SurabayaPagi, Surabaya - Perekonomian Jawa Timur membuka tahun 2026 dengan kinerja impresif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi ini mencapai 5,96 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan I 2026, melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 5,1 persen, sekaligus menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa. Secara triwulanan (q-to-q), ekonomi Jawa Timur juga tumbuh 1,25 persen.
Capaian ini mempertegas posisi Jawa Timur sebagai salah satu motor utama ekonomi nasional, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 14,5 persen terbesar kedua setelah DKI Jakarta.
Struktur ekonomi Jawa Timur masih didominasi industri pengolahan dengan kontribusi lebih dari 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), diikuti sektor perdagangan besar dan eceran serta pertanian.
Di tengah tren positif tersebut, aktivitas sektor riil terus didorong melalui berbagai agenda perdagangan. Salah satunya melalui rangkaian pameran dagang Business-to-Business (B2B) bertaraf internasional yang digelar Krista Exhibitions Group di Surabaya sepanjang Juni hingga Juli 2026.
Rangkaian ini dibuka dengan EastFood Indonesia Expo (IIFEX) 2026 pada 18–21 Juni di Grand City Convention Hall Surabaya.
Pameran sektor makanan dan minuman terbesar di Jawa Timur ini menghadirkan lebih dari 180 peserta dari dalam dan luar negeri, serta melibatkan sedikitnya 30 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sektor makanan dan minuman sendiri merupakan salah satu tulang punggung industri pengolahan nasional, dengan kontribusi lebih dari 35 persen terhadap industri pengolahan nonmigas.
Di Jawa Timur, sektor ini juga menjadi kontributor utama ekspor daerah, dengan nilai ekspor produk makanan olahan dan hasil agroindustri yang terus meningkat setiap tahunnya.
Tidak berhenti di sektor pangan, Krista Exhibitions juga akan menggelar ALLPACK Surabaya 2026 (EastPack Surabaya) dan East Beauty Pack Expo 2026 pada 1–4 Juli 2026.
Kedua pameran ini menghadirkan lebih dari 90 peserta, termasuk 10 UMKM, yang bergerak di bidang pengemasan, plastik, serta industri kecantikan—sektor yang berperan penting dalam rantai nilai industri manufaktur dan konsumsi domestik.
Chief Executive Officer Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menyatakan bahwa tren partisipasi industri dalam rangkaian pameran tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan.
“Pameran ini bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga menjadi platform transaksi bisnis dan investasi. Kami menargetkan terciptanya kerja sama konkret yang dapat memperluas pasar dan meningkatkan daya saing industri nasional,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan pameran berskala internasional ini diproyeksikan menciptakan efek berganda (multiplier effect), mulai dari peningkatan nilai transaksi perdagangan, pembukaan peluang investasi baru, hingga pergerakan sektor pendukung seperti perhotelan, transportasi, dan logistik.
Pada penyelenggaraan sebelumnya, pameran serupa mampu menarik puluhan ribu pengunjung dan mencatat potensi transaksi hingga ratusan miliar rupiah.
Selain transaksi bisnis, pameran ini juga memperkuat akses pasar melalui program Business Matching dan Hosted Buyer Program yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra dari dalam dan luar negeri.
Skema ini dinilai efektif dalam mendorong ekspor, khususnya bagi UMKM yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses jaringan global.
Aspek peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian melalui berbagai program edukatif seperti Cooking & Baking Demo yang menghadirkan chef profesional dan brand ternama, serta kompetisi Bakat Boga Challenge 2026.
Ajang ini menjadi ruang lahirnya inovasi produk kuliner yang berpotensi dikembangkan menjadi komoditas bernilai tambah tinggi.
Rangkaian pameran Krista Exhibitions selanjutnya akan berlanjut ke Bali melalui Bali Interfood 2026 pada September, dan mencapai puncaknya di Jakarta melalui Krista Interfood 2026 pada November mendatang.
Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid, struktur industri yang kuat, serta dukungan agenda perdagangan internasional, Jawa Timur dinilai berada pada jalur strategis untuk memperkuat perannya sebagai hub industri, perdagangan, dan ekspor di kawasan timur Indonesia.
Editor : Redaksi