SURABAYAPAGI, Surabaya - Secara simbolik formalistik sesungguhnya sosok pasangan calon presiden dan wakilnya dari kalangan nasionalis dan religius masih memiliki peluang besar pada Pemilihan Presiden 2024.
Setidaknya tercermin dari institusi parpol yang ada sekarang bisa kita petakan pada dua kelompok yakni partai nasionalis dan religius yang membawa simbol keagamaan.
Baca juga: Pengamat Politik: Masih Saktikah Jokowi
Hanya saja, dalam praktik, perjuangan politiknya sudah mencair dan hampir sama, tanpa memperlihatkan identitas yang kuat. Sekarang ini, ideologi parpol dianggap sudah jauh bergeser ke pragmatis elektoral.
Sementara di sisi lain, cukup disayangkan karena peminat capres dari parpol yang garis ideologi perjuangannya oleh publik diragukan.
Hal lain yang juga perlu dicermati, materi kampanye sekarang yang begitu mudah mendikotomikan seseorang dalam kelompok politik identitas dan pluralis.
Baca juga: Pengamat Politik Nilai Jokowi Lakukan Gertakan Politik
Dalam hal ini, seolah-olah kaum religius akan ditarik masuk ramah politik identitas dan nasionalis adalah pluralis. Kondisi ini sesungguhnya adalah cara berpikir yang berbahaya dan bisa menyesatkan masyarakat.
Seolah-olah orang religius itu tidak toleran. Padahal, sejatinya seseorang semakin religius, maka semakin toleran.
Fenomena lainnya, para elite secara sadar sengaja memelihara isu nasionalis religius saat Pemilu, semata-mata untuk elektoral.
Baca juga: Mantan Cawapres PDIP Ajak, Semuanya Terima Hasil Pilpres 2024
Padahal, rekrutmen kandidat capres oleh partai harus dipertanggungjawabkan kepada publik, karena standar integritas nya, kapasitasnya dan bukan karena ada jaminan sokongan pemodal.
(Lewat keterangannya di Makassar yang dikutip dari laman Republika.co.id, Rabu (26 Oktober 2022).
Editor : Mariana Setiawati