Konflik NU di Pilgub, Blok Tebu Ireng vs Blok Genggong

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Duel klasik Pilgub Jatim antara Nahdlatul Ulama (NU) kubu Khofifah Indar Parawansa dan kubu Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bakal berlangsung sengit. Peta pertarungan antara Blok Tebu Ireng (Jombang) yang digawangi KH Salahudin Wahid (Gus Sholah) dan Blok Genggong (Probolinggo) yang dimotori KH Mutawakil Alallah (Ketua PWNU Jatim), menimbulkan potensi konflik di Jatim. Ini patut diwaspadai semua pihak, terutama aparat keamanan. Jika melihat peta dukungan antara Khofifah dan Gus Ipul dari sisi kultur NU terlihat sama-sama kuat. Gus Ipul didukung oleh kyai-kyai seperti KH Anwar Iskandar (PP Al Amin Kediri) dan KH Miftachul Akhyar (PP Miftahul Jannah Surabaya), KH Zainuddin Jazuli (PP Al Falah Ploso Mojo Kediri), KH Anwar Mashur (PP Lirboyo Kediri), KH Nawawi Abdul Djalil (PP Sidogiri Pasuruan), KH Agus Ali Masyhuri (PP Bumi Sholawat Lebo Sidoarjo), KH Mutawakkil Alallah (PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo), KH Kholil As'ad Syamsul Arifin (PP Walisongo Situbondo), KH Idris Hamid (PP Salafiyah Syafiiyah Pasuruan), KH Ubaidillah Faqih (PP Langitan Lamongan), KH KH Mujib Imron (PP Al Yasini Areng-areng Pasuruan), serta KH Fakhri Aschal (PP Saychona Cholil Bangkalan). Sedangkan, dari kubu Khofifah ada nama-nama KH Solahudin Wahid (PP Tebu Ireng Jombang), KH Asep Saifudin Chalim (PP Amanatul Ummah Surabaya-Mojokerto), KH Mas Mansur (PP At Tauhid Sidoresmo Surabaya), KH Suyuti Toha (PP Mansyaul Huda, Banyuwangi), KH Hisyam Syafaat (PP Darussalam Banyuwangi), KH Afifudin Muhajir dari Situbondo; KH Mahfud dari Gresik, KH Yazid Karimulloh dari Jember. Ditambah Bu Nyai Hajjah Lily Wahid (adik Gus Dur) dan KH Ahmad Muzakki Syah (PP Al Qodiri Jember) serta ulama lainnya. Pakar Politik dari Universitas Airlangga (Unair), Rachmah Ida mengatakan, warga Nahdliyin akan terbelah dalam Pilgub Jatim 2018. Ini jika dilihat dari peta wilayah dukungan Saifullah Yusuf yang berpasangan dengan Azwar Anas yang sama-sama punya basis dari NU yang kuat di daerah Tapal Kuda (Pasuruan hingga Banyuwangi). “Keduanya (Gus Ipul-Anas) saya kira akan menggunakan upaya untuk menarik basis massa lebih mudah dari kawan-kawan nahdliyin. Bahkan, potensial number pemilih perempuan NU di majelis ibu ibu pengajian itu dominan digunakan,” terang Ida, Kamis (14/12/2017). Begitu juga dengan peta pendukung Khofifah Indar Parawansa ketua PP Muslimat NU. “Bu Khofifah sendiri, dalam dua kali maju pilgub, lebih banyak menggunakan suara dari Muslimat dan Fatayat sebagai medium space untuk kampanye,” kata Ida. Hingga saat ini, apa yang dilakukan Khofifah belum maksimal. Meskipun dari berbagai survei menyebutkan Khofifah sudah bersaing ketat dengan suara Gus Ipul. Ini karena Khofifah belum maksimal dalam kampanye/sosialisasi. “Misalnya Tapal Kuda kan dikuasai Gus Ipul-Anas. Maka kesempatan untuk bisa masuk di kawasan Trenggalek, Ponorogo, Pacitan itu mungkin dijadikan strategi penguat pasangan Khofifah-Emil Dardak,” ungkapnya. Lanjut Ida, Khofifah yang maju atas niatan dan dorongan dari elit politik yang menginginkan Jatim seimbang. Maka kekuatan politik ini menjadi salah satu determinan faktor pilgub di Jatim. “Dukungan dari tingkat umat dan kyai NU. Sudah terlihat apakah akan ada konflik atau riak-riak politik. Kita belum melihat, misalnya adanya ‘keberpihakan oleh kyai-kyai NU’ tadi. Tetapi gerakan yang dilakukan terus menerus sejak keduanya maju sudah mulai terlihat,” paparnya. Apakah Potensi konflik ini ada atau tidak? Ida mengatakan dilihat dari kultur yang sama-sama NU, maka hal itu cukup berpotensi. “(Konflik) Itu pasti ada, saya melihat potensi itu,” prediksinya. Bahwa suara NU ini akan terpecah itu memang belum terlihat. Tapi sampai detik ini, pengamat sepakat, sementara Gus Ipul punya kans lebih besar. Tapi belum diketahui, apakah nanti Khofifah ketika sangat gencar melakukan kampanye dan sosialisasi komunikasi politik mendekati Januari-Juni 2018, bisa saja berubah. “Belum lagi kalau nanti Khofifah mengundurkan diri dari Menteri, tentu akan sangat intensif lagi untuk menyapa masyarakat jawa timur. Maka bisa saja suara bu Khofifah akan naik,” jelasnya. Ditambahkan Ida, dukungan Cak Imin (Ketua Umum DPP PKB), yang minta Khofifah tidak maju adalah tanda-tanda munculnya konflik di internal NU sebagai basis PKB. “Inilah yang disebut silent conflict. Keduanya (Khofifah dan Gus Ipul) sangat hati-hati untuk melakukan statement. PKB sendiri, melakukan pelarangan itu, saya yakin bu Khofifah akan tersenyum saja. Karena bagi bu Khofifah tidak menjadi persoalan apabila PKB tidak mendukung,” terangnya lagi. Kampanye Hitam Sementara itu, Ketua PBNU KH Robikin Emhas langsung menepis prediksi pakar politik Unair itu. “Saya kira tidak ada konlik. Karena warga NU itu sangat berupaya menghindari konflik,” sanggah Robikin. NU di Jatim, kata Robikin menggunakan prinsip Islam moderat yang mengajarkan kehidupan harmoni atau rukun. “Bahwa ada kompetisi itu iya. Tapi ada rule, pesan NU, kedepankan aspek kebersamaan dalam politik,” jelasnya. Robikin berpendapat, konflik itu bisa dicegah dengan tidak melakukan kampanye hitam antar calon di Jatim yang sama-sama dari NU. “Jangan ada black campaign. Kalau negative campaign orang atau pengamat masih membolehkan. Tapi hoax jangan, apalagi menggunakan isu sara. Kyai-kyai di Jatim dan warga NU sangat paham sehingga kita tidak mengkhawatirkan apa-apa,” papar orang dekat Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj ini. Namun ia memastikan lembaga NU mulai tingkat pusat, provinsi sampai ranting itu netral. Pilihan diserahkan kepada masing-masing individu ulama kyai dan warga NU. “NU membuka diri komunikasi dengan siapapun, dan partai politik, calon minta doa restu selalu kita beri doa restu,” tutup alumnus Pondok Pesantren Qiyamul Manar Gresik dan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang ini. n rko

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru