GUS IPUL PAKAI BUZZER?

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Jakarta- Informasi yang didapat Surabaya Pagi dari sumber yang tidak ingin disebut namanya menyebutkan, saat ini pasangan Gus Ipul-Anas sudah melakukan pendekatan kepada tim-tim buzzer di sosial media. Tim-tim tersebut biasanya bekerja untuk menggiring opini secara khusus demi kepentingan client mereka. Laporan:Ibnu F Wibowo "Sudah ada komunikasi. Tapi, informasi terakhir mereka ini belum deal. Entah karena budget atau konten. Tapi yang jelas sudah ada komunikasi yang sangat intensif dari tim GI-Anas," kata pria yang pernah menjadi pengembang di Google Indonesia tersebut. Ketika diminta untuk menjelaskan lebih terperinci, sumber tersebut mengatakan bahwa kemungkinan besar yang tengah terjadi adalah belum ada kesepahaman terkait biaya antara tim buzzer sosial media dengan tim Gus Ipul-Anas. "Karena, kalau dari konten kok kayaknya kemungkinan kecil. Jarang ada ketidaksepakatan soal konten. Pasti soal biaya yang tawar menawar," jelasnya. Lebih lanjut, sumber yang sama juga menjelaskan bahwa biaya buzzer politik tidak bisa dibilang murah. "Bisa jutaan untuk per postingan. Biaya di skala ratusan juta, bahkan miliar rupiah hal yang wajar. Sosial media sekarang ini berpengaruh sekali," ungkapnya. "Tapi yang perlu ditekankan disini, tim buzzer sosial media yang menjadi kolega saya ini bekerja dengan etika. Mereka bukan yang ala-ala Saracen. Client dengan misi black campaign akan mereka tolak. Karena mereka ini juga konsultan media," lanjut sumber tersebut. Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Pemenangan Koalisi PKB-PDIP Hikmah Bafaqih mengaku belum pernah mendengar hal tersebut. "Saya pribadi tidak pernah tahu ya. Kembali lagi, itu bisa dari relawan yang sudah lebih dulu bergerak. Bisa juga dari lembaga think tank yang ada di masing-masing partai," ujarnya. Selain itu, Hikmah juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan memantau seluruh relawan yang bekerja demi Gus Ipul-Anas agar tidak menggunakan tim buzzer sosial media setipe dengan Saracen. Ia berjanji bakal memaksimalkan upaya pengawasan agar hal tersebut tidak terjadi. "Para relawan ini bekerja tanpa dibayar, kami tentunya sangat berterima kasih. Tapi kami juga akan mengedukasi mereka agar berkampanye dengan sehat. Apabila terlanjur menggunakan buzzer ala Saracen, tentunya kami akan mengedepankan komunikasi dengan mereka. Kami pun tentunya akan dengan rendah diri untuk meminta maaf kepada kawan kompetisi kami apabila itu terjadi," tegas Hikmah. "Kami juga memastikan bahwa tim inti dari masing-masing partai pengusung Gus Ipul dan Mas Anas tidak akan menggunakan pola seperti Saracen. Kami akan mengedepankan kampanye santun. Karena memperkenalkan seorang Pemimpin tidak boleh dengan cara yang tidak beretika," lanjutnya. Pengaruh Kuat Hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Centre (SSC) memang menunjukkan bahwa kini media sosial dipandang oleh publik sebagai penentu pilihan yang akan mereka ambil kelak. Sebanyak 31.9 persen responden menganggap bahwa kini media sosial cukup berpengaruh dalam pilihan yang mereka ambil. Sementara, 13.6 persen lainnya justru menganggap media sosial menjadi sangat berpengaruh bagi diri mereka. Media sosial seperti apa yang sering mereka akses? 71.6 persen responden sepakat bahwa aplikasi whatsapp saat ini merupakan jenis media sosial yang paling sering mereka akses menurut mereka. Secara berturut-turut Facebook dan youtube berada di posisi kedua dan ketiga dengan perolehan 67.8 serta 61.9 persen. Kondisi demikian, menurut Direktur SSC Mochtar W Oetomo Pilgub Jatim 2018 menyimpan potensi kegaduhan di dunia medsos. "Bisa dibayangkan jika mayoritas publik menggunakan akun medsosnya untuk mendukung atau mengampanyekan salah satu calon. Akan ada kegaduhan di medsos berkaitan dengan Pilgub Jatim. Dikawatirkan jika para user ini akan menjelma menjadi buzzer partikelir untuk kepentingan paslon yang didukungnya. Fenomena seperti Pilgub Jakarta yang penuh dengan pertentangan diametral bisa saja terjadi di Jatim." ungkapnya. Menurut pria yang juga pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura tersebut, suhu politik Jatim sudah mulai menghangat dengan pemberitaan kontestasi Pilkada di berbagai media massa. Sementara, media sosial menjadi platform baru sekaligus primadona menyampaikan informasi. "Kekhawatiran terbesarnya adalah penggunaan media ini baik oleh buzzer profesional maupun buzzer partikelir dapat menimbulkan kegaduhan politik, mempertajam kebencian antar kubu dan pada akhirnya memperbesar konflik dan perpecahan. Masyarakat Jatim yang selama ini guyup dan harmonis terancam terpolarisasi seperti Pilgub Jakarta jika fenomena ini tidak mendapatkan perhatian antisipatif yang memadai dari seluruh stakeholders, "pungkas alumni Universiti Sains Malaysia ini.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru