SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Poros Tengah yang digagas Partai Gerindra untuk bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018, benar-benar di ujung tanduk. Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang semula bakal berkoalisi dengan partai bentukan Prabowo Subianto, ternyata memilih jalan lain. PAN memutuskan mendukung duet Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, sedang PKS merapat ke pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Azwar Anas. Ini berarti Pilgub Jatim yang digelar 27 Juni 2018 itu hanya akan diikuti dua Calon Gubernur (Cagub). Bahkan, perang kedua paslon ini sudah dimulai. Tak hanya perang baliho, tapi tim sukses atau tim pemenangan Khofifah maupun Gus Ipul mulai bergerak ke daerah-daerah di Jatim.
---------------
Laporan : Ibnu F Wibowo – Riko Abdiono, Editor : Ali Mahfud
---------------
Kepastian PAN mendukung Khofifah sebagai Cagub pada Pilgub Jatim 2018, dinyatakan langsung oleh Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Bahkan ia menegaskan keputusan mendukung Menteri Sosial (Mensos) itu sudah final."(Pilgub) Jatim sudah dekat sekali. Itu sudah tahu jawabannya (Khofifah)," tandas Zulkifli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/12/2017).
Namun mantan Menteri Kehutanan di era SBY ini enggan menjelaskan gamblang pertimbangan PAN merapat ke Khofifah. Ia hanya menegaskan keputusan diambil berdasarkan hitung-hitungan politik. "Kalau politik kan take and give. Misalnya kalau Dardak (Bupati Trenggalek Emil Dardak) bisa, nantinya siapa yang ditunjuk bergabung dengan PAN, nah kira-kira begitu," jelas Ketua MPR itu.
Dukungan PAN (7 kursi) ini kian memperkuat barisan pasangan Khofifah-Emil Dardak. Sebelumnya, pasangan ini sudah mendapat dukungan dari Partai Demokrat (13 kursi), Partai Golkar (11 kursi) dan Partai Hanura (2 kursi). Bahkan, Partai NasDem (4 kursi) hampir pasti mendukung Khofifah. Sedangkan PPP (5 kursi) belum memutuskan, namun cenderung mengusung Khofifah-Emil Dardak. Jika tidak ada perubahan, total dukungan parpol ini 42 kursi di DPRD Jatim.
Sedang Gus Ipul-Azwar Anas sudah didukung PDIP (20 kursi), PKB (19 kursi), dan PKS (6 kursi). Totalnya 45 kursi. Lalu bagaimana dengan Gerindra? Keputusan akan diambil setidaknya dalam dua pekan mendatang, lantaran masih mencari mitra koalisi untuk membentuk Poros Tengah. Namun karena Gerindra hanya memiliki 13 kursi, maka harus mencari parpol lain untuk memenuhi syarat minimal 20 kursi, agar bisa mengusung Cagub sendiri. Mengingat PAN sudah merapat ke Khofifah dan PKS berlabuh ke Gus Ipul, nasib Poros Tengah di atas kertas sudah habis. Benarkah?
Posisi Gerindra
Menanggapi peta politik itu, pengamat politik asal Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo berpendapat dua paslon yang memiliki kemungkinan tinggi bakal head to head tersebut punya keunggulan masing-masing. Hal tersebut menurutnya dapat menjadi senjata kuat bagi keduanya. "Gus Ipul-Anas misalnya, meskipun koalisi mereka ini ramping, tapi kekuatan massa militan yang dimiliki cukup besar. Terlebih lagi bila akhirnya PKS bergabung. Tapi, di sisi lain, pasangan Khofifah-Emil ini memiliki keunggulan di bidang penguasaan wilayah. Pemilihan sosok Emil ini mampu menjadikan pasangan tersebut mempunyai keunggulan awal di wilayah Mataraman dan sekitarnya," papar Suko dihubungi Surabaya pagi, kemarin.
Akan tetapi, menurut Suko, kedua paslon tersebut juga memiliki lubang-lubang kekurangan yang harus segera ditambal. "Kalau Gus Ipul-Anas, mereka perlu untuk segera mengamankan wilayah-wilayah lain di luar wilayah Tapal Kuda yang nampaknya menjadi basis kekuatan mereka. Sementara, pasangan Khofifah-Emil ini perlu untuk segera menyelesaikan konflik yang terjadi di internal antar partai koalisinya. Seperti Golkar yang tengah gonjang-ganjing. Karena itu akan dapat sangat mengganggu. Besarnya jumlah partai dalam gerbong koalisi juga perlu untuk segera menemukan visi yang sama. Itu untuk menghindari konflik kepentingan antar partai disana," jelasnya.
Lebih lanjut, doktor lulusan Unair tersebut juga menegaskan ada satu hal yang menjadi kunci jika Pilgub Jatim kelak hanya diikuti dua paslon. Kunci tersebut menurutnya, keputusan final dari Partai Gerindra. "Bandul saat ini berada di Gerindra. Apabila PAN dan PKS lebih memilih jalan mereka sendiri, tentunya suara Gerindra yang 13 persen ini menjadi sangat penting. Bagaimana nanti arah bandul Gerindra ini mengarah ketika keputusan final dikeluarkan, maka itu akan sangat menentukan kemenangan pada Pilgub Jatim 2018," tegas Suko.
