PUMK Bawa Pelaku Usaha Mikro Kecil Naik Kelas

surabayapagi.com

SURABAYAPAGI.com – Program Pendanaan Usaha Mikro Kecil (PUMK) Pertamina membawa pelaku usaha mikro kecil tetap eksis di tengah tantangan global bahkan bisa naik kelas baik dari sisi kapasitas hingga perluasan pangsa pasar.

“Jadi itu membantu kami tetap bertahan bahkan setelah pinjaman lunas, tetap dibina dan diajak pameran,” kata pelaku usaha batik tulis Iwan Ahmad Irawan di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, Kamis.

Baca juga: Pelaksanaan CFD Dongkrak Omzet UMKM, Pemkab Trenggalek Sebut Capai Ratusan Juta

Pria berusia 60 tahun itu sebelumnya mendapatkan pinjaman total Rp250 juta yang diberikan dalam dua termin masing-masing sebesar Rp100 juta dan Rp150 juta saat masa pandemi COVID-19.

Pendanaan itu, lanjut dia, digunakan untuk modal usaha serta operasional termasuk menggaji karyawan.

Meski bisnis sempat melesu akibat pandemi, namun setelah mendapatkan suntikan dan pembinaan dari BUMN bidang minyak dan gas bumi tersebut, ia mampu bertahan dan memperluas pangsa pasar hingga menembus sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, hingga Rusia.

Ia mengaku saat ini bisa bernafas lega karena pinjaman dalam program PUMK itu telah lunas.

Meski begitu, ia mengaku tetap menjadi binaan dan kerap kali diajak pameran di dalam negeri yang melahirkan pesanan dari para pemasok dan konsumen tetap di tanah air.

“Kalau dulu sebelum COVID itu omzet bisa tembus Rp200 hingga 300 juta per bulan. Sekarang bisa tetap bertahan dan bersyukur maksimal (omzet) dapat sekitar Rp150 juta per bulan karena situasi ekonomi yang kami harap lebih stabil lagi,” ujar dia.

Adapun salah satu yang ditonjolkan adalah kualitas serta pemanfaatan bahan pewarna alami, selain pewarna sintetis, yaitu menggunakan warna dari daun-daun dan kulit kayu seperti pohon kelengkeng, hingga mahoni.

Baca juga: Lewat PESONA 2026, Pemkab Lamongan Fasilitasi Pelaku UMKM Perluas Akses Pasar

Sementara itu, Pendamping Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara (Jatimbalimus) Prina Widya menjelaskan program PUMK tersebut telah berakhir sejak 2022 dan saat ini telah dialihkan ke Bank BRI sesuai arahan saat itu dari Kementerian BUMN.

Adapun bunga per tahun dalam PUMK saat itu, kata dia, tergolong terjangkau yakni sebesar tiga persen menurun.

Meski telah berganti, lanjut dia, pihaknya tetap memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM karena memiliki prospek yang menjanjikan mendorong perekonomian daerah dan menyerap pasar tenaga kerja.

“Mitra kami ini yang sudah (pinjaman) lunas memiliki produk yang bagus, kami bantu melalui UMKM Akademi yang kami bina untuk dilanjutkan ke pasar global,” ujar dia.

Baca juga: Dorong Pelaku UMKM Naik Kelas, Pemkot Madiun Fasilitasi Pelatihan Digital Lewat POS

Ia menjelaskan di wilayah Jatimbalimus, pihaknya memiliki sebanyak 362 mitra binaan yang merupakan UMKM unggulan.

Dari jumlah itu, kata dia, sekitar 40 UMKM unggulan di antaranya berasal dari Bali yang menjadi mitra binaan.

Dalam akademi itu, mereka dilatih beragam mulai dari pengemasan hingga pemasaran baik secara daring dan luar jaringan (offline).

“Tidak semua mitra binaan ini dibina cuma karena dari modal tapi ada mitra-mitra yang baru yang ikut dari akademi UMKM kami itu benar-benar tanpa modal,” katanya menambahkan. vir.dew

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru