SURABAYAPAGI.COM, JOMBANG — Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), jajaran DPD PDI Perjuangan Jawa Timur berziarah ke makam sejumlah pendiri dan tokoh besar NU di Jombang, Selasa (25/8/2026).
Ziarah tersebut menjadi momentum untuk merawat persaudaraan, memperkuat semangat kebangsaan, sekaligus menyambut kedatangan para kiai, nyai, santri dan muktamirin dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: Marhaenisme dan Relevansi Pemikiran Bung Karno
Rombongan DPD PDI Perjuangan Jatim dipimpin Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Deni Wicaksono bersama jajaran pengurus. Ziarah diawali ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Dari Tambakberas, rombongan kemudian melanjutkan ziarah ke makam Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.
Deni mengatakan, ziarah tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan spiritual, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah panjang perjuangan para ulama dan tokoh bangsa dalam menjaga Indonesia.
"NU telah membersamai Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Para kiai, pesantren, dan santri ikut mendirikan, mempertahankan, kemudian mengisi Republik melalui pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial. Karena itu, Muktamar NU di Jawa Timur juga menjadi kebahagiaan bagi kami. Kami ikut bungah," kata Deni.
Merawat Persaudaraan Nasionalis dan Religius
Menurut Deni, perjalanan ziarah ke makam Mbah Wahab, Mbah Hasyim, dan Gus Dur juga mengingatkan kembali akar panjang persaudaraan antara kekuatan religius dan nasionalis dalam perjalanan sejarah Indonesia.
"Di PDI Perjuangan kami diajarkan memandang NU sebagai saudara tua. NU lahir pada 1926, sementara PNI yang didirikan Bung Karno dan menjadi salah satu akar sejarah perjuangan politik kami lahir pada 1927. Persaudaraan ini bukan lahir karena momentum politik, tetapi tumbuh dari sejarah panjang perjuangan menjaga Indonesia," ujarnya.
Ia menilai sejarah kelahiran NU menunjukkan bagaimana semangat keagamaan dapat berjalan beriringan dengan patriotisme dan perjuangan kebangsaan.
Semangat tersebut tercermin dari upaya para ulama dalam menjaga Ahlussunnah wal Jamaah, membangun persatuan ulama pesantren, memperkuat ukhuwah Islamiyah, sekaligus mengambil bagian dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme.
Ziarah ke makam Mbah Wahab di Tambakberas memiliki makna tersendiri karena kawasan pesantren tersebut menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan sejarah dan perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah.
Mbah Wahab dikenal sebagai salah satu penggerak berdirinya NU. Sebelum NU lahir, ia telah merintis sejumlah wadah pergerakan dan pendidikan, di antaranya Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar. Ia juga menjadi salah satu penggerak Komite Hijaz yang menjadi bagian penting menuju berdirinya NU.
KH Wahab Chasbullah bersama KH Hasyim Asy'ari dan KH Bisri Syansuri tercatat sebagai tokoh pendiri NU yang lahir pada 31 Januari 1926.
"Mbah Wahab adalah seorang penggerak. Dari lingkungan pesantren beliau membangun pendidikan, mempertemukan para ulama, menggerakkan kesadaran kebangsaan, hingga ikut mendirikan Nahdlatul Ulama. Semangat Ya Lal Wathan yang beliau wariskan pun terus hidup hingga hari ini: kecintaan kepada tanah air dan pengabdian kepada Indonesia," kata Deni.
Menurutnya, keberadaan Tambakberas sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU menjadi pengingat bahwa pesantren telah menjadi tempat lahirnya pemikiran besar, gerakan sosial, serta tokoh-tokoh yang berkontribusi terhadap perjalanan bangsa.
Ziarah ke Mbah Hasyim dan Gus Dur
Dari Tambakberas, rombongan melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Tebuireng. Di kompleks pemakaman tersebut, mereka berziarah ke makam Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dan Gus Dur.
Bagi Deni, ziarah ke makam Mbah Hasyim menjadi momentum untuk kembali mengingat perjuangan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.
Baca juga: Jelang Muktamar NU, Sosok Gudfan Arif Ghofur Dinilai Layak Masuk Bursa Ketum PBNU
Seruan para ulama tersebut menggerakkan kiai dan santri untuk mempertahankan Republik yang baru merdeka dan menjadi bagian penting dari rangkaian perjuangan menuju pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
"Dari Mbah Hasyim dan para kiai kita belajar bahwa mencintai agama dan mencintai tanah air tidak pernah harus dipertentangkan. Ketika Republik membutuhkan pembelaan, kiai dan santri berdiri di depan. Semangat yang sama diperjuangkan Bung Karno dan para pendiri bangsa: Indonesia merdeka, berdaulat, dan menjadi rumah bersama bagi seluruh rakyatnya," katanya.