Golput Berpotensi Tinggi
Secara terpisah, pakar antropologi politik asal Unair Linggar Rama Dian Putra justru menganggap bahwa Pilgub Jatim 2018 yang kemungkinan besar hanya diikuti oleh dua paslon akan menjadi ancaman bagi demokrasi. Pasalnya, Cagub dari kedua paslon tersebut sama-sama berasal dari kalangan NU.
"Ini berarti, akan ada suara-suara yang tidak terakomodir. Suara dari mereka yang bukan NU, atau mereka yang NU tapi tidak terafiliasi politik dengan keduanya ini justru akan tidak terwadahi. Itu secara umum bisa dianggap bahwa Jatim ini hanya milik NU. Itu proses demokrasi yang tidak sehat," kata Linggar, sapaan akrabnya.
Dampak dari hal tersebut, menurut Linggar secara umum bisa bergulir ke beberapa hal. "Tapi yang paling utama ini adalah bisa melonjaknya angka golput. Tingginya golput ini berbahaya dan perlu disikapi serius. Karena salah satu indikasi dari tingginya angka golput adalah karena masyarakat menganggap bahwa proses pemilu tidak memiliki dampak apa-apa. Tidak ada efek atau hasil positif yang mereka rasakan. Padahal, dalam demokrasi itu antara negara dan rakyatnya harus menjadi partner. Hubungan partner itu hubungan dua arah yang sama-sama menguntungkan. Ini menjadi PR besar, bukan hanya bagi penyelenggara negara, tapi juga bagi parpol agar mereka bisa mewujudkan bukti nyata dari demokrasi kepada masyarakat," jelasnya.
Instruksi Demokrat
Sementara itu, Partai Demokrat Jawa Timur akan membekali kader dan pengurus di DPC kabupaten//kota agar memenangkan pasangan Khofifah Indar Parawansa Emil Elistianto Dardak dalam Pilgub Jatim 2018. "Kita turun ke daerah di setiap kabupaten/kota salah satu materinya adalah bagaimana memenangkan kandidat yang diusung partai di 2018," kata Kuswanto, Wakil Ketua DPD Demokrat Jawa Timur 2018 pada Senin (11/12/2017).
Dia berharap, para pengurus dan kader bisa mensosialisasikan pasangan Khofifah-Emil kepada tetangga dan lingkungan sekitarnya. "Dengan satu instruksi agar kader mensosialisasikan kepada keluarga dan tetangganya," tambahnya.
Menurut dia, partainya mengusung Khofifah-Emil karena dinilai bisa meneruskan kepemimpinan Soekarwo sebagai gubernur 2019-2024.
"Kami anggap Khofifah bisa meneruskan kepemimpinan Pakde Karwo," kata mantan Anggota DPRD Jatim ini. "Kita sudah sepakat bahwa rekomendasi yang kita berikan kepada calon kemenangan harus dimenangkan bersama sama Partai Demokrat akan melakukan upaya maksimal," ungkapnya.
Mega Turun Gunung
Di lain pihak, Tim Pemenangan Gus Ipul-Anas terus melakukan konsolidasi. Seperti terlihat di kantor DPD PDIP Jatim, Rabu (11/12) malam. Sekretaris DPD PDIP Jatim Sri Untari mengungkapkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan turun langsung menjadi juru kampanye (jurkam) bagi pasangan Gus Ipul-Anas. Bukan hanya Megawati, bahkan Sekjen dan Wasekjen DPP PDIP Hasto Kristyanto dan Ahmad Basarah juga akan turun gunung untuk menjadi amunisi tambahan.
"Jatim merupakan daerah yang sangat penting bagi PDIP. Sehingga, kami akan berupaya semaksimal mungkin bisa memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) di provinsi ini," kata Untari usai rapat konsolidasi.
"Jatim provinsi yang sangat besar. Ada 40 juta jiwa yang hidup di sini dan mereka mengharapkan kesejahteraan. Jatim juga tempat lahir Bung Karno dan juga KH Hasyim Asyari (pendiri NU, red). Kerajaan terbesar di nusantara (Majapahit) juga ada di Jatim," lanjutnya.
Lebih lanjut, Untari juga membeberkan bahwa jadwal kampanye Megawati kelak akan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Sedangkan Hasto Kristyanto akan secara khusus ditugaskan untuk berkampanye di wilayah Tapal Kuda. "Nanti Ahmad Basarah juga akan menggarap wilayah Mataraman. Selain itu pentolan partai dan sejumlah kader PDIP yang ada di pemerintahan juga diproyeksikan bisa ikut turun lapangan untuk menjadi jurkam. Diantaranya Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung," beber Untari.
Untari juga menambahkan bahwa DPD PDIP Jawa Timur juga telah mempersiapkan beberapa posko kemenangan bagi pasangan Gus Ipul-Anas. "Untuk posko pemenangan sudah kami siapkan. Nantinya, posko pemenangan yang sekaligus posko gotong royong ini ada di kantor DPD dan DPC-DPC. Rata-rata kantor kami luas-luas," pungkas wanita yang juga Sekretaris Tim Pemenangan Pasangan Gus Ipul-Anas tersebut. n
Editor : Redaksi