SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Pertarungan dahsyat bakal terjadi antara pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dengan duet Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Abdullah Azwar Anas, di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018. Prediksi itu didasarkan dari hasil survei terbaru yang dipaparkan Rabu (12/12/2017). Berdasarkan hasil survei itu, dua pasangan ini bakal habis-habisan di wilayah Pandalungan atau Tapal Kuda. Padahal wilayah ini seharusnya menjadi basis massa pasangan yang diusung PDIP dan PKB tersebut. Bagaimana di wilayah lain?
Survey yang dilakukan Surabaya Survey Centre (SSC) di 38 Kab/Kota di Jawa Timur pada kurun waktu 25 November-8 Desember 2017 tersebut menunjukkan, kedua pasangan calon (paslon) itu sama-sama mengantongi 33 persen suara dengan jumlah undecided voters untuk wilayah Tapal Kuda mencapai 34 persen. Sedang di Madura yang notabene menjadi titik lemah bagi Khofifah pada Pilgub sebelumnya, pada hasil riset itu justru menunjukkan sebaliknya. Di wilayah Madura, Khofifah-Emil lebih unggul dengan 35 persen. Sementara, Gus Ipul-Anas hanya 31,3 persen saja.
Akan tetapi, di wilayah Arek, Gus Ipul-Anas memimpin dengan perolehan 43,5 persen, sedangkan Khofifah-Emil hanya mendapatkan 31,2 persen. Begitu juga yang terjadi di wilayah Pantura Barat. Gus Ipul-Anas unggul 39,2 persen, Khofifah-Emil hanya mengantongi 32,5 persen.
Bagaimana dengan Mataraman yang bisa dibilang menjadi kandang Emil Dardak? Di wilayah tersebut, Khofifah-Emil melesat di angka 38 persen dan meninggalkan Gus Ipul-Anas yang hanya 31,6 persen.
Survey yang dihasilkan oleh SSC tersebut dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan 940 responden. Tingkat kepercayaan dari hasil yang didapat itu 95 persen dengan margin of error 3,2 persen.
Terkait fenomena sebaran peta dukungan wilayah tersebut, Direktur SSC Mochtar W. Oetomo memandang hal itu dapat dengan mudah dipahami. "Untuk wilayah Madura misalnya, kan sudah sering disebut bahwa program Khofifah sebagai Mensos saat ini sudah sangat sering diarahkan ke wilayah Madura pada khususnya. Terus kemudian, kapan hari juga ada dukungan 1000 Kyai di Madura kepada KIP untuk Jokowi. Kyai tersebut merupakan kyai yang memiliki pengaruh dan basis suara di Madura. Jadi wajar apabila fakta berkata demikian," jelas Mochtar kepada wartawan, kemarin.
Terkait imbangnya perolehan di Tapal Kuda, menurut Mochtar, sedari dulu Khofifah sudah memiliki basis massa di daerah itu. Pandalungan atau Tapal Kuda, sejak era Pilgub sebelumnya sudah menjadi titik utama dari Menteri Sosial tersebut. "Pada Pilgub 2008 lalu KIP Effect dimulai di Banyuwangi. Justru keberadaan Anas lah yang saat ini membantu GI untuk menjadi lebih kuat di sana. Di sisi lain, apabila dibiarkan dan tidak digarap dengan serius, maka dukungan untuk GI-Anas disana akan sedikit terancam," jelas Mochtar.
Bahan Koreksi
Dimintai pendapatnya, pengamat politik asal Unitomo Budi Wiyoto memandang data yang diperoleh di wilayah Mataraman tersebut seharusnya menjadi bahan koreksi mendalam bagi Gus Ipul-Anas. Dengan status kandang yang mereka miliki di area tersebut, seharusnya pasangan yang diusung koalisi PKB-PDIP tersebut mampu melesat meninggalkan lawan mereka.
“Karena, kalau di Mataraman, Khofifah-Emil unggul. Itu wajar, karena status Emil yang merupakan Bupati Trenggalek menjadi area tersebut menjadi kandang dia. Kalau di Pandalungan, seharusnya ini Gus Ipul-Anas mampu memimpin ini menjadi PR besar bagi tim sukses mereka. Kalau tidak, mungkin Jatim di masa mendatang tidak akan menjadi era Gus Ipul,” kata Budi.
Pria yang juga dosen Fakultas Ilmu Administrasi(FIA) Unitomo itu menekankan bahwa, kecermatan dari tim sukses pasangan Gus Ipul-Anas di wilayah Pandalungan akan benar-benar diuji. “Sebab, history Pilgub Jatim edisi lalu juga wilayah Pandalungan itu merupakan basisnya Khofifah. Jadi, kalau misalkan ingin menang baik di Pandalungan maupun di Jatim kelak, maka tim dari Gus Ipul-Anas memerlukan kerja yang tidak mudah,” tegasnya.
Strategi PDIP
Sementara itu, Sekretaris DPD PDIP Jatim Sri Untari menganggap hasil survey terkait sebaran peta dukungan wilayah tersebut tidak menjadi kekhawatiran bagi partainya. Menurut Untari, hal itu terjadi karena di sisi lain masyarakat Jatim banyak yang masih belum paham bahwa di tahun depan akan ada Pilgub Jatim.
"Kan dari hasil survey yang tadi juga begitu kan(43.4 persen responden masih belum mengetahui bahwa pesta demokrasi untuk memilih pemimpin baru bagi Jatim bakal diselenggarakan). Nah, siapa tahu dari jumlah segitu itu, ada orang-orang kita di dalamnya," kata Untari.
Lebih lanjut, Untari menjelaskan partainya akan menerapkan beberapa langkah strategis untuk meningkatkan elektabilitas Gus Ipul-Anas di titik-titik lemah keduanya. "Tentunya, kami juga akan gencarkan sosialisasi ya. Beberapa media sosialisasi juga sudah kita rancang. Bukan hanya dengan baliho atau reklame saja. Karena sosialisasi visual ini penting, maka kami akan juga melakukan sosialisasi dengan tatap muka langsung," tegas Untari. n ifw
Editor : Redaksi