Deni juga mengaitkan persaudaraan kebangsaan tersebut dengan perjalanan politik Indonesia pada era Reformasi, salah satunya melalui Deklarasi Ciganjur pada 10 November 1998.
Dalam pertemuan yang berlangsung di kediaman Gus Dur di Ciganjur tersebut, Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri bersama Amien Rais serta Sri Sultan Hamengkubuwono X bertemu dalam Dialog Nasional.
Pertemuan empat tokoh tersebut membawa semangat menjaga persatuan bangsa, mengembalikan kedaulatan kepada rakyat, serta membangun kehidupan demokrasi setelah berakhirnya Orde Baru.
"Gus Dur dan Ibu Megawati pernah berdiri bersama di Ciganjur ketika Indonesia memasuki masa yang menentukan. Keduanya sama-sama menjaga demokrasi, keberagaman, dan persatuan Indonesia. Zamannya berbeda dengan Mbah Wahab, Mbah Hasyim, dan Bung Karno, tetapi rumah yang mereka jaga tetap sama: Indonesia," ujar Deni.
PDIP Jatim Buka Posko Kesehatan
Selain melakukan ziarah, PDI Perjuangan Jawa Timur juga turut menyambut para muktamirin dengan menyediakan pelayanan kesehatan.
PDIP Jatim membuka Posko Kesehatan di sekitar kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Posko tersebut dikelola Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan bersama Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi).
"Bagi kami, menyambut Muktamar bukan hanya mengucapkan selamat. Kami ingin ikut membantu dan melayani. Para kiai, nyai, santri, dan Nahdliyin yang datang ke Jawa Timur adalah tamu yang harus kita muliakan bersama," kata Deni.
Baca juga: Anggaran Perubahan Rp2,6 Triliun, DPRD Jatim Dorong Percepatan Infrastruktur Desa
Wakil Ketua Bidang Keagamaan dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa DPD PDI Perjuangan Jawa Timur KH Abdul Wahab Yahya (Gus Wahab), yang juga pengasuh PP Al-Muhajirin 2 di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, mengatakan keluarga besar PDI Perjuangan Jatim ikut merasakan kebahagiaan menyambut Muktamar ke-35 NU.
"Kami ikut bungah, ikut nderek bingah. Para kiai, nyai, santri, dan Nahdliyin dari seluruh Indonesia datang ke Tambakberas. Bagi kami, cara terbaik menyambutnya adalah ikut membantu, melayani, dan mendoakan agar Muktamar berjalan lancar dan penuh berkah," kata Gus Wahab.
Menurut Gus Wahab, keberadaan kiai, santri, dan kalangan pesantren di PDI Perjuangan merupakan bagian dari komitmen untuk terus merawat hubungan antara religiusitas, kebangsaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Keislaman dan kebangsaan tidak perlu dipisahkan. Para pendahulu kita sudah memberi teladan. Muara keduanya adalah kemaslahatan: bagaimana kehadiran kita bermanfaat bagi masyarakat dan bagaimana Indonesia tetap kita jaga bersama," ujarnya.
Doakan Muktamar Berjalan Teduh dan Berkah
DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta Muktamar ke-35 NU di Jombang. PDI Perjuangan Jatim juga mendoakan agar pelaksanaan Muktamar berlangsung teduh, penuh persaudaraan dan keberkahan, serta menghasilkan keputusan terbaik bagi jam'iyah dan jamaah, bangsa, dan negara.
"Memasuki abad keduanya, Indonesia membutuhkan NU yang semakin kokoh, menjadi sumber keteladanan, menjaga persaudaraan, serta terus membawa Islam rahmatan lil 'alamin bagi kemajuan Indonesia dan dunia," kata Deni.
Gus Wahab juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh muktamirin yang hadir di Jombang.
"Monggo rawuh di Jawa Timur, monggo rawuh di Jombang. Kami ikut bungah menyambut para kiai, nyai, santri, dan seluruh muktamirin. Semoga dari Tambakberas lahir kebaikan dan kemaslahatan untuk NU dan Indonesia," pungkas Gus Wahab. rko
Editor : Redaksi