SurabayaPagi, Surabaya – Dermatitis atopik atau eksim masih menjadi salah satu masalah kesehatan kulit kronis yang kerap dialami anak-anak.
Kondisi ini ditandai dengan kulit kering, kemerahan, rasa gatal, hingga gangguan tidur, yang dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas hidup anak dan keluarga.
Dokter spesialis kulit, dr. FX Clinton, menjelaskan bahwa dermatitis atopik bukan sekadar kulit kering biasa.
“Pada kondisi ini terjadi gangguan pada skin barrier dan peradangan, sehingga kulit menjadi sangat sensitif dan tidak nyaman, terutama pada anak yang belum mampu mengungkapkan keluhannya,” ujarnya.
Data dari American Academy of Dermatology menunjukkan sekitar 1 dari 5 anak mengalami dermatitis atopik. Risiko meningkat pada anak dengan riwayat alergi, asma, atau eksim dalam keluarga.
Dokter spesialis anak, dr. Fihzan Ginting, menambahkan bahwa keterlambatan penanganan dapat berdampak luas.
“Jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa mengganggu kualitas tidur, memengaruhi suasana hati anak, hingga berdampak pada hubungan anak dan orang tua,” katanya.
Ia menekankan pentingnya deteksi dini, terutama jika muncul ruam kemerahan berulang di area pipi, dahi, lipatan tangan, atau kaki.
Orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk memastikan diagnosis.
Menurutnya, dermatitis atopik merupakan kondisi yang dipengaruhi faktor genetik, lingkungan, serta sistem imun.
Karena bersifat kronis, perawatan harus dilakukan secara konsisten, termasuk menjaga kelembapan kulit setiap hari, menghindari suhu ekstrem, serta menggunakan produk perawatan yang sesuai untuk kulit sensitif.
Selain itu, perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa keseimbangan mikrobiom kulit juga berperan penting dalam kondisi ini.
Ketidakseimbangan mikroorganisme pada kulit, seperti dominasi bakteri tertentu, dapat memicu peradangan dan memperparah gejala.
Dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat, digelar kegiatan edukasi bertajuk “Together for Atopic Skin” di Surabaya.
Kegiatan ini menghadirkan tenaga medis untuk memberikan informasi terkait gejala, penanganan, serta pentingnya menjaga kesehatan skin barrier.
Brand Manager Mustela, Indira Natalia, mengatakan bahwa edukasi diperlukan karena masih banyak orang tua yang belum memahami perbedaan antara kulit kering biasa dan dermatitis atopik.
“Kondisi ini cukup sering terjadi, namun kerap tidak disadari sejak awal. Melalui edukasi, diharapkan orang tua lebih peka terhadap gejala yang muncul,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa perawatan kulit tidak hanya berfokus pada pengobatan saat kambuh, tetapi perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kondisi kulit tetap stabil.
Kegiatan edukasi ini juga menjadi ruang komunikasi antara tenaga medis dan orang tua untuk berbagi pengalaman serta mendapatkan informasi yang tepat terkait perawatan kulit atopik.
Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, diharapkan penanganan dermatitis atopik dapat dilakukan lebih dini sehingga dampaknya terhadap kualitas hidup anak dan keluarga dapat diminimalkan.
Editor : Redaksi