Surat Terbuka untuk Elite Politik Jelang Pilkada J

Anas-Emil, Cawagub Generasi Milenial, Semoga Punya Spirit Anti Korupsi

surabayapagi.com
Elite Politik Pilgub Jatim 2018, Setyo Novanto, belakangan ini jadi sorotan. Mayoritas tokoh politik seperti Wapres Jusuf Kalla, Surya Paloh, Mahfud MD, justru mempertanyakan kesadaran atau ketaatan hukum Setnov pada lembaga penegak hukum. Adalah ironis, Setnov, publik figur akan di DPOkan oleh KPK, terkait dugaan korupsi E-KTP yang merugikan Negara Rp 2, 3 triliun. Selain DPO (Daftar Pencarian Orang), Setnov, juga dilakukan penangkapan, karena Rabu malam saat digerebek di rumahnya, menghilang hingga Kamis semalam. Praktis kini, Setnov, telah menjadi sorotan publik. Ada yang pro dan kontra terhadap cara dia menyikapi pemanggilan KPK, baik sebagai saksi maupun tersangka. Setnov mengesankan seolah tidak taat hukum. Ini sepertinya, Setnov tidak sadar bahwa ia adalah penyelenggara Negara yang mesti mengikuti norma hukum yang ditetapkan lembaga penegak hukum. Maka itu, saya juga terkesima saat terjadi penggerebekan Rabu malam di rumah mewahnya yang ditaksir diatas Rp 200 miliar. Kemana Setnov kini berada? Elite Politik Pilgub Jatim 2018, Menurut data di KPK, sekitar 32 persen tersangka korupsi yang ditangani KPK adalah kader politik. Antara lain ada kader politik Gerindra dan PKB yang duduk di DPRD Jawa Timur. Sebelumnya, ada mantan Ketua Umum Demokrat, Anas Urbaningrum, M. Nazaruddin mantan bendahara partai demokrat), Angelina Sondakh, dan Andi Malarangeng. Menyusul Waode Nurhayati (PAN) dan Lutfi Hasan Ishaq, Presiden PKS) dan kader partai Golkar penggadaan Alquran, serta kader PDI-P yang korupsi dalam proyek PLTU tahun 2004. Pertanyaannya, mengapa generasi milenial sekelas Anas, Andi dan Angelola, bersikap apolitis? Apakah mereka melihat perilaku partai politik tidak memberikan harapan? atau justru dengan menjadi elite partai politik, memberi spirit mengambil uang APBN dan APBD? Ada apa kader partai politik seperti Anas cs, tidak mendukung gerakan antikorupsi?. Ironisnya lagi, saat KPK menangani kasus dugaan korupsi E-KTP, elite partai politik di DPR-RI beramai-ramai berusaha melemahkan KPK. Saya heran, apakah mereka tidak sadar bahwa korupsi adalah penyalahgunaan kepercayaan publik untuk menyenangkan kepentingan pribadinya?. Antara lain, sebagai elite politik melalaikan tugas dan tanpa hak menggunakan kekuasaan, agar bisa memperoleh keuntungan pribadi. Hal yang mencengangkan, koruptor yang ditangkap KPK, dikenal sebagai orang yang berilmu tinggi, memiliki tingkat pengetahuan dan agamanya pun tinggi. Nah, Anas dan Emil, adalah cawagub generasi milenial yang berpendidikan tinggi S-2 sampai Doktor lulusan Jepang, mampukah saat terpilih nanti membangun spirit antikorupsi? Dua cawagub ini, menurut laporan ke KPK, terdiri bupati yang dari segi kemapanan sudah lebih dari cukup. Mampukah Anas dan Emil, saat kampanye mengeluarkan tema-tema jihatnya cawagub muda melawan korupsi? Saya berharap baik Anas maupun Emil, tidak terjangkiti berperilaku korup. Keduanya membawa atau mewakili atribut generasi milenial, yang menurut William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya “Millennials Rising: The Next Great Generation” (2000), digambarkan sebagai generasi yang peduli dengan masalah – masalah kemasyarakatan. Generasi yang peduli dengan masalah kemasyarakatan, saya optimis, penyelenggara Negara yang memiliki spirit antikorupsi, dibanding generasi sebelumnya. Dari meja kerja saya semalam setelah mengetahui Setnov kecelakaan menuju kantor KPK, saya berpikir, saat kampanye nanti, baik Anas maupun Emil (bila jadi dideklarasikan menjadi Cawagub Khofifah) ada baiknya bekerja sama dengan Gerakan pemuda dan Perempuan Anti Korupsi. Terutama kepada pegawai negeri sipil usia muda dan istri pejabat penyelenggara Negara dari tingkat provinsi hingga kelurahan se Jatim. Elite Politik Pilgub Jatim 2018, Menurut hukum di Indonesia, penjelasan rinci mengenai korupsi diatur dalam tiga belas pasal UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 21 Tahun 2001. Dalam undang-undang ini ditemukan tiga puluh jenis golongan tindakan korupsi. Diantara yang popular adalah kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, bantuan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi (pemberian hadiah). Syed Hussein Alatas dalam The Sociology of Corruption (1980) menyebut ciri-ciri korupsi : (a) Suatu pengkhianatan terhadap kepercayaan; (b) Penipuan terhadap badan pemerintah, lembaga swasta atau masyarakat umumnya; (c) Dengan sengaja melalaikan kepentingan umum untuk kepentingan khusus; (d) Dilakukan dengan rahasia kecuali dalam keadaan dimana orang-orang yang berkuasa atau bawahannya menganggapnya tidak perlu; (e) Melibatkan lebih dari satu orang atau pihak; (f) Adanya kewajiban dan keuntungan bersama dalam bentuk uang atau yang lain; (g) Terpusatnya kegiatan korupsi pada mereka yang menghendaki keputusan yang pasti dan mereka yang dapat mempengaruhinya; (h) Adanya usaha untuk menutupi perbuatan korup dalam bentuk-bentuk pengesahan hukum dan (i) Menunjukkan fungsi ganda yang kontradiktif pada mereka yang melakukan korupsi. Dalam pikiran saya, Anas dan Emil, sebagai generasi milenial layak. Tapi melihat realita di masyarakat, urusan melawan korupsi bukan urusan gampang. Maklum, korupsi sudah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat. Salah satunya, Anas maupun Emil, harus mampu melawan Gus Ipul dan Khofifah yang adalah lebih senior. Salah satu spirit antikorupsinya adalah Anas dan Emil, harus mampu melawan dirinya untuk tidak ikut serta menikmati harta hasil korupsi. Salah satunya, baik Anas maupun Emil, berani membangun semangat nasionalisme bela Negara melawan korupsi. Nasionalisme ini bagian dari nasionalisme mengisi kemerdekaan yakni mengawal ancaman penyalahgunaan kewenangan oleh penyelenggara Negara. Pemahaman yang perlu disosialisasikan bahwa nasionalisme bela Negara bukan untuk perang secara militer, tetapi perang melawan hawa nafsu, melawan keserakahan. Apalagi, kini mulai ada spirit bahwa era sekarang disebut sebagai zaman now (sebutan generasi milenial) atau kebangkitan anak-anak muda di berbagai bidang, terutama di industri kreatif dan teknologi. Saya senang bila di Jawa Timur, saat kampanye Pilgub 2018 nanti, Anas – Emil, sebagai anak zaman now yang meneruskan dan merintis jalan politik sebagai politikus generasi milenial penggiat antikorupsi. Paling tidak membangun spirit menumbuhkan gerakan antikorupsi. Minimal tidak pernah surut. (tatangistiawan@gmail.com)

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru