SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Sesuai ramalan dan prediksi banyak pengamat politik, siapa bakal calon Gubernur (bacagub) dan bakal calon Wakil Gubernur (bacawagub) Jawa Timur dari PDIP. Akhirnya diumumkan langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno putri.
Ramalan Gus Ipul-Anas, bakal bersanding mewujudkan "Bang-jo" dalam Pilgub Jatim, Juni 2017, direspon Katua Umum PDIP, Megawati. Dengan pengumuman di Jakarta, Minggu tadi (15/10/2017), spekulasi cawagub Gus Ipul, terhenti. Sebelumnya beredar kabar Gus Ipul, bakal didampingi Azwar Anas, Kanang, Kusnadi dan Risma. Kini, bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang diusung PDIP untuk mendampingi Gus Ipul, yang dipilih PKB.
Nama keduanya diumumkan langsung oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di Kantor DPP PDIP, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat. Megawati didampingi oleh sederet pengurus PDIP.
Saifullah Yusuf adalah Wagub Jatim saat ini sementara Abdullah Azwar Anas merupakan Bupati Banyuwangi yang saat ini menjalani periode keduanya.
Dengan pilihan Anas menjadi cawagub Gus Ipul, maka pasangan PKB-PDIP ini, sama-sama dari tapal kuda.
Maklum, Gus Ipul, kelahiran Bangil, Pasuruan dan Azwar Anas, kelahiran Banyuwangi. Bisa jadi, Gus Ipul - Anas, akan merebut suara penuh di Tapal kuda.
Lalu, apakah suara di mataraman, arek, pantura dan Madura, "dilepas" untuk pasangan lainnya. Walahualam.
Megawati Sukarnoputri menegaskan, bahwa untuk Pilkada Jawa Timur, PDI-P mengusung Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas. Gus Ipul sudah dikenal lama sejak sama Gus Dur. Cicit pendiri NU. “Calon Gubernurnya Gus Ipul, cawagubnya Abdulla Azwar Anas. Kalau Anas itu anaknya Lincah dan generasi milenial, dan Anas ini dari PDI Perjuangan,” ujar Mega, di depan para pengurus PDIP, Minggu (15/10).
“Awas ya kalau tidak menang, PDI-P harus solid,” perintah Bu Mega yang pada saat itu juga langsung menandatangani rekomendasi tersebut.
Megawati menambahkan, pilkada kali ini untuk 2018, jumlahnya 171 diantaranya 17 Provinsi dan 154 kab/kota. Pada pagi hari ini, meski sudah pengumuman calon bukan berarti selesai. Justru saya sebagai ketum, karena bagi PDI-P untuk mencari pasangan calon itu bukan menggunakan politik praktis. “Asal ada nama bagus, bukan begitu, ada titik tolak utama mencari orang dipaaanhkan dan dapat menjalankan pemerintah dibdaerahnya sebagai pemimpin yang baik,” terang putri proklamator Bung Karno ini.
Mega mengatakan ke jajaran partai, bukan hanya internal. Tapi jugaeksternal apalah mumpuni untuk memimpin. “Tidak mudah cari calon yang mumpuni,” jelasnya.
Paling tidak dapat mencapai, mumpuni itu mendekati sempurna. Yang bisa mengayomi rakyatnya. Tidak hanya mencark kekuasaan saja. Banyak orang yang ingin jadi kepala daerah. Ini lucu, banyak yang mengaku dapat restu ketua umum, dekat dengan ketum.
Mega memastikan, keputusan ini tidak ada like dan dislike, orang ini memimpin bagi indonesia bukan untuk dirinya sendiri.
Setelah ada masukan dari HIMSI, cerdas, baik, jujur tapi termyata bukan pemimpin. Kita mencari pemimpin berdasarkan obyeltif dan sesuai kondisi daerah. “Bagi PDI Perjuangan kalah dan menang itu biasa, kuta lihat yang menang bisa jadi pemimpin apa tidak,” jelasnya.
Makanya saya seperti bertapa. Saya melihat anak-anak muda punya potensi. Tapi dia baru. Maka saya minta ada sekolah kepala daerah.
Tolong semuanya, kata Mega, baik di internal maupun eksternal, Nggak perlu lah ngomong, lalu bilang dapat restu ketum. “Harus saya tegaskan, rekom PDI Perjuangan yang hanya ditandatangani ketua umum. Ada tanda rahasia yang hanya diketahui ketum. Beberapa kali terjadi tandatangan dipalsukan. Tidak bisa seseorang mengatasnamakan, karena ada tanda rahasianya,” paparnya.
Hasto mengatakan, pengumuman ini sebagai proses partai, penjaringan cukup luas dan terbuka menghadapi pilkada serentak 2018. Termasuk didalamnya sudah Melibatkan himpunan ahli psikologi indonesia, lalu mendengarkan aspirasi rakyat. Sebagai proses mekanisme partai yang harus dilakukan. Maka hari ini kita umumkan Cagub-Cawagub Sulsel yudan Jawa Timur. rmc/rko
Editor : Redaksi