SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Banyaknya nama-nama birokrat yang meramaikan bursa Pilkada serentak, dinilai sebagai bentuk dari lemahnya kaderisasi dari partai politik. Para Birokrat tersebut, meramaikan bursa baik pada Kepala dan Wakil Kepala Daerah.
Seharusnya, proses kaderisasi dari partai politik mampu mencetak kader-kader yang mampu mengelola pemerintahan. Bukan hanya mencari kader instan dari kalangan birokrat.
Pengamat Politik asal UIN Sunan Ampel Surabaya Akhmad Muzakki berpendapat bahwa, trend maraknya birokrat yang terjun ke dalam dunia politik melalui Pilkada merupakan kemunduran kaderisasi dari partai politik. Menurutnya, dengan banyaknya nama-nama birokrat yang masuk ke dalam bursa Pilkada merupakan bukti proses kaderisasi yang dilakukan oleh partai politik kurang berjalan baik.
“Ketika banyak birokrat-birokrat yang namanya masuk ke dalam bursa pilkada, ini merupakan bentuk kemunduran dan lemahnya proses kaderisasi dari partai politik. Salah satu tugas partai politik adalah melakukan kaderisasi agar para kadernya siap untuk memimpin. Bukan malah mengambil kader instan dari para birokrat” kata pria yang juga Dekan Fisip UIN Sunan Ampel tersebut.
Muzakki menjelaskan, para birokrat memang memiliki keunggulan dibanding para politikus. Menurutnya, birokrat sudah secara alami dicetak dan dibentuk untuk menangani operasional teknis pemerintahan. Sehingga, para birokrat dianggap memiliki keunggulan di bidang tersebut.
“Birokrat ini secara alami sudah dicetak untuk menangani operasional teknis pemerintahan. Disitulah keunggulan para birokrat dibanding para politikus. Karena proses pengambilan kebijakan ini identik dengan operasional teknis” tegasnya. ifw
Editor : Redaksi