SURABAYAPAGI.COM, Kediri - Berbagai upaya dilakukan semua pihak dalam menekan timbulan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Klotok Kota Kediri. Salah satunya perwakilan rakyat dari Fraksi Demokrat DPRD Kota Kediri saat melakukan rapat kerja bersama dins terkait di ruangan Komisi C DPRD Kota Kediri.
Anggota Komisi C DPRD Kota Kediri, Ashari mengatakan, permasalahan sampah saat ini menjadi perhatian serius bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Menurutnya, penanganan masalah sampah harus dilakukan mulai dari hulu sampai hilir.
Ia mengaku, masyarakat dan dunia usaha sebagai penghasil sampah harus didorong untuk membudayakan pemilahan sampah organik dan unorganik. Hal ini jangan hanya sekedar dilakukan sesaat tetapi harus dipastikan berjalan terus menerus dan berkesinambungan.
"Untuk mengurangi sampah saat ini, pemerintah sebagai fasilitator harus mampu menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan," ujar pria yang juga anggota Fraksi Demokrat DPRD Kota Kediri, Rabu (5/2/2020).
Dalam kasus ini Fraksi Demokrat DPRD Kota Kediri menawarkan skema penanganan sampah secara paripurna. Hal ini diawalai dengan memberikan reward dan punishman kepada masyarakat yang mau mengikuti pemilahan sampah dirumah masing-masing.
"Kita ingin ada reward disini. Reward itu dalam bentuk pengambilan sampah gratis terhadap sampah yang sudah dipilah dan punishman-nya tidak dilakukan pengambilan sampah bagi yang belum melakukan pemilahan," imbuh Ashari.
Selain itu, untuk mengurangi sampah rumah tangga yang ada di lingkungan masyarakat bisa menyiasati dengan memberikan honor bagi tenaga pengambil sampah. "Tukang gerobak sampah yang sudah biasa bekerja dilingkungan masing masing bisa diberikan honor yang diambilkan dari APBD, dan itu bisa melalui usulan prodamas disetiap kelurahan. Tenaga pengambil sampah biasanya dibiayai oleh masyarakat secara swadaya, artinya masyarakat sudah tidak perlu mengeluarkan anggaran pribadinya untuk itu. Inilah bentuk nyata dari reward kepada masyarakat," tegas pria berpawakan besar ini.
Selanjutnya sampah terpilah yang sudah dikumpulkan dari rumah tangga ataupun dunia usaha itu dikirim ke TPST yang ada disetiap kelurahan. Ia juga berharap kedepan setiap kelurahan wajib memiliki TPST sendiri. "Apabila ada kelurahan yang belum memiliki TPST bisa menggunakan sebagian tanah aset milik pemkot untuk dibangun TPST dan anggarannya bisa dialokasikan dari prodamas. Untuk sampah organik yg sudah tidak memiliki nilai ekonomis langsung dikirim ke TPA Klotok. Sedangkan sampah unorganik yang masih memiliki nilai ekonomis dikumpulkan di TPST sekaligus menjadi bank sampah kelurahan untuk memproses sampah tersebut menjadi pendapatan guna pengelolaan sampah di TPST tersebut," jelasnya.
Dengan sejumlah usulan ini nantinya diharapkan sampah yang dikirim ke TPA adalah residu yang sama sekali tidak memiliki nilai ekonomi. Sehingga di hilir ini lah perlakuan pengelolaan sampah itu akan sesuai dengan harapan yaitu sampah organik akan diolah menjadi kompos. Can
Editor : Redaksi