SURABAYAPAGI.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa,sebelum dicopot, sempat bilang mencurigai ada oknum di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang bermain dalam pemeriksaan pajak perusahaan. Kecurigaan itu muncul setelah 40 pabrik baja China ketahuan mengemplang pajak.
Menurut Purbaya, 40 perusahaan itu tidak membayar kewajibannya secara penuh. Purbaya mengatakan persoalan ini terjadi saat pemerintah berupaya membenahi penerimaan negara dengan menutup berbagai kebocoran di sektor Pajak dan Bea Cukai.
“Perpajakan kami dan Bea Cukai kami. Jadi yang bocor-bocor, saya coba tutup. Itu saja sudah mereka seperti itu, dan itu pun belum sempurna. Jadi Pajak dan Bea Cukai masih ada yang main. Contohnya, ada 40 pabrik baja China di sini yang beroperasi, utamanya cash basis. Jadi bayar pajaknya sepersekiannya lah,” kata Purbaya dalam rapat dengan K omite IV DPD RI, di Kompleks Parlemen, Senin (14/9/2026).
Menurut Purbaya, dirinya telah memerintahkan pegawai pajak untuk memeriksa perusahaan-perusahaan tersebut, namun tidak satu pun yang diperiksa. Kondisi itulah yang membuat Purbaya mencurigai adanya pegawai pajak yang bermain.
“Persaingannya enggak cukup fair untuk perusahaan domestik. Perusahaan domestik bayar penuh, dia enggak bayar. Cash basis, uangnya lari keluar negeri. Saya perintahkan pegawai pajak untuk periksa, satu pun enggak diperiksa. Jadi dari itu saya gampang nyimpulnya berarti mereka main sebagian,” tuturnya.
Purbaya kemudian mencontohkan salah satu perusahaan di Pulogadung yang akhirnya diperiksa. Menurutnya, perusahaan tersebut memiliki kewajiban pajak sedikitnya Rp 200 miliar, bahkan nilainy bisa mendekati Rp 1 triliun.
“Makanya saya sidak ke beberapa. Itu saja kelihatan yang di Pulogadung. Dia si sopan, gini-gini. Tapi setelah kita periksa, pajaknya harusnya mereka punya utang ke saya minimal Rp 200 miliar. Tapi kalau ditekan lebih kenceng lagi, dengan aturan lebih ketat, itu mendekati Rp 1 triliun satu perusahaan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Purbaya berjanji membenahi kebocoran-kebocoran yang terjadi seperti kasus tersebut. Ia juga berkomitmen menciptakan iklim usaha yang lebih adil bagi perusahaan domestik demi penciptaan lapangan kerja.
“Jadi yang gitu-gitu saya akan perbaiki terus ke depan. Pertama tadi meningkatkan pendapatan saya. Kedua, membuat saya lebih fair untuk pengusaha domestik, sehingga pengusaha domestik bisa hidup dan terjadi penciptaan lapangan kerja yang lebih besar,” tutup Purbaya. erc, jk
Editor : Redaksi