SurabayaPagi, Surabaya – Merek kopi asal Jepang, % Arabica, mulai menguji potensi pasar Surabaya melalui pembukaan gerai pop-up di Pakuwon Mall pada 24 Oktober 2026.
Perusahaan menyiapkan masa operasional selama enam bulan untuk mengevaluasi respons konsumen, tren pasar, dan potensi penjualan sebelum menentukan pembukaan gerai permanen.
Surabaya menjadi kota keempat di Indonesia yang dimasuki jaringan kedai kopi tersebut setelah Jakarta, Bali, dan Semarang. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi ekspansi bisnis % Arabica di pasar domestik.
Chief Strategy Officer ATERIA Group, Astrid Kusumadewi, mengatakan Surabaya menjadi salah satu pasar yang ingin dijangkau perusahaan.
Menurut dia, keputusan membuka gerai di kota ini juga mempertimbangkan ketertarikan masyarakat yang sebelumnya menanyakan rencana kehadiran % Arabica melalui media sosial.
“Surabaya menjadi langkah penting dalam perjalanan ekspansi % Arabica di Indonesia. Melalui kehadiran kami di Pakuwon Mall Surabaya, kami ingin membawa filosofi See the World Through Coffee lebih dekat kepada masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari keseharian dan budaya kopi di kota ini,” ujar Astrid, Senin (26/10/2026).
Dia mengatakan, perusahaan belum menetapkan rencana penambahan lokasi lain di Surabaya. Evaluasi terhadap gerai pop-up di Pakuwon Mall akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Untuk saat ini, kami masih fokus di Pakuwon Mall dulu. Kalau setelah enam bulan kami melihat tren pasarnya bagus, kami akan membuka gerai resmi atau official store,” katanya.
Pemilihan Pakuwon Mall didasarkan pada pertimbangan perusahaan terhadap tingkat kunjungan dan posisi pusat perbelanjaan tersebut sebagai salah satu destinasi belanja dan gaya hidup di Surabaya.
Lokasi ini diharapkan dapat membantu perusahaan menjangkau konsumen sekaligus mengamati pola pembelian selama masa uji pasar.
Astrid mengungkapkan, respons pengunjung pada akhir pekan pertama operasional cukup tinggi. Antrean pelanggan bahkan sempat membuat tim gerai kewalahan.
Namun, belum ada data mengenai jumlah transaksi, nilai penjualan, maupun karakteristik konsumen yang dapat digunakan untuk mengukur besarnya permintaan secara kuantitatif.
“Kami senang melihat antusiasme masyarakat Surabaya. Bahkan, pengunjung sampai mengantre cukup panjang dan kami sempat kewalahan menghadapi antrean pelanggan,” ujarnya.
Dari sisi produk, % Arabica menawarkan menu yang berfokus pada kopi klasik, biji kopi single origin, serta sejumlah racikan khas.
Salah satunya Kyoto Latte yang menurut Trainer % Arabica Indonesia, Fransisco Agung Christian Nillu, dirancang dengan karakter kopi yang tetap intens, berpadu dengan tekstur creamy dan sedikit rasa manis.
“Karakter Kyoto Latte itu kopinya masih terasa intens, tidak terlalu pahit, tetapi tetap memiliki tekstur creamy dan sedikit rasa manis pada akhir tegukan,” kata Fransisco.
Kyoto Latte dibanderol sekitar Rp60.000. Sementara itu, harga minuman di gerai % Arabica Indonesia secara umum berkisar Rp50.000 hingga Rp80.000, berdasarkan keterangan perusahaan.
Rentang harga tersebut menjadi salah satu aspek yang dapat diamati selama masa uji pasar, terutama untuk mengetahui penerimaan konsumen terhadap produk kopi dengan harga relatif tinggi dibandingkan sejumlah pilihan kopi harian lainnya.
Meski demikian, daya beli pelanggan dan tingkat pembelian berulang belum dapat disimpulkan hanya dari antrean pada awal pembukaan.
Selain Kyoto Latte, perusahaan menyediakan sejumlah pilihan minuman lain, termasuk Americano dengan sentuhan citrus, kopi tanpa kafein, alternatif susu, minuman nonkopi, dan soft cream rasa kopi.
Fransisco mengatakan, pengembangan menu juga mempertimbangkan karakter konsumen di Indonesia. Kyoto Latte, misalnya, dikembangkan agar dapat menjangkau konsumen yang menginginkan rasa kopi intens dengan sentuhan manis.
% Arabica didirikan oleh pengusaha asal Jepang, Kenetsuji, yang dikenal dengan sapaan Mr. Ken. Gerai pertamanya dibuka pada 2013 di kawasan Higashiyama, Kyoto, Jepang.
Perusahaan kemudian memperluas jaringan ke sejumlah negara dan kini memiliki lebih dari 230 gerai di berbagai wilayah dunia, menurut data yang disampaikan perusahaan.
Jaringan tersebut mencakup China daratan, Singapura, sejumlah negara Asia Tenggara, Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Eropa.
Di Indonesia, ekspansi dimulai pada 2021 melalui gerai di Central Park, Jakarta Barat. Perusahaan kemudian memperluas kehadirannya ke Bali dan Semarang sebelum memasuki Surabaya.
Gerai pop-up di Pakuwon Mall mengusung konsep kios berukuran kompak dengan desain minimalis. Salah satu elemennya berupa jendela berbentuk lingkaran. Desain modular gerai tersebut dikembangkan bersama studio desain asal Austria, Precht.
Selama enam bulan ke depan, keberlanjutan usaha di Surabaya akan bergantung pada hasil evaluasi perusahaan terhadap permintaan konsumen dan kinerja penjualan.
Hasil pengujian itu akan menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah pasar Surabaya cukup menjanjikan bagi pengembangan gerai permanen.
Dengan demikian, kehadiran % Arabica di Surabaya tidak hanya menjadi penambahan lokasi jaringan kedai kopi internasional, tetapi juga ujian bagi perusahaan untuk membuktikan bahwa tingginya minat pada masa pembukaan dapat berlanjut menjadi permintaan yang berkelanjutan.
Editor : Redaksi