Dari tak Dikenal hingga Menghasilkan Transaksi Pul

Melihat dari Dekat Market Intelligent Jatim di Batam

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Batam - Terik mentari tepat diujung Kepala, sesampainya kami di kantor Perwakilan Dagang Jatim kompleks pertokoan Grand Niaga Mas Blok A No 151 Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Dua orang, menyambut hangat dan mempersilahkan masuk. "Saya Masni Penanggung Jawab kantor (KPD Batam) dan saya Toni Rahaju Toto staf ahli KPD Batam," kata keduanya dengan senum ramah. KPD Batam bukan yang pertama mengawali konsep atase perdagangan yang digagas Pakde Karwo, sapaan Gubernur Soekarwo - KPD ini didirikan tahun 2012, dan mulai beroperasi pada 2013. Setahun pendirian KPD bukan waktu yang mudah, meski telah dilakukan Nota Kesepahaman/ Memorandum of Understanding (MoU ) antara Pemprov Jawa Timur Soekarwo dengan Pemprov Kepulauan Riau. Selama setahun itu pula, KPD Jatim bergerak dari satu Kabupaten dan Kota untuk menjalin kerja sama. "Sejak awal pendirian, KPD Jatim telah disosialisasikan pada Kabupaten/kota, namun itu masih belum cukup, untuk bisa memperoleh perhatian pelaku bisnis, kami tetap bekerja ekstra," ujar Toni Rahaju Toto. Tugas utama KPD Jatim di Batam adalah promosi produk unggulan Jatim, melakukan temu bisnis dan transaksi dagang, support value chain komoditi dalam negeri, business aggregator, dan market intelligent. Pelan tapi pasti, pada 2013 saja KPD Batam sudah melakukan lima kali fasilitasi. Hasilnya cukup menggembirakan, Produk-produk Jawa Timur banyak diminati dan sudah banyak beredar di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) khususnya Batam. Yang paling banyak didatangkan dari Jatim adalah cabe merah keriting, cabe hijau keriting, cabe rawit dan bawang merah. Komoditas itu per triwulan diatas rata-rata 300 ton atau senilai diatas Rp 10 miliar, dikirim melalui bandara Hang Nadim Batam. “Permintaan cukup besar tapi kendalanya pada transportasi,” kata Masni Rabu (6/12). Bahkan pada tahun 2016 dilakukan 10 misi dagang yang bertujuan mempertemukan produsen dengan buyer secara langsung di beberapa daerah di antaranya Kepulauan Riau dengan nilai transaksi Rp 51,5 miliar. Komoditi yang dibawa Jatim di antaranya beras, pupuk, buah dan sayur, bibit, produk olahan makanan dan minuman (mamin), mesin, produk kerajinan. Memang hampir seluruh kebutuhan rumah tangga dari Jatim masuk ke Kepri khususnya Batam. Tapi ada empat produk unggulan yang dipasok dari Jatim dengan nilai diatas rata-rata Rp 10 miliar. Yakni Cabe merah keriting dengan tonase 350 ton senilai Rp 11 Miliar, Cabe hijau keriting dengan tonase 400 ton senilai Rp 13.5 Miliar, Cabe rawit dengan tonase 350 ton senilai Rp 11 Miliar dan Bawang merah 300 ton senilai Rp 10 Miliar. Empat komoditi itu mengalami peningkatan sejak triwulan I hingga Triwulan III atau akhir September 2017. Sedangkan barang-barang dari Kepri khususnya Batam yang dikirim ke Jatim diantaranya Tas Produksi Luar Negeri pada per triwulan sebanyak 108.000 pcs atau senilai Rp 2.5 Miliar. Juga Arang Kelapa/Copra tonase 600 ton senilai Rp 500 juta, Rumput laut tonase 300 ton senilai Rp 400 juta, dan parfum senilai Rp 900 juta. Produk luar negeri di Batam memang lumayan banyak karena barang masuk Luar Negeri ke Batam bebas pajak. "Itu merupakan perlakuan khusus untuk otoritas Batam dari Pemerintah Indonesia," pungkasnya. arf

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru