ketemu bukti, dilakukan penyidikan tindak pidana pencucian uang dan kemudian digabungkan perkaranya, itu memang masih memungkinkan,” ucap dia.

“Kami menemukan satu fakta baru, sumbernya dari kajian yang dilakukan oleh PPATK terkait dengan Pasal 74 dan Pasal 75 Undang-Undang Pencucian Uang,” kata Febri menegaskan.

Dalam kajian tersebut, kata dia, disebutkan adanya surat edaran Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus (Jampidsus) Nomor B 2107 tahun 2011. “Intinya begini, di SE Jampidsus itu, penyidikan TPPU dilakukan apabila menemukan bukti permulaan yang cukup saat melakukan penyidikan tindak pidana asal. Jadi, harus ada dulu penyidikan tindak pidana asal, barulah penyidikan TPPU bisa dilakukan,” ujarnya.

“Menurut kami, inilah yang termasuk salah satu yang diduga dilanggar oleh tim sembilan, dalam hal ini di Kejaksaan, sehingga proses penyidikannya menjadi bermasalah secara hukum acara.”

Hal itu menjadi salah satu poin yang akan dibawa dan diuji dalam proses praperadilan mendatang. Berdasarkan surat edaran tersebut, lanjut Febri, penggabungan perkara bisa dilakukan jika sebelumnya sudah dilakukan penyidikan tindak pidana asal.

“Jadi, penyidikan tindak pidana asal dulu, cari bukti, kalau ada bukti baru pencucian uang, kalau ketemu pencucian uang, barulah perkara digabungkan. Itu aturannya menurut SE Jampidsus tahun 2011 ini.

“Kecuali kalau betul-betul tidak diketahui predikat crimenya baru bisa melakukan penyidikan pencucian uang secara tersendiri, tapi tetap wajib dicari predikat crimenya apa,” tuturnya. jk2

Berita Terbaru

Presiden BEM Unair Dijemput Paksa Polda Jatim

Presiden BEM Unair Dijemput Paksa Polda Jatim

Rabu, 28 Okt 2026 02:05 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 02:05 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Presiden BEM Unair, M Rizqi Senja Wirawan disebut sempat dijemput oleh Polda Jatim di kediamannya pada 19 Oktober 2026…

Mabuk! Tabrak Lari di Depan Grahadi, Erica Natasha Diadili

Mabuk! Tabrak Lari di Depan Grahadi, Erica Natasha Diadili

Rabu, 28 Okt 2026 02:03 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 02:03 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Erica Natasha Risakotta diadili di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya atas perkara kecelakaan beruntun yang menewaskan Rachmad P…

MENGACU TERORISME, UU TIPIKOR AKAN DIKAJI ULANG

MENGACU TERORISME, UU TIPIKOR AKAN DIKAJI ULANG

Rabu, 28 Okt 2026 02:00 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 02:00 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra…

TEP Unair kembangkan format keuangan digital untuk BUMDes

TEP Unair kembangkan format keuangan digital untuk BUMDes

Rabu, 28 Okt 2026 01:58 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 01:58 WIB

SURABAYAPAGI.com – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) mengembangkan format laporan keuangan digital guna memudahkan pengurus BUMDes di D…

Wamendag Tekankan Inovasi untuk Perkuat Daya Saing Fesyen Lokal

Wamendag Tekankan Inovasi untuk Perkuat Daya Saing Fesyen Lokal

Rabu, 28 Okt 2026 01:56 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 01:56 WIB

SURABAYAPAGI.com – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong penguatan daya saing produk fesyen Indonesia melalui integrasi i…

Danantara Jadikan Koperasi Merah Putih Pusat Distribusi Barang Subsidi

Danantara Jadikan Koperasi Merah Putih Pusat Distribusi Barang Subsidi

Rabu, 28 Okt 2026 01:54 WIB

Rabu, 28 Okt 2026 01:54 WIB

SURABAYAPAGI.com – Badan Pengelola (BP) BUMN bersama Daya Anagata Nusantara (Danantara) terus mempererat sinergi antar-BUMN untuk menyokong program Koperasi D…