SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Home Industri camilan dan makanan ringan milik Sri Wahyuni warga Desa/Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan Jawa Timur ini, sepertinya tidak pernah berhenti berinovasi, dalam meningkatkan kreativitas dan pendapatan.
Bagaimana tidak, meski sudah cukup banyak hasil produksi camilan yang dipasarkan, pemilik CV Lembah Hijau ini kembali berinovasi dengan membuat kerupuk dengan berbahan kopi yang rasanya lezat dan digemari masyarakat.
Kini kerupuk hasil inovasinya ini, bahkan sudah merambah ke luar negeri, meski di dalam negeri baru sekitar tiga daerah Maluku, Palangkaraya dan Padang."Untuk sementara pemasaran di dalam negeri, saya konsentrasi di wilayah itu, karena peminat kerupuk kopi ini tersebar di tiga tersebut, "terang Sri Wahyuni Minggu (1/10/2017).
Sedangkan untuk luar negeri, kerupuk hasil produksinya itu dikirim ke Malaysia, bahkan lanjut Wahyuni panggilan akrabnya, kerupuk buatannya nanti akan dipamerkan di Malaysia pada bulan November 2017 mendatang. “Kita akan bawa, kita sudah packing, permintaan di sana sudah banyak. Kebetulan yang minta Datuk-datuk yang punya cafe-cafe itu yang kita masukin,” tuturnya.
Ditambahkan Wahyuni, munculnya ide membuat kerupuk dari bahan kopi ini, berawal dari potensi dan permintaan pasar akan produk kerupuk berbahan biji-bijian itu, dirinya lantas memanfaatkan dengan membuat inovasi terhadap biji kopi untuk diubah menjadi kerupuk yang bernilai ekonomi tinggi.
“Ide kita buat kerupuk kopi karena di sini belum ada yang bikin, karena permintaan cafe-cafe gitu mesti ngopi, kalau ngopi ada angkringannya pasti ada kerupuk kopinya,” ucapnya.
Lebih lanjut, Yuni mengatakan untuk mengolah hasil inovasi kopi sebagai bahan dasar kerupuk ini, tidak membutuhkan proses yang rumit. Menurutnya, proses pembuatannya tak ubahnya seperti membuat kerupuk pada umumnya.
“Kita pembuatannya, dengan bahan tepung tapioka, bubuk kopi, tepung kentang dan bumbu lainnya. Semuanya, bumbu dimasukkan, digiling, diuleni sampai kalis, kemudian di kukus, diamkan semalam diiris, dijemur baru digoreng,” ucapnya.
Namun, untuk “kekentalan” rasa kopinya, sambung Yuni disesuaikan dengan permintaan pasar. Sebab, masing-masing pemesan memiliki selera yang berbeda.
“Kita inovasi berdasarkan pasar tiga pulau yang kita kirim, berdasarkan taste kopinya, jadi tiap pulau rasanya tidak sama. Ada yang minta rasa pahit kita tambah kopinya lebih banyak, juga ada yang sedang,” tuturnya.
Atas hasil inovasi pembuatan kerupuk kopi ini, dirinya mampu mendulang jutaan rupiah setiap bulannya. “Kapasitas produksi kita tiga sak tepung sak tapioka, atau 75 tepung per harinya,” ujarnya menambahkan.
Sementara itu, bertepatan dengan Hari Kopi se-dunia 1 Oktober 2017 ini, produk kerupuk kopi akan dilaunching di berbagai ritel modern. “Bulan oktober ini launching masuk ke Carrefour di Jawa Timur dan beberapa cafe di Surabaya,” ucapnya.jir
Editor : Redaksi