SURABAYAPAGI, Surabaya - Perusaahaan teknologi asal Amerika Serikat, HP Inc, saat ini tengah mendorong literasi sains dan teknologi dikalangan siswa sekolah dasar. Salah satunya adalah melalui implementasi program "Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Education for Children" yang diberikan kepada kurang lebih 60 peserta baik siswa dan guru dari SDN Lenteng Agung 01 Jakarta dan SDN Pepelegi 2 Sidoarjo.
"[Ini merupakan] komitmen kami terhadap pendidikan di Indonesia dan membawa pengalaman teknologi serta pembelajaran ke daerah terpencil untuk mendorong kesetaraan digital yang lebih baik," kata Managing Director, HP Indonesia Fiona Lee, Jumat (04/06/2021) kemarin.
Upaya menumbuhkan minat sains dan teknologi sejak dini kata Fiona, sangat penting untuk diperhatikan. Mengingat, pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (BRIN) tengah menggalakan program literasi nasional, yang salah satunya termaktub literasi sains dan teknologi.
Celakanya dalam riset Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 menunjukan bahwa, secara global nilai kompetensi matematika pelajar Indonesia hanya menempati peringkat 72 dari 78 negara. Dan sains pada peringkat 70 dari 78 negara. Nilai di kedua kategori tersebut masih di bawah rata-rata dunia dan cenderung stagnan selama 10-15 tahun terakhir.
"Upaya ini juga dilakukan untuk mendukung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam menggalakkan Gerakan Literasi Nasional yang menyertakan literasi sains sebagai satu dari enam literasi dasar yang harus dikuasai pelajar Indonesia," terangnya.
Oleh karenanya, ia berharap dengan adanya program STEM Education for Children tersebut, dapat membangkitkan antusiasme para pelajar terhadap sains dan teknologi sehingga dapat mendorong mereka untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan di masa depan.
Prediksi dari World Economic Forum, kurang lebih sekitar 85 juta pekerjaan akan digantikan oleh teknologi automasi pada tahun 2025. Dan di tahun yang sama pula, 97 juta peran baru akan muncul dengan pembagian kerja baru antara manusia, mesin, dan algoritma.
"Situasi ini mengindikasikan pekerjaan masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang kapabel dalam bidang STEM dan terampil berpikir kritis. Namun sayangnya, hal ini masih menjadi tantangan bagi generasi muda Indonesia. Oleh karenanya dengan keterlibatan mereka dalam eksperimen di program ini diharapkan dapat menginspirasi untuk menikmati pembuatan karya melalui teknologi," pungkasnya.
Sebagai informasi, kegiatan pelatihan STEM tersebut dilakukan selama dua hari. Proses pembelajaran kepada peserta dilakukan secara daring dan diikuti oleh 10 guru dan 50 siswa. Melalui kurikulum HP LIFE, para pelajar memahami pentingnya menghemat penggunaan energi dan memanfaatkan berbagai energi terbarukan yang ada di sekitar mereka.
Pada sesi eksperimen, mereka membuat prototipe lampu lalu lintas, serta memahami aplikasi konversi energi dan juga cara kerja teknologi. "Selain meningkatkan pengetahuan siswa, program ini juga menginspirasi para guru untuk mengembangkan pembelajaran STEM dengan konsep serupa di sekolah," akunya.sem
Editor : Mariana Setiawati