SURABAYAPAGI, Pasuruan- Dugaan praktek pungutan liar berkedok sumbangan sukarela terjadi di sekolah menengah pertama (SMP) Negri 1 Gempol, Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan.
Pungutan ini banyak dikeluhkan oleh para orang tua siswa. Pasalnya tidak ada bukti yang menunjukan bahwa pungutan tersebut didapat dari hasil musyawarah atau dilegalkan atas kesepakatan bersama komite dan wali murid yang bisa dijadikan dasar hukum oleh pihak sekolah dalam pemungutan dana tersebut.
Baca juga: SMPN 1 Sukorejo Kabupaten Pasuruan Peringati Hari Ibu
Saat dikonfirnasi, pihak sekolah membantah melakukan pungutan dengan menunjukkan bukti-bukti pernyataan wali murid yang tidak mampu. Kasus ini bermula ketika ada pengumuman sistim zonasi, banyak siswa di luar area zonasi yang tidak diterima, berusaha melobi pihak panitia penerimaan murid baru, dengan syarat, pihak wali murid menyumbangkan sejumlah uang untuk pembangunan sarana sekolah.
Namun apa yang disanggahkan pihak sekolah melalui kepala Sekolah SMPN 1 Gempol berbeda terbalik dengan temuan wartawan di lapangan. Menurut salah satu orang tua siswa yang tidak ingin disebutkan identitasnya, betul disekolah ada pungutan untuk anak siswa baru yang mau diterima lewat "jalur belakang" dengan menemui pihak panitia penerimaan siswa baru.
"Tapi dengan syarat mau membantu sejumlah uang, alasannya untuk pembangunan sarana belajar siswa," kata sang orang tua wali murid.
Baca juga: SMPN 8 Kota Pasuruan Layani Pengambilan Raport Drive Thru
"Terus terang saya merasa keberatan dengan pungutan sebesar itu apalagi kondisi pandemik kayak begini, cari uang sangat sulit sekali, tapi apa mau dikata,” ungkapnya lagi dengan nada kesal.
Lebih lanjut dirinya menambahkan, karena terpaksa, akhirnya dia bayar. "Intinya saya selaku orang tua siswa mau gak mau, tapi terpaksa harus bayar," keluhnya.
Saat wartawan mencoba mendatangi pihak sekolah Jumat (10/7/2020) untuk menanyakan perihal ada dugaan tersebut terhadap pihak sekolah, Kepala SMPN 1 Gempol dengan tegas membantah.
Ia mengatakan, bahkan SMPN 1 Gempol punya program peduli terhadap siswa siswi tidak mampu. Kepala Sekolah sanggup menjemput bola ke rumah siswa-siswa yang tidak mampu untuk membantu mengisi jatah kursi yang belum terisi.
"Saya selaku Kepala Sekolah punya tanggung jawab terhadap seluruh kondisi sarana sekolah, yang secara manusiawi tidak ingin murid saya ditumpuk kayak pindang di ruang UKS. Maka dari itu saya harus punya inisiatif bagaimana memperbaiki semua itu. Kalaupun ada orang tua siswa yang mampu menyumbang untuk sekolah ya kita terima," tutur Kepala SMPN 1 Gempol yang sebentar lagi akan pensiun.hm
Editor : Aril Darullah