Elektabilitas Presiden Joko Widodo dalam sejumlah survei lembaga berbeda menunjukkan angka di bawah 50 persen. Hasil ini berbanding terbalik dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi-JK. Ini menguatkan pendapat yang mengatakan bakal calon presiden (capres) memiliki peluang yang sama dengan Jokowi pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019.
---------
Kalkulasi hasil survei terkait elektabilitas Jokowi itu bisa dilihat dari beberapa lembaga survei. Seperti hasil Litbang Kompas yang mengadakan survei berkala pada Januari Hingga April 2017. Hasil survei itu menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai 41,6 persen.
Kemudian, Pada 14-20 Mei 2017, SMRC adakan survei opini publik. Hasil survei ini menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai 34,1 persen. Pada 23-30 Agustus 2017, CSIS lakukan survei, hasil survei menunjukkan elektabilitas Jokowi cukup tinggi, yakni 50,9 persen.
Selanjutnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei mereka pada 14 -22 September 2017. Dari hasil survei tersebut, elektabilitas Jokowi menunjukkan angka 36,2 persen. Namun di lain pihak SMRC mengumumkan angka lebih tinggi, yakni elektabilitas Jokowi mencapai 38,9 persen. Angka ini meningkat dibandingkan dengan hasil survei mereka.
Dari sejumlah data elektabilitas tersebut dapat disimpulkan, terjadi penurunan elektabilitas Jokowi hingga mencapai di bawah 40 persen. Bahkan, angka tersebut mendekati 35 persen. Padahal, tingkat elektabilitas Jokowi sebelumnya di atas 50 persen.
Jika ditarik rata-rata dari angka semua lembaga survei di atas, tetap mengalami penurunan, yakni rata-rata sekitar 40 persen. Sebagai petahana, elektabilitas Jokowi kini jauh di bawah perolehan suaranya pada Pilpres 2014, yaitu di atas 50 persen.
Elektabilitas Jokowi di bawah 50 persen juga ditunjukkan lembaga kajian KedaiKopi. Survei ini bahkan menggunakan pendekatan yang lebih tegas, yakni opsi pilihan Jokowi dan bukan Jokowi. Hasilnya, elektabilitas Jokowi adalah sebesar 44,9 persen. Sementara yang memilih opsi jawaban selain Jokowi ada 48,9 persen. Sisanya tidak menjawab.
Dengan data-data tersebut, peluang calon lain memiliki kesempatan sama untuk bertarung di Pilpres 2019. Entah itu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, bahkan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun anaknya, Agus Yudhoyono memiliki peluang yang sama dengan Jokowi untuk memenangi kompetisi Pilpres 2019.
Terlebih lagi belakangan ini mengindikasikan elit partai sudah mulai perang terbuka jelang Pilpres 2019. Ini terlihat dari sejumlah isu yang mencuat seperti isu bangkitnya PKI, anti Pancasila atau isu intoleran. Ini juga mengindikasikan situasi panas Pemilihan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu akan terulang kembali pada Pilpres 2019 dan akan menjadi gejala nasional. Parpol sudah mulai memetakan dirinya masing-masing. Termasuk dengan survei-survei.
Kendati begitu, diharapkan akan terwujud perilaku politik yang santun dan kompetisi yang sportif dalam berbagai perhelatan politik, terutama menjelang Pilpres 2019. Parpol dan elite dinilai harus menunjukkan kepada masyarakat bagaimana politik yang baik, jangan malah bikin gaduh. n
Editor : Redaksi