SURABAYAPAGI.com-Surabaya, Industri kreatif di era modern seperti ini mulai banyak digeluti. Seperti halnya penerbitan indie yang berbasis di Surabaya dan tengah naik daun yaitu Penerbit Delima. Penerbitan yang digawangi Alek Subairi itu berdiri sejak tahun 2014.
Latar belakang laki-laki kelahiran 5 Maret 1979 itu mendirikan penerbit indie karena penjualan buku-buku indie bisa diakses melalui online sehingga antara penulis dan pembaca bisa lebih berinteraksi. “Karena bagi para penulis yang belum memiliki nama akan sulit sekali menerbitkan naskahnya di penerbit mayor,” ujarnya.
Alek juga menjelaskan, di wilayah itu penerbit-penerbit indie bergerak, sehingga punya ruang untuk menyerap beberapa karya yang sulit diterbitkan di penerbit mayor, misalnya karya puisi, cerpen dan kritik sastra.
Keunikan dari Penerbit Delima, bisa mencetak preorder dan bisa bermain lebih leluasa tentang cover dan performa buku sehingga lebih kreatif. Hal itu menjadi satu keuntungan tersendiri karena para penulis bisa mencetak terbatas, sesuai keinginan.
Sementara untuk pangsa pasarnya, Penerbit Delima lebih mengarah ke genre sastra. “Selain karya-karya para penulis sastra yang memiliki potensi namun namanya belum besar juga ada beberapa buku yang ditulis bersama membuat satu kumpulan, buku-buku pendidikan, edukasi dan biografi,” ujar Alek, ketika ditemui di kantornya, di daerah Jambangan.
“Selain Penerbit Delima yang menggarap khusus untuk kategori sastra, di sana juga memiliki lini penerbitan bernama Tankali khusus buku-buku non-sastra, dan penerbitan Pustaka Lima khusus karya pop,” lanjutnya.
Ada dua metode yang diterapkan di Penerbit Delima untuk mendongkrak penjualan. Yang pertama adalah Penerbit Delima menyaring sendiri naskah-naskah para penulis yang kemudian dilamar, seluruh biayanya ditanggung oleh penerbit dan penulis mendapatkan royalti sekitar 10% sampai 15%.
Yang kedua adalah self-publishing, semua pembiayaannya ditanggung oleh penulis, namun ada standart naskah yang layak terbit. Sampai saat ini, mengacu pada isbn yang telah diurus, ada sekitar 15 judul buku sastra, berisi kumpulan puisi, cerpen dan esai sastra. Sementara untuk buku di luar sastra, juga ada sekitar 15 judul buku yang diterbitkan.
Penjualan buku-buku terbitan Pustaka Delima tidak hanya bergantung pada media online, tapi juga ketika acara bedah buku yang mengundang penulis buku. Namun, menurut Alek, juga ada bulan-bulan tertentu yang sangat banyak sekali order sehingga kewalahan dan ada bulan-bulan yang sepi. Kelonggaran itu digunakannya untuk menggarap karya-karya sendiri. riz
Editor : Redaksi