SURABAYA PAGI.COM, Mojokerto - Motif batik Suko Projo Sawiji menjadi satu dari sekian motif batik asli Kabupaten Mojokerto yang telah dipatenkan.
Motif yang terinspirasi dari Ratu Tribuwana Tunggadewi ini tercatat di Hak Atas Kekayaan Intelektual Indonesia (HAKI) atas nama Lina Destiana Pratiwi (40), pengrajin batik tulis 'Rasu'an Lampahan' asal Desa/Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.
Kepada Surabaya Pagi, wanita yang akrab disapa Lina ini mengaku difasilitasi oleh Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto dalam mempatenkan corak batik kreasinya.
"Motif batik Suko Projo Sawiji baru saja dipatenkan dan nanti akan dipakai perdana oleh Camat Sooko saat pagelaran busana Maja Fest 2022," terangnya.
Ia menyebut, motif batik ini memiliki nilai sejarah tinggi. Karena idenya berasal dari petilasan watu ombo atau biasa disebut petilasan tribuana tunggadewi yang berada di Desa Klinterejo Kecamatan sooko Kabupaten Mojokerto.
"Karena ratu tribuana adalah ratu penakluk nusantara, maka filosofinya mengandung makna kejayaan serta kemakmuran. Dan motifnya perpaduan antara relif watu ombo dan relif patung tribuana yang kita samarkan bentuknya," tegasnya.
Disinggung soal harga, Lina menyebut tergantung jenis pesanannya. Kalau sudah di desain dalam bentuk busana lengkap beserta alas kakinya maka harganya bisa mencapai Rp 6 juta.
"Karena ini adalah batik tulis dan memakai pewarnaan alam maka harganya sedikit mahal, apalagi kalau sudah di desain menjadi baju," ungkapnya.
Masih kata Lina, sanggar batik miliknya ini selain meladeni pesanan batik khas Mojokerto juga melayani pelatihan pembuatan batik tulis. Biasanya yang datang ke sanggar miliknya adalah para pelajar dan komunitas ibu-ibu yang peduli terhadap warisan peninggalan nusantara.
"Dulu sebelum pandemi, banyak yang datang ke sanggar sekedar untuk melihat bagaimana proses membatik dan berlatih membuat batik tulis. Tapi saat pandemi sudah tidak ada lagi," keluhnya.
Pun demikian dengan produk batik yang dibuatnya, penjualannya juga menurun drastis saat pandemi. Sehingga itu mempengaruhi penurunan omzetnya hingga 50 persen.
"Sebelum pandemi omzet perbulan bisa mencapai 10 hingga 20 juta, kalau saat pandemi merosot tajam jauh dibawah angka itu," keluhnya.
Untuk itu, saat pandemi sudah terkendali, ia berharap agar Pemkab Mojokerto banyak menggelar festival atau pameran yang mengangkat promosi UMKM Kabupaten Mojokerto.
Ini untuk memberi angin segar kepada pelaku ekonomi kreatif (ekraf) seperti dirinya agar tetap survive menjalankan usahanya.
"Harapan saya ada pagelaran fashion show untuk batik khas Kabupaten Mojokerto. Karena promo tersebut lebih mengangkat penjualannya dibanding hanya pameran kain batik saja," pungkasnya.
Sementra itu, Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati mengatakan dalam mengenbangkan produk batik di Kabupaten Mojokerto, Ia menginginkan, bahwa di Kabupaten Mojokerto ini mempunyai produk batik yang ramah lingkungan.
"Saya tidak ingin pewarna pada barang-barang yang kita hasilkan justru menurunkan kualitas lingkungan hidup, saya ingin menegaskan batik Mojokerto berbahan dasar warna alam dan bermotif majapahitan," ujarnya. Dwi
Editor : Redaksi