SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Era transisi demokrasi yang kita masuki sejak 1998 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Hal tersebut terjadi menyusul tumbangnya rezim otoritarian Orde Baru yang telah berkuasa selama 30 tahun lebih
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dalam kuliah umumnya di Universitas Airlangga, (2/10) memaparkan bahwa dibalik kondisi tersebut, sesungguhnya ada hal menarik yang bisa dicatat. Meskipun, menurutnya, demokrasi di Indonesia belum kunjung terkonsolidasi.
"Apa gerangan yang membuat demokrasi kita tidak kunjung terkonsolidasi? Apakah kita tidak punya cukup modal sosial untuk membangun demokrasi? Konon katanya membangun demokrasi perlu kesabaran, apakah benar? Lalu, seberapa banyak cadangan kesabaran kita untuk itu?" Kata Muhaimin.
Mantan Menakertrans tersebut, lebih lanjut menjelaskan bahwa saat inipun, kekecewaan terhadap proses demokrasi di Indonesia. Hal tersebut, bisa dilihat dari beberapa fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. "Seperti misal, HTI yang dulu sempat mengampanyekan sistem khilafah sebagai pengganti demokrasi," jelasnya.
Akan tetapi, menurut Muhaimin, bukan berarti tidak ada yang bisa dipetik dari proses demokrasi yang tengah terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah status Indonesia sebagai negara demokratis terbesar di dunia.
"Karena, Pemilu kita untuk semua level pemilihan, dapat dilaksanakan secara berkala dan bebas serta damai plus hampir tanpa interupsi. Itu indikator utama adanya demokrasi," tutupnya. ifw
Editor : Redaksi