SURABAYAPAGI.com – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani mengakui bahwa pasar domestik Indonesia saat ini masih banyak dibanjiri produk-produk impor. Nilainya pun diperkirakan cukup besar
Ia sarankan Pemerintah agar persoalan tersebut segera diatasi. Terutama terkait masuknya produk impor ilegal yang dinilai dapat berdampak terhada p industri dalam negeri.
Baca juga: Komitmen Perluas Pasar UMKM, Pemkab Madiun Perkuat Kolaborasi Antarwilayah
“Ya, memang kami juga sudah berikan masukan, yang kami hindarkan adalah yang namanya ilegal-ilegal impor yang kemudian akan berdampak juga dengan isu dalam negeri kita. Jadi itu yang sudah kami, sudah beberapa kali kami sampaikan juga sih mengenai hal itu. Jadi memang kami terus berkomunikasi dengan pemerintah,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Senin (24/8/2026).
Saat ditanya mengenai nilai kerugian yang ditimbulkan akibat membanjirnya produk impor ilegal tersebut, Shinta mengatakan pihaknya belum melakukan perhitungan pasti. Namun, ia mengatakan jumlahnya cukup besar.
Baca juga: Dorong Gerakkan Ekonomi Desa, Pemkab Magetan Dukung BUMDes UMKM Fair
“Besar nilainya lah, tapi nilai kita nggak pernah perhitungkan dari segi nilainya, belum sampai kita hitung,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman buka-bukaan soal penyebab produk yang dihasilkan UMKM belum banyak terserap pasar. Kondisi tersebut terjadi karena pasar domestik Indonesia masih “becek”.
Baca juga: PUMK Bawa Pelaku Usaha Mikro Kecil Naik Kelas
Konteks “becek” yang dimaksud Maman ialah masih banyaknya barang-barang impor yang membanjiri pasar domestik.
Padahal, kata Maman, akses pembiayaan untuk UMKM terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal itu juga disertai pelatihan untuk membuat produk yang menghasilkan serta peningkatan kapasitas produksi. Namun, berbagai upaya tersebut belum mampu mendongkrak penjualan produk UMKM. ec, erc
Editor : Redaksi