LEADERSHIP AWARD

surabayapagi.com
PERHELATAN Pilgub Jatim 2018 semakin seru dan politik menunjukkan kelasnya tentang kapasitas seorang tokoh untuk meraih tiket berlaga. Semarak dan menegangkan, itulah kesan awal mengenai agenda demokrasi yang sedang menggeliat mencari sosok pilihan rakyat. Di bilik suasana publik yang hanyut pesimis mengenai hadirnya pemimpin yang berkesejatian mengabdi sambil mengikuti acara-acara kenegaraan maupun menyimak bencana yang terus “terundi” di lahan Ibu Pertiwi, ada pekabaran prestasi yang apik. Leadership Awards dan Innovative Government Award (IGA) yang mengatributi pemimpin daerah terbaik dalam berkinerja bagi rakyatnya. Pakde Karwo, Gubernur Jatim melenggang tampil sebagai pemimpin daerah terbaik di Republik ini. Selama ini kepemimpinan dan inovasi Pakde Karwo disorot on the track. Di samping pertumbuhan ekonomi yang inklusif, kesejahteraan yang meningkat, secara administratif-organisatoris birokrasi terbukti pula melalui capaian pembangunan dan pemerintahan dengan mendapatkan ratusan penghargaan, yang terbaru adalah Leadership Award dan Innovative Government Award 2017. Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo di Puri Agung Convention Hall, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada Senin 18 Desember 2017. Secara khusus Leadership Award merupakan wujud apresiasi terbaik yang diberikan pemerintah pusat kepada para kepala daerah yang telah berdedikasi memajukan daerahnya sesuai dengan harapan masyarakat. Begitu diwartakan banyak media. Inovasi dan leadership yang hebat juga lahir di Kabupaten/Kota Jatim. Anugrah Leadership Award untuk bupati/walikota diraih Surabaya, Banyuwangi, serta Lamongan. Khusus untuk Innovative Government Award 2017 tersematkan di Kota Surabaya dan kategori kabupaten diraih Bupati Gresik. Penghargaan ini pada jenjang urusan berikutnya juga dicapai Kota Probolinggo, Kabupaten Malang dan Kabupaten Madiun. Semua ini memberikan optimisme hadirnya kepemimpinan dan inovasi pemerintahan terutama di Jatim. Khusus untuk kategori Innovative Government Award 2017 yang dimenangkan Gresik untuk tingkatan kabupaten tentu sangat mengembangkan senyum terindahnya Bupati Gresik yang beberapa waktu lalu “disapa” koran ini dengan pemberitaan “penuh tanya”. Prestasi dan inovasi penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan Gresik sejatinya menimbulkan detak kagum beberapa akademisi dari Malaysia yang turut hadir dalam agenda Pengabdian Masyarakat Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga pada 14 Desember 2017. Berbagai inovasi layanan dan pembaruan pembahasan APBD ditayangkan Bupati dengan “gas pol” dan semangat membuncah di hadapan banyak pihak, khususnya puluhan civitas akademika Malaysia yang dikomandani para seniornya, Guru Besarnya. Bahkan jalinan silaturahmi akademik ini akan dikembangkan bersama Pemda Gresik secara internasional di tahun 2018. Bulan Juli 2018 diancang-ancang menjadi hari-hari yang bagi saya sendiri terasa “kurang sabar menanti” untuk segera terealisir. Apa yang dilakukan Pakde Karwo dan Walikota serta Bupati berprestasi di Jawa Timur ini sungguh mengikuti kata iklan: memberi PHP, pemberi harapan pasti. Inilah hasil dari titik simpul hubungan relasional antara demokrasi, birokrasi, dan rakyat dalam bincangan administrative reform. Para kepala daerah “pemenang kinerja” niscaya telah membuktikan bekerja fokus pada tupoksinya tanpa larut hingar-bingar politik pilkada. Mereka tetap tersadar sebagaimana ungkapan sufistik Jan-Fishan: Kau bisa mengikuti suatu arus Pastikan bahwa arus itu menuju Samudera Tetapi jangan kacaukan arus dengan Samudera Dengan penghargaan kepemimpinan dan inovasi itu bagai saya dapat terkonstruksi segi tiga pertautan antara demokrasi, birokrasi, dan rakyat secara monumental, yang terbaca dalam sistem semesta. Demokrasi merupakan “matahari” yang memancarkan sinarnya untuk dituang dalam wadah birokrasi yang laksana “rembulan” untuk dipantulkan kembali guna menerangi rakyat sebagai “bumi”. Tentu saja bumi (“rakyat”) harus diolah (bukan dijarah) dengan kelembutan rembulan (“birokrasi”) yang bertugas memantulkan tanpa henti cahaya matahari (“demokrasi”), dengan tetap memperhatikan garis edar tata surya yang bertaburan bintang-bintang (sebagai pemandu) yang berupa norma-norma bernegara. Hubungan cahaya mencahayai atau pantul memantulkan energi matahari ke rembulan menuju bumi harus dibaca secara siklikal, dan bukan vertikal maupun horizontal agar tidak terjadi penggerhanaan yang dapat menimbulkan keriuhan rakyat. Disinilah sejatinya tertambat bahwa rakyat yang menyediakan kesuburan bumi (daulatnya) sudah seyogianya ditata kelola (“good governance”) rembulan birokrasi yang mendapatkan percikan cahaya (kuasa) melalui mekanisme demokrasi (pencahayaan matahari). Meski dalam skala