SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Tokoh agama, atau dalam kaitan Agama Islam akrab disebut Kyai, ternyata masih menjadi dasar pilihan bagi sebagian besar masyarakat Jawa Timur untuk mengambil pilihan pada Pilgub Jatim 2018. Hal tersebut dibuktikan oleh hasil survei yang dirilis oleh Surabaya Survey Centre(SSC).
Meskipun berada di posisi kedua pada hasil survei, posisi Kyai sebagai dasar pilihan masih menjadi opsi utama bagi 21.4 responden. Opsi tersebut hanya dikalahkan oleh “atas dasar keyakinan sendiri” yang dipilih oleh 31.8 persen responden.
Dari penelitian yang telah dilakukan, posisi rekomendasi dari tokoh politik dan tokoh terpelajar seperti dosen ataupun guru juga masih kalah pamor dibandingkan rekomendasi dari para Kyai. Secara berturut-turut, hanya 16.8 persen dan 6.8 persen responden yang menganggap kedua elemen masyarakat tersebut menjadi dasar dari pilihan mereka.
Data-data tersebut diatas diperoleh melalui survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Centre di 38 Kab/Kota di Jawa Timur pada kurun waktu 25 November-8 Desember 2017. Survei tersebut dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan 940 responden. Tingkat kepercayaan dari hasil tersebut sebesar 95 persen dengan margin of error 3.2 persen
Fenomena tersebut, menurut Dekan Fisip Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam, merupakan hal yang tidak begitu mengherankan. Secara kultural, masyarakat di Jatim yang mayoritas nahdliyin dan tinggal di pedesaan akan cenderung kultur tawadhu dan tabik kepada para Kyai.
“Karena para Kyai ini adalah jangkar budaya dan peradaban masyarakat lokal. Selama ini Beliau lah yang menuntun laku, gerak batin, dan dhohir dari masyarakat. Sebelumnya, para Kyai melakukan itu semua tanpa tendensi apapun. Itu yang membuat kuasa Beliau menjadi abadi dan membumi di Jawa Timur. Apabila sekarang terjadi pergeseran, nah itu yang harus disesalkan,” kata Rokim.
Potensi adanya pergeseran tersebut, menurut pria yang juga pakar komunikasi politik tersebut, menjadikan keterlibatan para Kyai dalam praktik politik harus dibaca secara hati-hati. “Kalau yang sepanjang saya tahu, Kyai khos sesungguhnya akan sangat berhati-hati dan tidak vulgar dalam memberikan dukungan politik. Sayangnya, saat ini kita mengalami defisit Kyai yang mampu berfungsi seperti sebagaimana mestinya itu,” jelasnya.
Sehingga, Rokim berharap agar para Kyai sekali lagi mampu kembali kepada khittah mereka sebagai jangkar budaya masyarakat. Para Kyai, sebagai junjungan ummat juga harus senantiasa berhati-hati apabila melibatkan diri dalam urusan politik.
“Jadi, seharusnya, para Kyai ini baru ambil sikap ketika situasi sudah sangat berbahaya dan genting. Bisa dibilang saat ini saya gagal paham. Kini banyak Kyai yang terlibat dukung mendukung secara vulgar dalam politik. itu, sekali lagi, akan terus menggerus marwah dan kehormatan dari para Kyai di hadapan publik,” pungkas Rokim. ifw
Editor : Redaksi