Surat Terbuka untuk Ketua Umum PDIP, Megawati yang

Gus Ipul-Anas, Galian Lubang PDIP di Pilpres 2019

surabayapagi.com
Minggu kemarin ( 15/10/2017), satu pasangan bacagub-bacawagub Jatim 2018, sudah resmi dideklarasikan oleh PDIP. Mereka adalah pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdullah Azwar Anas yang diusung PDIP dan PKB. Sedangkan Partai NasDem baru tahap mempublikasikan Khofifah, bakal maju pilgub Jatim. Tapi Khofifah belum mendeklarasikan cawagubnya. Minimal ada lima parpol yang mengusung Khofifah. Benarkah Pilgub serentak Juni 2018, punya kaitan erat dengan pilpres 2019?. Wartawan Surabaya Pagi, H. Tatang Istiawan, akan membuat catatan politik yang dimulai Senin hari ini. Catatan Politik: Dr. H. Tatang Istiawan Ibu Ketum PDIP Megawati, Anda kini sudah memasuki usia 70 tahun lebih. Ini bukan usia produktif untuk pengambil keputusan strategis. Apalagi untuk keputusan menentukan dukungan bagi eksistensi Gubernur sebagai jabatan politik di sebuah provinsi sebesar Jawa Timur. Maka itu, saat saya melihat Anda berpidato menyorongkan Azwar Anas, kader NU yang kini masih menjabat Bupati Banyuwangi, saya tertegun. Mengapa? Anda dengan berapi-api meyakini bahwa pasangan Gus Ipul-Azwar Anas, bukan sekadar urusan warna kiasan hijau dan merah seperti buah semangka. Tapi menyangkut masalah kebangsaan Indonesia. Cara berpikir Anda seperti ini wajar mengundang reaksi dari pimpinan partai politik lain yang selama dikenali oleh publik sedang berselisih dengan Anda. Diantara Ketua Umum Parpol lain adalah SBY, dari Partai Demokrat dan Prabowo, Partai Gerindra. Cara berpikir bahwa Jawa Timur, Anda anggap sebagai masalah kebangsaan Indonesia penting sehingga Anda berkoalisi dengan PKB yang lebih dulu telah menunjuk Gus Ipul, nama panggilan Saifullah Yusuf, menjadi cagub Provinsi Jatim 2018-2023. Saya berpikir pernyataan Anda seperti ini, sepertinya tidak sadar. Maklum, Anda adalah seorang wanita yang dalam bicara tanpa teks, kadang bisa sprained tongue (keseleo lidah). Anda, saat mendeklarasikan pasangan Gus Ipul-Anas, tidak menyinggung kaitan Pilgub 2018 dengan Pilpres 2019. Apakah Anda lupa atau sengaja tidak dikemukakan ke publik, karena menyangkut strategi politik PDIP. Maklum deklarasi 15 Oktober kemarin, puluhan wartawan cetak dan TV meliput. Dalam hitungan menit, pernyataan-pernyataan Anda bisa didengar juga oleh lawan-lawan politik Anda seperti Prabowo dan SBY. Ibu Ketum PDIP Megawati, Apakah Anda sekarang masih menyadari bahwa dalam Pilpres 2014 lalu, Jokowi yang Anda dukung menang tipis atas Prabowo. Lalu, kini Anda memilih mendukung Saifullah Yusuf, yang hanya didukung PKB. Dukungan Anda berwujud menyorongkan Bupati Banyuwangi Azwar Anas, menjadi cawagub Gus Ipul. Sedangkan Prabowo, sampai sekarang belum bergerak mendeklarasikan cagub dan cawagubnya. Apakah keputusan Anda mendeklarasikan kader PDIP dalam Pilgub di Jatim merupakan keputusan strategis untuk memenangkan Jokowi dalam Pilpres 2019?. Apakah Anda masih menyadari bahwa Provinsi Jawa Timur adalah lumbung suara NU dan nasionalis?. Keputusan Anda ini menurut akal sehat saya, bisa dibaca oleh Prabowo. Bisa jadi, dengan peta politik pilgub Jatim yang telah Anda awali dalam bentuk dukungan ke Gus Ipul - Azwar Anas, Prabowo akan mencari sosok yang bisa mengalahkan Saifullah Yusuf dan Anas. Sebagai politisi belas jenderal militer, Prabowo, bisa menghitung kekuatan Gus Ipul - Anas di kantong-kantong suara di mataraman, arek, tapal kuda, pantura dan kawasan madura. Hitungan rasional saya, Prabowo bisa jadi turut mendukung Khofifah, yang dalam dua kali pilgub kalah tipis dari KarSa. Turut bergabung dengan Partai Golkar, NasDem, Hanura, PPP dan Demokrat. Bila ini benar, Anda bisa menjadi Ketua Umum Partai Politik yang menggali lubang sendiri untuk "dikalahkan" lawan. Apalagi bila Khofifah, sudah resmi disetujui oleh Presiden Jokowi, untuk maju dalam pilgub Jatim 2018. Bisa juga, Gerindra mengusung tokoh Jawa Timur yang dianggap bisa melawan Gus Ipul dan Khofifah. Saat ini yang sudah menyebar iklan promosi di jalan adalah La Nyalla Matalitti, Ketua Kadin Jatim, sekaligus Ketua Pemuda Pancasila Jatim dan Wakil Ketua Umum KONI Jatim. Kini, saya termasuk yang membaca, Jokowi juga belum tentu "gabung" dengan Anda menjadi capres 2019. Indikasi ini selain saya dengar dari kasak-kusuk soal calon cawapres Jokowi, tahun 2019, juga faktor kekompakan koalisi Indonesia hebat (KIH). Untuk pilgub Jatim 2018, Surya Paloh, Ketua Umum NasDem, malah mempelopori pengumuman mendukung Khofifah. Juga Golkar dan Hanura. Bahkan Partai Demokrat yang berseberangan dengan Anda, kini malah mensupport Khofifah. Fakta pecahnya kongsi KIH dalam Pilgub 2018, apakah sudah Anda hitung bahwa sebagai leader KIH, Anda sudah mulai meredup, karena usia yang semakin tua. Disamping Anda sudah tak punya partner bertukar pikiran luar dalam, seperti Taufik Kiemas. Kini Taufik yang mendampingi Anda tidak hanya menjadi suami, telah berpulang ke rahmatullah. Dan Anda sampai kini, masih menjanda. Pada posisi Jokowi, seperti sekarang, secara politis, ia rentan tidak memilih cawapres yang Anda sodorkan. Gejala kasat mata, saat ini Jokowi sepertinya telah "disetir" oleh pendiri MetroTV, Surya Paloh. Sementara Anda, tidak punya stasiun TV swasta. Dengan analisis berdasarkan informasi yang saya peroleh serta indikasi diatas, menurut perhitungan saya, Jokowi besar kemungkinan akan mengandalkan Khofifah, daripada Saifullah Yusuf. Lebih-lebih, bila dalam pilgub 2018 nanti, mesin politik partai yang Anda pimpin tidak bekerja all-out, bukan tidak mungkin Gubernur Jatim diraih oleh Khofifah, bukan Saifullah Yusuf. Sekiranya analisis saya ini kelak benar, partai yang Anda pimpin sudah tiga kali kalah dalam Pilgub di Jatim. Bukan tidak mungkin karir politik Anda tenggelam, kalah bersaing dengan partai politik yang mengikuti regenerasi kepemimpinan. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru