Pengakuan Ibu Kandung Anis, Korban Tewas Bentrokan PSHT dan Bonek

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Waktu menunjukkan pukul 20.00 Wib, Minggu (1/10/2017). Seorang perempuan berjilbab terlihat lunglai duduk di bangku tunggu Kamar Mayat RSU dr Soetomo Surabaya. Sesekali ia mengusap air matanya yang tiba-tiba berderai. Wajahnya nampak putih pucat. Matanya terlihat sembab dan memerah. Sementara sang suami ibu itu, sibuk mondar mandir ke ruang registrasi jenasah. Perempuan itu bernama Tarisih. Sementara sang suami, bernama Daud. Pasangan suami istri (pasutri) ini merupakan orang tua dan Anis alias Paijo, pemuda 20 tahun yang menjadi salah satu korban bentrok, antara PSHT dan Bonek di pertigaan Karangpoh-Balongsari Surabaya, Minggu (1/10/2017) dini hari kemarin. Pasutri ini merupakan pasutri asli Simorejo Baru, Bojonegoro. "Sudah sejak 1995 saya dan bapak kontrak di Surabaya. Saat itulah kami mencari sesuap nasi dan berjuang untuk membesarkan anak kami Anis. Hingga saat ini dia menikah dan punya satu anak," sebut Tarisih lirih saat ditemui di kamar mayat RSU dr Soetomo, disela menunggu otopsi jasad anaknya itu. Sebelum menikah dan punya anak, imbuh Tarisih, Anis anaknya itu tinggal bersamanya di rumah kontrakannya di Simo Pomahan Gang XI, Surabaya. Tapi semenjak Anis menikah, dia tinggal di rumah mertuanya di Simo Pomahan Gang 3 No 41 Surabaya. "Anaknya masih kecil. Seminggu lagi mau mitoni (7 bulan) kelahiran anaknya," ujarnya sambil meneteskan air mata. Namun meski sudah menikah dan memiliki anak, Anis tetap menjadi tulang punggung keluarganya. Gaji Anis sebagai buruh pabrik, sebagian dipakai untuk menyekolahkan adik perempuannya yang masih berusia 3 tahun. "Saya tidak menyangka, anak saya pergi secepat ini. Pelakunya harus ditangkap dan dihukum seberat-beratnya. Jangan diampuni. Kasihan istri dan anaknya," tuturnya dengan matanya yang terus berkaca-kaca. Tentang anaknya yang disebut-sebut sebagai anggota PSHT, Tarisih menyebut, anaknya hanya sesekali ikut pergi bersama Eko Ristanto, yang tak lain adalah saudara sepupu. Tarisih juga mengaku tidak tahu jika anaknya saat itu (Sabtu, 30/9/2017 malam - Minggu, 1/10/2017) ikut pergi bersama Eko. Sebab, Anis tak lagi tinggal serumah dengannya. Jasad Anis sendiri, kata Tarisih, akan disemayamkan dan dikebumikan di Simo Pohaman Surabaya. Sedangkan jasad Eko, keponakannya, dibawa ke Tlogorejo, Kepuh Baru, Bojonegoro. "Sekali lagi, saya minta kepada Pak Polisi. Agar menangkap pelakunya. Hukum seberat-beratnya Pak. Jangan dikasih ampun," tandas Tarisih. Anis dan Eko sendiri, merupakan korban bentrokan antara PSHT dan Bonek di pertigaan Karangpoh-Balongsari, Tandes Surabaya, pada Minggu (1/10/2017) dini hari sekitar pukul 01.45 Wib. Keduanya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 02.30 Wib setelah sempat dilarikan ke Rumah Sakit Muji Rahayu, Tandes Surabaya. bkr

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru