SURABAYAPAGI, Surabaya - Komputer sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk mendukung pendidikan saat ini.
Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Herlina Harsono Njoto melakukan peninjauan langsung proses Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) sekolah dasar (SD) digelar serentak Senin (15/11) kemarin.
Baca juga: Demokrat Jatim Gelar Bukber dan Santuni Anak Yatim, Kader Diingatkan Tetap Dekat dengan Rakyat
Politisi Demokrat ini menemukan sekolah negeri yang masih kekurangan sarana komputer, sehingga beberapa siswa yang mengikuti ANBK juga terpaksa menggunakan laptop.
Menurut Herlina problem itu seharusnya tidak terjadi, apalagi anggaran Pendidikan Surabaya yang sudah digedog pada 10 November lalu mencapai anggaran senilai Rp 2 triliun lebih.
Maka dari itu meminta Kepala Sekolah segera mengajukan pengadaan perlengkapan komputer itu. “Urusan komputer dan internet di sekolah ini sangat vital. Selain untuk ANBK, kegiatan pembelajaran tatap muka juga belum 100 persen,” ungkap Herlina, Selasa (16/11).
Baca juga: Viral Truk Bawa Sampah Berserakan, DLH Surabaya: Armada Pengangkut Wajib Tertutup dan Laik Jalan
ANBK adalah penilaian yang dilakukan di setiap jenjang sekolah, mulai dari SD,SMP, SMA/SMK dan sederajat. Berbeda dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang dilaksanakan di semester genap, ANBK digelar di akhir tahun dengan peserta kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA.
Hasilnya tidak menentukan kelulusan siswa dan siswa yang diasesmen juga bersifat acak. Meski begitu, Herlina ingin agar semua sekolah di Surabaya bisa menggelar ANBK tanpa kendala teknis. “Kalau komputernya ditambah, yang ikut bisa lebih banyak. Tidak dipisah lima orang seperti ini,” terangnya.
Baca juga: Antisipasi Banjir saat Lebaran, DPRD Minta Pemkot Audit Rumah Pompa
“Kalau internetnya bagaimana bu?” tanya Herlina kepada Plt. Kepala SDN Menur Pumpungan Fatmawati " kecepatan internet sekolah relatif masih kurang. Mereka baru berlangganan internet sebesar 50 Mbps," jawabnya.
Fatmawati mengatakan kegiatan yang baru kali pertama digelar di ruang inklusi ini sebanyak lima siswa sudah mempersiapkan diri di ruang inklusi. Meja mereka ditata dengan jarak satu setengah meter. “Ada 30 murid yang ikut . Dibagi lima anak per sesi,” terangnya. Alq
Editor : Mariana Setiawati