relativisme dapat dikatakan bahwa rakyat sejatinya adalah sumber dari segala sumber kuasa birokrasi yang mentrasformasikan daulatnya melalui “madrasah” demokrasi. Spektrum fundamental ini membawa serta kepada ruang bahwa rakyat adalah Sang Daulat yang semestinya mendapatkan pelayanan terbaik dari para birokrat yang sekadar menerima limpahan welas asihnya rakyat dengan jalan demokrasi. Apa yang dilakukan penerima Leadersip Award dan IGA adalah sepernafasan kehendak membangun birokrasi melayani dalam kerangka besar administrative reform yang diperhelatkan di Jawa Timur. Hal itu merupakan penanda kesadaran untuk selalu ingat pada asal usul kuasanya, sumber daulatnya. Ibarat air yang mengalir di sungai pada lanjutan kisahnya harus tetap berlabuh di muara luas yang bernama lautan. Itulah kontrak teologis nan asali dan yuridis-ekologis antara birokrasi dalam naungan makna demokrasi untuk memuarakan pelayanan kepada sumbernya: rakyat. Terhadap hal ini kami teringat ungkapan puitis yang dilansir Proklamator Republik Indonesia, Dr (HC). Ir. Soekarno: Door de zee op te zoeken, Is de rivier trouw aan haar bron. Dengan mengalirnya ke lautan, Sungai setia kepada sumbernya. Sang pemimpin dan inovator top-markotop itu mengingatkan kembali semangat kesetiaan pada sumber kuasa birokrasi yang mendaulatkan rakyat dengan melakukan administrative reform melayani sepenuh hati dan berinovasi tanpa henti. Saya menyaksikan bahwa kepemimpinan mereka telah memberikan daya juang pelaksanaan urusan pemerintahan yang dibangun secara demokratis dan mengedepankan fungsi sebagai pelayan rakyat yang baik (”good-services”). Dalam lingkup inilah terbaca kuat tekad melakukan administrative reform agar seluruh jajaran birokrasi pemerintahan mampu menjadi pelayan rakyat yang terbaik. Rajutan tekad demikian ini membutuhkan perhatian serius dari seluruh stakeholders untuk bersumbangsih atas upaya para kepala daerah melakukan reformasi administratif dalam tataran birokrasi pemerintahan. Itulah komitmen yang telah dipersembahkan mereka semua melalui persembahan kinerja sebagai wujud menjunjung tinggi mandat demokrasi yang penuh amanat. Bukankah kita semua ingat semboyan kerakyatan Pakde Karwo dalam memimpin Jawa Timur, yaitu: Wong Cilik Melu Gemuyu. Konstalasi ini menyorong terwujudnya manajemen kehidupan pemerintahan yang baik pada dimensi good governance maupun good corporate governance. Dengan niatan inilah sebagai akademisi saya tuliskan kontemplasi ini sebagai apresiasi atas apa yang telah dikerjakan penerima Leadership Award dan IGA Award Tahun 2017. Catatan ini pun diharapkan menjadi kepedulian birokratik yang berbasis kematangan akademik dengan dimensi sosio-budaya untuk peningkatan kinerja pemerintahan dalam panduan norma kenegaraan. Kinerja birokrasi di Jatim mutlak terus ditingkatkan dengan memobilisasi seluruh jiwa raga bagi kebaikan negeri ini. Apa yang telah dilakukan dan diraih pemimpin daerah ini dapat dijadikan kaca pelihat di samping kaca benggala yang memantulkan kekuatan baru berkelanjutan dalam melakukan inovasi pelayanan yang penuh dedikasi. Memang penghargaan tersebut bukan untuk dipamerkan melainkan untuk dijadikan ukuran, benchmark - milestone untuk terus-menerus tanpa jengah dan lelah memberikan pelayanan publik yang terbaik guna mencapai kesejahteraan rakyat. Kalaulah ini yang telah dan hendak terus dilakonkan oleh penggendong Leadership Award dan IGA Award Tahun 2017, maka rakyat sebagaimana dipermenungkan oleh Pangeran Diponegoro dengan keteduhan hatinya: “mereka ungkapkan hormat dengan segala yang mereka punya”. Adalah keterpanggilan mandat demokrasi bagi perjalanan berikutnya, untuk memberi yang “mereka punya” dengan melakukan padatan-padatan kreasi demi terwujudnya birokrasi yang menyelam dalam kolam “amanat penderitaan rakyat”. Ungkapan saya ini semakna sebagai bingkai mozaik jiwa-jiwa pepohonan yang harus berbuah. Diungkapkan oleh Syeikh Musliuddin Sa’di Shirazi dalam karya sastranya Bustan: Setiap orang yang tidak memiliki kenangan yang ditinggalkan Pohon keberadaannya tidak akan menghasilkan buah ... Dan setiap orang mendapatkan apa yang dulu ia semaikan Dalam kesempatan ini para pemanggul Leadership Award dan IGA Award Tahun 2017 sejujurnya tengah menghentak kosmologi birokrasi dengan kelembutan yang menyegarkan ingatan dan pengabdian untuk membangun kesadaran baru, guna meneguhkan relasi pangku-memangku maupun mayu-mamayu hayuning praja antara pemimpin dengan rakyatnya. Pilkada Tahun 2018 harus mampu melahirkan lebih banyak lagi pemimpin terbaik yang kreatif-inovatif dan nyenengke rakyat. Ingat kata melahirkan berarti rakyat diseyogiakan menjadi “ibu peradaban” yang terhormat dan kita wajib memperlakukannya dengan harkat serta martabat. SELAMAT HARI IBU 2017.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru