SURABAYAPAGI.com, Gresik - Dengan semakin menjamurnya warung remang-remang yang menyediakan peramu seks komersial, mengundang keprihatinan pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik.
MUI daerah ini, menilai bahwa slogan Kabupaten Gresik sebagai Kota Santri, sudah mulai tergerus oleh menjamurnya warung remang-remang alias warung pangkuh.
Hal ini diakui oleh Ketua MUI Gresik KH Mansoer Shodiq saat membuka dialog bertema "Masih Pantaskah Slogan Gresik Sebagai Kota Santri?" di Masjid Agung Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Gresik, kemarin.
Selain warung pangku, praktik rentenir yang belakangan marak dan meresahkan, juga bagian dari bukti bahwa julukan kota wali sebagai kota santri tercederai. Sehingga wajar jika kalangan ulama daerah ini, mengaku galau. Bahkan bertanya-tanya masih pantaskah Gresik dijuluki sebagai kota santri?.
Sementara itu, ustaz Misbah yang memimpin dialog tersebut, slogan kota santri yang disandang Gresik tergerus menjadi kota industri. Hal ini terjadi, karena pemerintah daerah seolah tak serius melestarikan slogan kota santri ini secara nyata di tengah masyarakat.
Faktanya, hingga kini Pe.kab Gresik masih kesulitan menemukan indikator sebagai kota santri. Sementara itu, julukan ini sudah terus digaungkan dan kini membumi di masyarakat. Disatu sisi, perilaku di tengah kehidupan masyarakat sudak tak lagi menunjukkan sebagai masyarakat agamis (taat beribadah).
"Padahal tolak ukur kita selama ini dengan julukan kota santri karena Gresik ini banyak pondok pesantren, memiliki dua wali tersohor yakni Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri ditambah masyarakatnya yang masih religius," terang Misbah
Mantan Bupati Gresik Robach Maksum mengajak MUI Gresik berjuang dalam memerangi keberadaan warung pangkuh, rentenir maupun aktivitas yang bertentangan dengan slogan kota santri ini.
"Kalau ada warung pangkuh, ya kita MUI berjuang memeranginya dan mempertahankan Gresik sebagai kota santri," sarannya. Mis
Editor : Redaksi