SURABAYAPAGI.com - Iklim usaha di Indonesia dikeluhkan pengusaha Jepang. Kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam acara Business Discussion Lunch di Nagoya, Jepang, Sabtu (19/9), mereka curhat.
Paling disoroti pelaku industri otomotif yakni adanya persoalan perizinan, akses pembiayaan bagi industri kecil dan menengah (IKM) pendukung otomotif, hingga sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam masa transisi menuju kendaraan listrik.
Baca juga: JPU TIDAK BERANI TULIS LOCUS DELICTI di SURAT DAKWAAN, BINGUNGKAH
Adapun delegasi Kemenko Perekonomian yang hadir yakni Sesmenko Susiwijono Moegiarso, didampingi Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon.
Sesmenko Susiwijono menyampaikan pemerintah menyambut berbagai masukan tersebut dan menegaskan komitmen untuk menyempurnakan kebijakan serta menangani berbagai hambatan investasi yang masih berjalan.
“Pemerintah menyambut baik seluruh masukan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk terus menyempurnakan kebijakan melalui langkah-langkah konkret, termasuk penanganan hambatan investasi yang tengah berjalan,” ujarnya dikutip dari laman resmi Kemenko Bidang Perekonomian, Minggu (20/9/2026).
Baca juga: Lewat Inovasi Digital Berbasis AI, Pemkot Surabaya Terus Perkuat Iklim Investasi
Susiwijono menegaskan bahwa dari rangkaian kunjungan dan pertemuan bisnis di Nagoya ini memperlihatkan satu benang merah yang jelas bahwa daya saing industri dibangun dari perpaduan antara penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan ekosistem rantai pasok yang kokoh.
Hal yang sama menjadi fondasi bagi upaya Indonesia memperkuat industri manufaktur dan industri otomotif nasional.
Baca juga: Kelola Wisata Pasir Putih, Pemkab Situbondo Tawarkan Peluang Investasi Rp40 Miliar
Selain itu, Susiwijono mengatakan pertemuan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis Jepang, khususnya di sektor industri otomotif dan komponen pendukungnya.
Menurut, Indonesia tidak hanya kana menjadi pasar, tetapi juga bagian dari rantai nilai global, dan menjadi basis utama untuk produksi ekspor ke lebih dari 100 negara tujuan ekspor. “Melalui dialog yang terbuka seperti ini, Pemerintah optimis kemitraan Indonesia-Jepang dapat terus tumbuh dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian kedua negara ke depan,” katanya. ec/he
Editor : Redaksi