SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Gagasan tentang gagalnya partai politik, saat ini mulai marak diperbincangkan di kalangan akademisi. Salah satu pemicunya adalah terlalu bergantungnya partai politik kepada Kyai atau Tokoh Masyarakat lain dalam menentukan Calon Kepala Daerah dalam kaitan Pilkada Serentak.
Menurut Direktur Surabaya Survey Centre Mochtar W. Oetomo, hal tersebut salah satunya disebabkan dari praktik kapitalisasi yang sudah mencemari praktik politik. Sehingga, partai politik tidak lagi berfungsi sebagai mana mestinya.
"Ketika terjadi kapitalisasi politik ini berbahaya. Karena nilai tukar partai politik lebih penting daripada nilai guna. Bukan lagi pada fungsi utamanya," jelas Mochtar.
Menurut Mochtar, saat ini parpol sering kali hanya menjadi alat tukar bagi kepentingan material dan juga struktural. "Memberi manfaat bagi publik adalah urusan yang ke sekian bagi parpol," katanya.
Lebih lanjut, Direktur Surabaya Survey Centre tersebut mengatakan bahwa partai politik seharusnya memiliki beberapa fungsi khusus bagi masyarakat. Utamanya adalah sebagai institusi pendidikan politik bagi masyarakat tentang proses politik, sosialisasi ,dan komunikasi politik dengan publik berkaitan dengan ideologi, visi dan program parpol tersebut.
"Kedua, medium aspirasi publik. Yakni menghimpun, mengelola dan mendistribusikan aspirasi publik ke pihak terkait sehubungan dengan kepentingan yang dibawa oleh publik. Ketiga, sarana partisipasi politik publik. Yakni menjadi medium atau kendaraan bagi publik untuk aktualisasi politiknya baik secara vertikal maupun horizontal," jelas Mochtar.
Di sisi lain, menurut pakar politik asal Unair Suko Widodo, partai politik seharusnya memiliki peran dan kontrol mutlak terkait proses politik seperti Pilkada. Ia menegaskan bahwa parpol tidak boleh kalah dalam hal nilai tawar dengan elemen masyarakat lainnya dalam hal praktik politik.
"Perkara politik, seharusnya tugas utama dari partai politik. Bukan justru diserahkan dan didominasi oleh para Kyai seperti yang tengah terjadi saat ini. Fenomena sekarang, ini bisa dibilang sebagai bentuk gagal totalnya partai politik dalam melakukan tugasnya," kata Sukowi, sapaan akrab Suko Widodo.
Lebih lanjut, menurut Suko, Kyai ataupun Tokoh Masyarakat lain sepatutnya menjadi faktor penentu dalam praktik politik. "Karena kalau diteruskan, masyarakat lah yang akan menjadi korban pada akhirnya. Bisa-bisa masyarakat ini diibaratkan pelanduk yang mati di tengah-tengah pertarungan antar gajah," tegasnya. ifw
Editor : Redaksi