SurabayaPagi, Surabaya – DPC Gerindra Surabaya mendukung penuh lomba tartil untuk anak usia 10 sampai 15 tahun sekelurahan Keputran sebagai upaya penting menanamkan pendidikan agama pada generasi penerus bangsa.
Ketua DPC Gerindra Surabaya Cahyo Harjo Prakoso menjelaskan, pendidikan yang dijamin konstitusi Indonesia juga harus mengutamakan menjaga akhlaknya kemudian baru berbicara mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini dicontohkan dari lomba tartil yang digelar di Masjid Al Amien Dinoyo.
“Di situ jelas bahwa nilai norma pendidikan agama, nilai norma pendidikan akhlak dari generasi penerus itu adalah pondasi awalnya. Karena itulah kami hadir dan mensupport kegiatan tersebut agar kegiatan-kegiatan ini terus menjadi kontinuitas di daerah-daerah se-Surabaya,” kata Cahyo. Sabtu (11/3/2023).
Cahyo menambahkan, sistem kurikulum pendidikan yang mewajibkan sekolah dari pagi sampai sore sehingga jarang dijumpai anak yang mengaji atau mengikuti kegiatan keagamaan menjadi sebuah problem anak masa kini. Sehingga pihaknya sangat mendukung penyelenggaraan konsep pendidikan generasi bangsa yang mengedepankan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Padahal usia emas pendidikan kepada anak-anak itu di usia 5 sampai 10 tahun, ketika usia di atas 10 tahun maka memberikan doktrin atau edukasi mengenai norma-norma agama itu sedikit ada kendala. Oleh karena itu kami sangat mensupport kegiatan-kegiatan (lomba tartil) seperti itu,” jelasnya.
Menurut Cahyo, di negara maju pendidikan informal menjadi yang utama untuk mengarahkan masa depan anak dan dia berharap sistem tersebut bisa diadaptasi agar generasi muda kota Pahlawan tidak mengalami distraksi sosial. Sehingga DPC Gerindra Surabaya sangat mendukung penuh kegiatan lomba tartil untuk menjaga akhlak penerus bangsa.
“Karena di tangan anak-anak inilah bangsa ini bisa besar,” tegasnya.
Ke depannya, DPC Gerindra Surabaya akan lebih berkomunikasi dengan berbagai tokoh agama untuk mendengarkan permasalahan di masyarakat sesuai arahan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.
“Terkhusus kepada tokoh-tokoh masyarakat, pada kyai, pada ulama, pada pendeta selalu dekat selalu mendengar apapun problem. Karena dari merekalah simpul-simpul permasalahan masyarakat kita bisa memberikan kontribusi dan memberikan problem solving dari masing-masing tokoh ini,” pungkasnya. Byb
Editor : Redaksi