Gedung Putih Tolak Berdialog dengan Korut

surabayapagi.com
Ini bukan pertama kalinya Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri tampak bertentangan terkait masalah kebijakan. Namun ketika ditanya apakah Trump masih memiliki kepercayaan pada Sekretaris Negara Rex Tillerson sebagai sekretaris negara, juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan, "Dia masih percaya." WASHINGTON DC, John Robbinson. Gedung Putih mengesampingkan perundingan dengan Korea Utara (Korut) terkait isu nuklir kecuali untuk membahas nasib warga Amerika yang ditahan di sana. Pernyataan ini berseberangan dengan Tillerson yang mengatakan Washington mempunyai saluran langsung untuk berkomunikasi dengan Pyongyang terkait program nuklir dan rudalnya. "Kami sudah jelas bahwa sekarang bukan saatnya untuk berbicara," kata Sanders. Pernyataan ini mengulangi sebuah cuitan dari Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu yang dianggap meremehkan Tillerson. "Satu-satunya percakapan yang terjadi adalah bahwa akan membawa pulang orang-orang Amerika yang telah ditahan. Di luar itu, tidak akan ada pembicaraan dengan Korea Utara saat ini," tegas Sanders seperti dikutip dari Reuters. Sementara itu seorang pejabat senior pemerintah mengatakan bahwa Tillerson salah bicara. "Saya pikir itu hanya dia salah bicara. Dia hanya mengakui fakta bahwa kami memiliki saluran dan kami mungkin memiliki alasan untuk berbicara jika perilaku Korea Utara berubah sewaktu-waktu," kata pejabat tersebut. Sebelumnya Tillerson mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) secara langsung berkomunikasi dengan Korut mengenai program nuklir dan misilnya, namun Pyongyang tidak menunjukkan minat untuk berdialog. Pernyataan Tillerson ini pun dibalas oleh Trump. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Tillerson hanyalah pemborosan waktu. "Saya mengatakan kepada Rex Tillerson, sekretaris negara kita yang luar biasa, bahwa dia menyia-nyiakan waktunya untuk bernegosiasi dengan Little Rocket Man," Trump menulis di Twitter, menggunakan julukan sarkastik untuk Kim. "Hemat energi Anda, Rex, kita akan melakukan apa yang harus dilakukan!" Trump menulis. 05

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru