Ritual Politik Jelang Pilkada Jatim 2018

Ada Tokoh Parpol dan Birokrat, Mandi di 7 Pancuran

surabayapagi.com
Gunung Lawu menyimpan sejuta misteri. Gunung yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini dipercaya memiliki kekuatan gaib yang misterius. Tak heran gunung yang dianggap keramat ini menjadi tempat istimewa melakukan ritual. Termasuk ritual politik menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018. Kabarnya, sejumlah tokoh politik yang bakal ikut kontestasi Pilgub Jatim sudah melakukan ritual di Lawu. Benarkah? Berikut laporan wartawan Surabaya Pagi Ibnu F. Wibowo dan Luxi Noviasari yang dirangkum Ali Mahfud. ------------ Keriuhan Pilgub Jatim 2018 ternyata memiliki sisi irrasional, atau biasa disebut klenik (mistis). Informasi yang didapat, sudah ada sejumlah tokoh beserta tim sukses melakukan ritual di Gunung Lawu. Apalagi Lawu yang diyakini masyarakat sebagai keraton para mahluk halus di tanah Jawa ini, ternyata juga menjadi tempat ziarah para Presiden RI. Karenanya, gunung yang memiliki tiga puncak tersebut juga sebut-sebut bahwa restu yang diberikan dari sesepuh di sana, sangat manjur bagi mereka yang ingin menjadi Presiden sekalipun. Salah seorang budayawan dan juga guru spiritual yang enggan disebut namanya menyebutkan, tokoh salah satunya tokoh yang datang itu dari elit PDIP. Informasi itu dikuatkan dari laporan dari budayawan lain yang juga menjadi guru spiritual di Gunung Lawu. “Ya teman-teman bilang, Pak ini ke sini. Saya tanya, ngapain? Ya ritual biasa,” jelasnya ketika ditemui di Surabaya, kemarin. Terkait ritual yang dilakukan oleh tokoh tersebut, ia menjelaskan pada dasarnya ritual yang dilakukan oleh setiap orangnya bisa berbeda-beda. Hal tersebut bergantung dari siapa guru spiritual yang digunakan. “Tapi, kalau bapak dari PDIP itu, beliau melakukan mandi di tujuh pancuran alami yang ada di sana. Dan memang itu bergantung siapa yang bawa untuk tahapannya. Itu juga harus hati-hati, momen gini bisa bermunculan dukun-dukun palsu,” jelasnya lebih lanjut. Disinggung terkait mahar yang harus diberikan untuk melakukan ritual tersebut, ia menjelaskan bahwa hal tersebut bisa berbeda-beda. Bergantung dengan di mana lokasi ritual dilakukan. “Karena, berbeda tempat itu beda yang diminta. Kalau Lawu, ini mahal sekali. Karena yang diminta minyak. Bukan sekedar minyak, tapi minyak dengan kualitas bagus yang harganya juga sangat mahal. Belum lagi jumlah yang diminta ini juga sangat banyak,” bebernya. Di sisi lain, menurut budayawan tersebut, bukan hanya elit PDIP saja yang sudah melakukan ritual. “Yang di Pemprov, yang di Birokrat, yang sampai sekarang belum jelas arahnya, itu juga sudah ke sana. Bahkan, saya bisa bilang kalau setelah ini akan mulai tahapan ritual mereka yang kedua. Untuk meminta restu lebih lanjut,” papar dia. Wagub Jatim Saifullah Yusuf yang akan maju sebagai Cagub pada Pilgub Jatim 2018 menanggap datang ke tempat-tempat khusus seperti Gunung Lawu merupakan hal yang sah-sah saja untuk dilakukan. Hanya saja, menurutnya, kedatangan tersebut dilakukan untuk berdoa. “Atau bisa juga untuk evaluasi dan merenung. Tapi, kalau untuk meminta sesuatu, itu sangat tidak dibenarkan,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul ini. Sugesti Leluhur Menanggapi fenomena tersebut, budayawan yang juga Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Taufik Monyong menilai apa yang dilakukan tokoh-tokoh tersebut adalah bentuk sugesti leluhur semata. Sugesti tersebut, menurut Taufik, diberikan agar anak cucu mereka tidak serta merta melupakan pelestarian lingkungan. “Kalau nggak gitu, bisa-bisa lingkungan kita rusak kan? Selain itu, di sisi lain, saya juga menganggap itu cara leluhur agar para pemimpin tidak melupakan rakyatnya yang berada di daerah terpencil. Kalau dengan ada hal-hal begitu, maka para Pemimpin ini kan pasti berkunjung dan memperhatikan kondisi masyarakat disitu kan,” sebut pria yang selalu berdandan nyentrik tersebut ketika ditemui di kantor Dewan Kesenian Jawa Timur. Mengapa Lawu? Salah satu pengamat dan ahli spiritual yang sangat mengerti seluk beluk Gunung Lawu, Polet yang akrab dipanggil Pak Po mengatakan Lawu adalah pusat budaya dan kegiatan spiritual Jawa. Sudah sejak jaman dahulu, Lawu menjadi tempat untuk laku spiritual para tokoh dan negarawan. Sejak Jaman Kraton sampai saat ini. Puncak Hargo Dumilah merupakan tempat sakral yang sering digunakan untuk semedi, meditasi atau mengolah kebathinan. Karena Gunung Lawu memiliki sejarah dan mistik tinggi. Dan dipercaya sejak turun temurun digunakan para raja dan para pemimpin Negara dan daerah sebagai tempat menyepi, mencari wangsit atau petunjuk dari Tuhan YME. “Tidak sembarang orang mampu mendaki Gunung Lawu. Semua harus berawal dari niat yang baik. Karena di sana banyak melewati tempat keramat. Banyak pantangan atau larangan yang harus diikuti. Hati, pikiran, ucapan dan perbuatan harus bersih. Jadi jika niatnya sudah tidak benar jangan harap bisa mencapai puncak Lawu,” ujarnya Cara Realistis Sementara itu, Sekretaris DPW PKB Jawa Timur Badrut Tamam berpendapat hal-hal yang berbau klenik dan mistis tersebut sebaiknya dihindari oleh setiap tokoh yang ingin berlaga di Pilkada. Pria yang juga hendak maju sebagai Calon Bupati Pamekasan tersebut beranggapan, langkah realistis lebih penting untuk memperoleh kemenangan dalam pesta demokrasi. “Seperti misalnya, membangun relawan yang massif dan konsolidasi dengan konstituen. Kalaupun, langkah yang irrasional, kan lebih baik dengan aktivitas religious. Seperti, silaturahmi dengan Kyai atau berziarah dan mengadakan pengajian untuk berdoa,” ujar Badrut. Badrut menambahkan, bentuk-bentuk meminta restu tersebut dapat menjadi indikasi bahwa adanya paranoid dari mereka yang datang meminta restu tersebut. “Kalau ada tokoh politik yang belum apa-apa sudah paranoid, atau katakanlah takut kalah, itu tindakan yang keterlaluan,” pungkasnya. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru