Harga Bahan Baku Melonjak, Produksi Permen Jahe di Jombang Terancam

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.COM, Jombang - Permen jahe tentunya kita pernah tahu, bahkan mungkin pernah memakannya. Permen legendaris, bisa dikatakan begitu, karena tergolong permen yang beredar sudah puluhan tahun. Permen yang berbungkus putih kombinasi merah, dengan gambar jahe ini memiliki rasa manis dan pedas. Permen tradisional itu diproduksi di Dusun Bandung Krajan, Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Namun sungguh disayangkan, keberlangsungan produksi permen yang sudah ada sejak belasan tahun ini, produksinya mulai terancam. Pasalnya, harga bahan baku utama permen terus melonjak. Bahan utama permen jahe yaitu gula pasir dan jahe emprit terus mengalami kenaikan. Sehingga pembuat permen itu tak berkutik. Dari sekian banyaknya pembuat permen jahe, hanya satu yang masih bertahan. Sholikin (59), warga Dusun Bandung Krajan, hingga saat ini masih bertahan memproduksi permen jahe, meski dengan kondisi terseok-seok. Menurutnya, pembuat atau produsen permen jahe di dusunnya mencapai 25 orang. "Itu belum termasuk tenaga yang membantu dalam membungkus permen. Biasanya melibatkan tetangga sekitar untuk membantunya," ujarnya, saat ditemui jurnalis di rumahnya, Sabtu (11/4/2020). Sholikin menjelaskan, setiap harinya dapat memproduksi permen ting-ting jahe dengan bahan utama jahe emprit, gula pasir dan tepung tapioka. Hal itu berbanding dengan jumlah asongan yang mencapai belasan orang "kulak" permen darinya untuk dijual di bus-bus. "Memang kebanyakan penjualannya dibawa oleh tenaga asongan. Dulu ada 15-an orang yang bawa. Kalau sekarang yang rutin tinggal dua orang yang ambil permen," jelasnya. Sholikin menerangkan, dengan kondisi saat ini dengan adanya wabah Covid-19, membuat harga jahe melonjak tajam, termasuk juga gula pasir. "Omzetnya sekarang menurun sekitar 80 persen. Apalagi harga gula mahal. Kalau dulu sekali bikin, bisa menghabiskan bahan baku 50 kilogram. Sekarang tinggal sekitar 13 kilogram," terangnya. Untuk harga jahe emprit, papar Sholikin, sekarang mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan saat normal seperrti kemarin paling mahal hanya Rp 20 ribu per kilogramnya. Untuk menyiasati agar bisa tetap survive, Sholikin mengakui telah menaikkan harga jual permen. Namun agar permen buatannya tetap laku, ia menaikkan harga permen tidak terlalu tinggi. "Dulu harga permen Rp 22 ribu per kilogramnya, sekarang naik menjadi Rp 24 ribu per kilogram. Jadi hanya naik Rp 2.000. Sekarang dalam satu bulan saya hanya mengolah permen jahe tidak lebih dari empat kali," akunya. Untuk ukuran permen Sholikin menegaskan, jika ia tidak memperkecil ukurannya. Karena permen itu jualnya per kilogram, sedangkan tenaga pembungkus hitungannya per biji. "Saya berharap suatu saat nanti harga bahan baku dapat turun. Dan jumlah produksi kembali normal seperti dulu kala. Saat ini kami hanya bertahan," tegas kakek dari enam orang cucu tersebut. Untuk proses pembuatannya, Sholikin menggunakan cara tradisional. Bahan yang digunakan menggunakan jahe khusus, yakni jahe emprit saja. "Jahe emprit cenderung lebih pedas kuat. Cocok buat permen," cetusnya. Pertama-tama, Sholikin menyiapkan bahan tepung tapioka, jahe emprit dan gula pasir. Perbandingannya, 13 kilogram gula dipadukan dengan jahe satu kilogram, dan tepung 5 kilogram agar permen menjadi kenyal. Setelah siap, gula dan tepung bersama satu liter air direbus hingga adonan mengental. Setelah mengental, jahe yang sudah dihaluskan dimasukkan jadi satu hingga adonan benar-benar tercampur dan matang. Selang satu jam proses perebusan, adonan diangkat dan dituang ke dalam beberapa loyang. Lalu dibiarkan hingga benar-benar dingin. Setelah dingin, lantas dipotong kecil-kecil. "Dalam pembungkusan permen jahenya menggunakan dua lapis bungkus, yakni dengan plastik bening kemudian ditutup lagi dengan kertas kecil," terangnya. Setelah itu dilanjutkan dengan memilah dalam kemasan kiloan dengan plastik besar, atau dengan kemasan sachet berisi 5 butir permen. "Kalau yang bungkus plastik isi 5 permen ini harganya Rp 1.400," pungkasnya.(suf)

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru